Hari Keduapuluh Sembilan: Surat Yang Tak Dibaca
Seorang Ustadz bersama murid-muridnya di sebuah pesantren. Pesantren itu selalu menjadi buah bibir baik oleh mereka yang suka maupun tidak suka. Ustadz tersebut selalu mengajarkan sunnah Rasulullah, dan hal itu sedikit berbeda dengan adat istiadat setempat.
Tidak heran, banyak celaan, hinaan, bahkan ancaman yang ditujukan pada pesantren itu. Para murid selalu terbakar oleh penghinaan tersebut, namun herannya ustadz mereka sama sekali tidak terpengaruh. Ia tetap bermasyarakat sebagaimana biasanya. Di masjid, di pondok, di warung, di pasar dan di mana saja ia selalu mendengarkan semua penghinaan itu. Dan Ustadz itu sama sekali tidak pernah membalas penghinaan-penghinaan itu.
Karena sudah tidak tahan, para murid menghadap Ustadz, “ Wahai Ustadz, biarkan kami membalas semua penghinaan ini.”
Ustadz itu tersenyum, “Wahai anak-anakku. Bagaimana pendapat kalian jika ada seseorang yang berkirim surat padamu, lalu engkau sama sekali tidak membacanya. Engkau tidak akan terpengaruh isinya bukan? Atau jika ada seseorang yang menyuguhkan makanan beracun padamu dan engkau tidak memakannya. Apakah kira-kira engkau akan keracunan?”
“Tenangkan hatimu, wahai anak-anakku. Sesungguhnya mereka juga saudaramu, hanya saja mereka belum mengerti. Yang harus kalian lakukan adalah memberi penjelasan kepada mereka. Insya Allah lama-lama mereka mengerti.”
Saudaraku, mudah-mudahan kisah di atas bisa menjadi penyegar diri kita pada saat kita mendapat tantangan dalam berdakwah. Jalan dakwah bukanlah jalan yang lurus dan menurun, akan tetapi jalan yang berat dan mendaki. Akan tetapi janganlah semua itu menjadikan kita urung dan mundur dari jalan dakwah. Siapakah yang lebih baik ucapannya di muka bumi ini selain para penyeru di jalan Allah?
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim?" (QS. Fushshilat (41): 33)
Wallohu a’lam bishowab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar