Kamis, 16 Oktober 2008

Notulensi Dialog Pengajian Halal Bi-Halal ke-26 Diensar

Notulensi Dialog Pengajian Halal Bi-Halal ke-26 Diensar,
Watulimo, 2 Oktober 2008

Tema: Mempersiapkan generasi yang mandiri dan berkualitas
Pembicara: Ust. Afrohi Abdul Ghoni (UAAG)
Pembanding: Suharyoko (SHY)
Moderator/Notulen: Edi Susilo (ES)

A. PENGANTAR:

UAAG:

Secara filosofi berbagai lagu yang dikumandangkan oleh warga Diensar telah mengandung makna untuk menciptakan generasi mandiri dan berkualitas.

(QS: Luqman: 12-19), mengandung berbagai petunjuk kepada orang tua tentang hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan keluarga.

QS Luqman (13): Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberikan pelajaran kepada anaknya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar," karena menurut QS An-Nisa (36) : menyatakan bahwa kita dilarang menyekutukan Allah swt.

QS Luqman (17): Hai anakku, dirikanlah shalat, dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Orang sering melupakan shalat karena adanya kesibukan dunia (petani, pedagang, maupun pegawai).

Hikmah cerita anak dan orang tua yang bepergian dengan menunggang seekor keledai:
  1. Si orang tua naik keledai, anak menuntun: komentar orang: “orang tua yang tidak menyayangi anaknya”
  2. Si anak naik keledai, orang tua menuntun: komentar orang: “anak tidak berbakti kepada orang tuanya”
  3. Akan naik berdua, kapasitas tunggang keledai hanya satu orang
  4. Keledai dipikul berdua: komentar orang: anak dan orang tua, sama-sama gila.
    ES:

Hikmah:
1. Anak harus berbakti kepada orang tua, orang tua harus menyayangi anaknya.
2. Diperlukan sebuah dialog antara orang tua dengan anak dalam mengambil keputusan.
3. Menyadari kekurangan, diperlukan kerjasama.
4. Semua tantangan adalah sumber-sumber kemandirian.

SHY: Untuk mencapai kemandirian, diperlukan sikap:
1. Disiplin terhadap waktu
2. Komitmen tinggi dan niat
3. Aja Dumeh (jangan menyombongkan diri)
4. Profesional

B. DISKUSI:

1. Hendri:

Kedudukan dirinya dalam dua status, yaitu sebagai anak dan juga sebagai bapak. Generasi yang akan menyiapkan generasi berikutnya. Bagaimana membimbing anak untuk shalat, sementara dirinya sendiri belum tertib shalat. Beliau merasa belum memiliki kemampuan kemandirian, dan masih belum jelas tentang pengertian kemandirian. Apa mandiri itu semua dikerjakan sendiri?.

UAAG:

Bahwa shalat akan menghindarkan diri dari perbuatan fasik dan munkar. Ini sumber kemandirian. Nabi Muhammad saw sebagai panutan (uswatun hasanah). Wudlu dan shalat hendaknya sesuai dengan apa-apa yang telah dicontohkan oleh rasul.

SHY:

Kita harus berpikir ke depan, menghadapi globalisasi. Diperlukan manajemen yang baik, karena itu selalu tulis dan kerjakan yang telah ditulis.

ES:

Pondasi kemandirian adalah agama, sebagaimana tadi sudah disampaikan oleh Pak Ustad. Sementara itu tiang-tiang kemandirian, sudah dijelaskan oleh Mas Yoko. Diensar perlu membangun “rumah” kemandirian. Jadi kita perlu memberikan atapnya.

2. Bapak Darminto:

Kita ditantang untuk memberikan atap dari “rumah” kemandirian. Karena itu satukan seluruh generasi, untuk membentuk organisasi Diensar ke depan.

3. Ibu Endang:

Berkeinginan kuat untuk naik haji. Lebih bahagia jika bisa bersama dengan suami. Namun belum merasa cukup persiapannya. Selain itu ingin menggunakan jilbab, jika sudah “siap”.

4. Bapak Mulyoto (Pak Lik Lurah):

Sebagai generasi tua sudah mengajak kepada yang muda untuk mengikuti tuntunan agama. Berulang kali sudah disampaikan kepada anak cucu, tetapi belum semua memberikan tanggapan positif. Dosa apa yang kami tanggung, dan bagaimana cara agar anjuran tersebut diperhatikan?


5. Luki:

Bagaimana adab memilih istri solehah. Siapa yang berkewajiban mendidik calaon istri. Apa kiat-kiat yang perlu dilakukan sebelum menikah.

Telah membuat Blog, dengan situs: http://www.diensar.blogspot.com/.

UAAG:

· Mohon dibacakan QS: An Nuur (31): Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan (kepada wanita), anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.

Karena itu jilbabilah badanmu terlebih dahulu.

· QS: Al AHZAB (59): Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbanya (jilbab adalah sejenis baju kurung yang lapang, yang dapat menutup kepala, muka dan dada) ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Semua telah jelas kewajiban menggunakan jilbab, dan ada kewajiban bagi kita untuk menyebarluaskan penggunaan jilbab.

· Kewajiban mendidik calon istri adalah kedua orangtuanya. Calon suami boleh mendidik, tetapi tidak secara langsung, harus melalui kedua orang tuanya.

· Tidak ada dosa bagi orang tua yang telah memberikan nasehat kepada anaknya, meskipun anak tersebut tidak menjalankannya. Nabi Nuh juga mempunyai anak yang tidak memperhatikan nasehatnya, sehingga akhirnya anak Nabi Nuh tenggelam oleh air bah bersama dengan orang-orang lain yang tenggelam.


SHY: Kemandirian memerlukan disiplin, profesionalisme, dan manajemen. Selain itu harus selalu berpikir bagaimana pengelolaan organisasi Diensar ke masa depan.

ACARA SELESAI



Catatan Akhir Moderator:

Rangkuman diskusi:
Kemandirian diperlukan untuk menghadapi kehidupan yang semakin sulit.
Nilai-nilai dari Al. Quran perlu dipahami, dan dijadikan pedoman untuk seluruh aspek kehidupan.
Generasi Diensar ke depan harus lebih mandiri dan mampu bersaing secara etis dalam kehidupan nyata.
Diensar harus mencermati titik-titik lemah yang menjadi penghalang bagi terbentuknya kemandirian, baik pada tingkat individu maupun pada tingkat organisasi keluarga, untuk membangun Diensar yang lebih baik, dalam rangka menghadapi globalisasi.

Pola diskusi sebaiknya dilanjutkan, tema tetap tentang kemandirian, namun disambung dengan bertanggung jawab, sehingga tema tahun depan: “Membentuk generasi yang mandiri dan bertanggung jawab”:
Mandiri itu sedikit banyak berkaitan kepada kemampuan/keberanian seseorang untuk mengambil keputusan dengan menghitung resiko dari keputusan itu.
Kemandirian perlu diwujudkan pada tingkat individu, keluarga kecil (inti), keluarga besar, dan klan (dienasti).
Bertanggung jawab, artinya semua bentuk hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan lingkungannya, dipertanggungjawabkan kepada Allah swt.

Perlu regenerasi pada moderator (sudah tiga kali), diperlukan kader yang lebih muda.

Pembicara tidak harus dari luar Diensar, tetapi dengan porsi yang tetap, dimana pembicara satu didasarkan pada kajian keagamaan, dan pembicara lainnya didasarkan pada pengalaman praktis dalam kehidupan nyata, sesuai profesi yang bersangkutan.

Jika memungkinkan Diensar perlu website dan alamat email: diensar-group untuk ajang komunikasi.

Saya mengembangkan model pengajaran sistem amplop sebagai berikut:

HM
SA
BB
LA
A
K
K
C
M
Waktu

HM : Highest Morality (Bermoral Tinggi)
BB : Brightness Brain (Berotak Cerdas)
LA : Lecture Activity (Aktivitas Guru di awal waktu tinggi)
SA : Student Activity (Aktivitas Murid di akhir waktu tinggi)
A : Adaptable (mudah menyesuaikan diri)
K : Karakter bagus
K : Kreativitas tinggi
C : Cerdas
M : Mandiri




----------------------------Tanceb Kayon--------------------------------

Kamis, 02 Oktober 2008

Hari Ketigapuluh Empat: Kiamat Sudah Dekat

Hari Ketigapuluh Empat: Kiamat Sudah Dekat

Salah satu ciri dari agama samawi adalah ajaran tentang hari akhir dan kebangkitan. Tidak ada satu orang pun yang tahu kapan terjadinya, dan yang sampai kepada kita adalah syarat-syaratnya (lihat QS Muhammad (47):18). Allah melukiskan kejadian itu secara gamblang dalam QS Al Infithor (82):1-9. Dan dari hadits kita tentang tanda-tanda kiamat yaitu:

Tanda kiamat kecil yang telah muncul pada abad-abad pertama Islam
Diutusnya Nabi Muhammad saw
Rasulullah bersabda: “Aku diutus adalah bersamaan dengan kiamat seperti dua jariku ini.”
Terbelahnya bulan
“Telah dekat saat itu (hari kiamat) dan telah terbelah bulan” (QS Al Qomar (54):1)
Para ulama sepakat bahwa terbelahnya bulan terjadi pada zaman Rasulullah saw dan merupakan salah satu tanda mukjizat beliau.

Penaklukan Baitul Maqdis (al Quds)
- tahun 638 M/18 H, ditaklukkan oleh Umar bin Khothob
- tahun 1098 M/492 H, dikuasai pasukan Salib
- tahun 1187 M/583 H, ditaklukkan oleh Sholahuddin al Ayyubi
- tahun 1228 M/627 H, Raja Al Kamil dikalahkan oleh pasukan Salib
- tahun 1239 M/637 H, dikuasai kaum Muslim di bawah pimpinan An Nashir al Ayyubi
- tahun 1243 M/641 H, dikuasai kaum Salib
- tahun 1244 M/642 H, dikuasai kaum Muslimin di bawah pimpinan Malikus Sholih Ayyub
- tahun 1967 M sampai sekarang dikuasai oleh zionis salibisme.

Pertempuran dua kelompok besar dari kaum Muslimin
Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan berdiri hari kiamat sehingga dua kelompok besar dari kaum Muslimin saling berperang dengan satu seruan (slogan kebenaran) yang sama.”
Perang ini telah terjadi, yaitu perang antara kelompok Ali bin Abi Tholib dengan Muawiyyah bin Abu Sofyan.

Kematian massal oleh wabah penyakit yang mematikan dengan cepat.
Rasulullah saw bersabda: “Aku menghitung ada enam perkara yang akan terjadi menjelang hari kiamat, yaitu: kematianku, kemudian penaklukan Baitul Maqdis, kemudian kematian massal akibat wabah penyakit qu’as (penyakit yang mematikan kambing dengan cepat). Kemudian melimpahnya harta (uang) sehingga apabila seseorang diberi gaji seratus dinar, maka ia tetap tidak puas (kesal), kemudian munculnya fitnah (godaan dan kemaksiatan) yang memasuki rumah setiap orang Arab. Kemudian adanya gencatan senjata (perdamaian) antara kaum Muslimin dengan Bani Ashfar (orang-orang Eropa dan Amerika). Kemudian mereka mengkhianati kamu, di mana mereka akan menyerangmu di bawah 80 bendera dan di bawah tiap-tiap bendera itu terdapat dua belas ribu tentara.”
Sekarang bisa kita saksikan sendiri telah muncul penyakit-penyakit baru seperti SARS, Avian Influenza dan lain-lain yang begitu cepat mematikan manusia hanya dalam hitungan jam.
Munculnya api dari Hijaz
Rasulullah saw bersabda: “ Tidak akan berdiri hari kiamat sehingga api dari negeri Hijaz yang akan menerangi leher-leher unta di Bashra.”
Api tersebut telah keluar pada bulan Jumadil Akhir tahun 645 H, di mulai dengan sebuah guncangan yang dahsyat.
Tanda-tanda kiamat kecil pada abad-abad terakhir Islam sampai sekarang, di antaranya:
Budak wanita melahirkan tuannya.
Rasulullah saw ditanya oleh Jibril as tentang hari kiamat, maka beliau saw menjawab: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian Jibril as berkata: “Kalau begitu kabarkanlah kepadaku tanda-tandanya.” Beliau saw menjawab: “Seorang budak wanita (al amah) akan melahirkan tuannya dan engkau akan melihat orang-orang yang tidak berterompah, tidak berpakaian, miskin dan para penggembala kambing (rakyat jelata yang miskin)akan tinggal di gedung-gedung yang menjulang tinggi.”
Tafsiran yang pertama, hal ini merupakan kiasan dari banyaknya penaklukan Islam dan juga banyaknya para budak wanita maupun pria. Budak wanita akan melahirkan anak laki-laki yang akan menjadi tuan bagi ibunya karena anak tersebut adalah anak dari tuan budak wanita tersebut. Adapun tafsiran kedua, hal ini merupakan kiasan banyaknya kedurhakaan anak terhadap ibunya.
Rakyat jelata yang miskin akan tinggal di gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Orang-orang bodoh dijadikan pemimpin
Rasulullah saw bersabda: “Apabila engkau melihat orang-orang yang tidak berterompah, tidak berpakaian, tuli dan bisu menjadi para raja di bumi, maka itulah tanda-tanda kiamat.”
Diangkatnya ilmu dan munculnya kejahilan manusia (dalam arahan hidup dan yang menyangkut kehidupan akhirat)
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya menjelang kiamat akan datang har-hari di mana padanya akan turun kejahilan, diangkatnya ilmu dan banyaknya kegaduhan (al Haraj. Sedangkan kegaduhan itu adalah pembunuhan.”
Adapun cara terangkatnya ilmu dan turunnya kejahilan itu telah dijelaskan oleh Rasulullah saw: “Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu dengan sekali cabut dari manusia, akan tetapi dengan cara mencabut para ulama sehingga apabila tidak ada lagi ulama yang tersisa, maka manusia akan mengangkat para pemimpin yang jahil. Kemudian mereka itu ditanya (tentang hukum-hukum dalam agama), maka mereka memfatwakan tanpa berdasarkan ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan.”
Banyaknya pembunuhan di mana-mana.
Meminum khamer dan penamaan perbuatan tersebut bukan dengan namanya.
Rasulullah saw bersabda: “Sebagian dari umatku akan meminum khomer dan mereka akan menamakan perbuatan itu bukan dengan namanya.”
Banyaknya perbuatan zina dan kotor
Banyaknya terjadi gempa bumi
Rasulullah saw bersabda: “Menjelang hari kiamat akan terjadi kematian massal dan tahun-tahun gempa.”
Telah kita saksikan sendiri, gempa yang mengguncang di kota Liwa, Tokyo, tempat-tempat lain di dunia dan terakhir tercatat di kota Bam (Iran) yang merenggut korban jiwa 30.000 dan luka-luka 30.000 orang, terakhir tsunami Aceh yang merenggut lebih dari 200.000 jiwa orang. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.
Umat-umat manusia yang lain berebutan terhadap uamat Islam sebagaimana orang-orang yang sedang berebut makanan terhadap sepiring makanan.
Rasulullah saw bersabda: “Hampir saja umat-umat (selain kamu) memperebutkanmu dari segala penjuru sebagaimana orang-orang yang sedang makan memperebutkan semangkuk makanan mereka.” Para sahabat bertanya: “Apakah jumlah kami sedikit waktu itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Pada saat itu jumlahmu banyak, akan tetapi keberadaanmu seperti buih di lautan. Ketakutan musuh-musuhmu akan tercabut dari dada-dada mereka dan di dalam dada-dada kalian terdapat al Wahn.” Para sahabat bertanya: “Apakah itu al Wahn wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”
Banyaknya wanita-wanita yang tidak berpakaian
Yaitu wanita-wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan membuka sebagiannya. Atau mereka memakai pakaian ketat (sempit) dan tipis, di mana dengan demikian mereka berarti belum menutup aurat.
Munculnya orang-orang yang bodoh yang ikut berbicara tentang urusan-urusan masyarakat.
Rasulullah saw bersabda: “Di pintu gerbang kiamat akan muncul tahun kepalsuan (penuh penipuan/manipulasi), di mana orang-orang yang jujur akan menjadi yang tertuduh dan orang-orang yang yang semestinya tertuduh dipercayai. Dan pada masa itu muncul Ar Rawaibidhoh.” Lalu para sahabat bertanya: “Apakah itu Ar-Rawaibidhoh itu?” Rasulullah saw berkata: “Yaitu orang-orang yang bodoh yang ikut berbicara tentang urusan masyarakat umum.”
Ucapan salam (Assalamu’alaikum) hanya diucapkan oleh seseorang yang telah dikenalnya saja.
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya di antara syarat-syarat kiamat adalah bahwa seorang laki-laki hanya mengucap salam (terhadap orang-orang yang telah dikenalnya saja).”
Hilangnya kehati-hatian manusia di dalam mendapatkan rezeki yang halal.
Rasulullah saw bersabda: “Akan datang suatu zaman di mana orang-orang tidak akan peduli lagi terhadap apa-apa yang mereka peroleh, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram.”
Banyaknya sifat bohong dan ia menjadi hal yang umum.
Rasulullah saw bersabda: “Kiamt hampir saja akan berdiri apabila telah banyak perbuatan bohong, masa (jarak waktu) akan terasa dekat (cepat) dan pasar-pasar akan berdekatan (karena banyaknya).”
Jarak-jarak antar pasar menjadi dekat
Manusia bermegah-megah dan berbangga dengan keindahan masjid dan fasilitasnya. Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat, hingga manusia bermegah-megah dengan masjid-masjid.”
Manusia akan mewarnai rambut kepalanya dengan warna hitam agar terlihat lebih muda. Rasulullah saw bersabda: “Pada akhir zaman akan muncul suatu kaum yang mencelup rambut mereka dengan warna hitam seperti ‘bulu merpati’ yang mana mereka itu tidak akan mencium bau surga.”
Manusia saling berbunuh-bunuhan tanpa tujuan (kebenaran yang jelas).
Rasulullah saw bersabda: “Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya. Sungguh akan datang suatu zaman di mana pada zaman itu si pembunuh tidak mengerti mengapa ia membunuh dan si terbunuh juga tidak mengerti mengapa ia dibunuh.”
Seorang laki-laki dihormati bukan karena budi dan kebaikannya, tetapi karena orang takut akan kejahatannya.
Rasulullah saw bersabda: “Apabila harta rampasan perang (milik umum) dikuasai segelintir orang, harta zakat menjadi hutang, seorang laki-laki (suami) mentaati istrinya dan mendurhakai ibunya, berbuat baik kepada teman dan berbuat kasar kepada ayahnya, suara-suara meninggi di masjid, yang menjadi pemimpin suatu kaum (bangsa) adalah orang yang hina (berbuat keji) di antara mereka dan yang menjadi kabilah (kepala suku) adalah orang yang fasik di antara mereka, seorang laki-laki dihormati disebabkan oleh karena orang takut pada sifat jahatnya, khomer biasa diminum, sutra biasa dipakai (oleh laki-laki), munculnya para penyanyi wanita (biduanita) dan alat-alat musik, orang-orang dari umat yang terakhir ini melaknat uamt yang terdahulu. Maka ketika itu, hendaklah mereka menunggu kedatangan angin merah atau pembalikan bumi atau pemburukan bentuk dan tanda-tanda yang beriringan. Seperti kawat susunan manik-manik di sebuah tali yang terputus, maka terlepaslah ia secara beriringan.”
Memandang rendah terhadap darah
Rasulullah saw bersabda: “Bersegeralah untuk melakukan amal soleh, apabila telah muncul enam perkara. Pengangkatan pemimpin yang bodoh, banyaknya jumlah polisi, penjualan kepemimpinan (jabatan), tidak ada penghargaan terhadap darah, pemutusan silaturahim, orang-orang mabuk yang menjadikan Al Quran sebagai alat nyanyian, di mana mereka mendahulukan seseorang di antara mereka menjadi imam agar menyanyikannya, walaupun orang tersebut yang paling sedikit ilmunya.”
Munculnya gaya hidup yang bermewah-mewah dan manja dalam umat Islam.
Rasulullah saw bersabda: “Maka demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan kepada kamu, akan tetapi yang aku takutkan adalah bahwa dunia akan dilapangkan untukmu sebagaimana ia telah diluaskan kepada orang-orang sebelum kamu. Maka kamu akan berlomba-lomba untuknya sebagaimana mereka (para pendahulu tersebut) berlomba-lomba, lalu ia akan menghancurkanmu sebagaimana ia telah menghancurkan mereka.”
Orang-orang berangan-angan untuk cepat mati karena banyaknya huru hara yang terjadi. Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan berdiri hari kiamat, sehingga apabila seorang laki-laki melewati sebuah kubur, maka ia akan berkata: Aduhai alangkah baiknya seandainya aku juga berada di tempatmu.”
Anak-anak menjadi pemarah dan hujan menjadi bencana.
Rasulullah saw bersabda: “Di antara tanda dan syarat kiamat adalah anak-anak menjadi pemarah, hujan akan menjadi bencana dan jumlah orang-orang yang jahat akan membanjir.”
Telah kita saksikan sendiri, bagaimana anak-anak menjadi pemberang dan berpikiran dangkal. Hanya karena tidak bisa membayar biaya sekolah, banyak dari anak-anak yang mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri.
Irak diboikot dan negeri Syam dikepung
Dari Jabir, Rasulullah saw bersabda: “Hampir saja tidak boleh di bawa negeri Irak secupak (qafizh) makanan atau sebuah dirham.”Kami (para sahabat) bertanya: “Siapakah yang melakukan ini wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang-orang Ajam (non Arab) yang melarang hal tersebut.” Kemudian beliau saw berkata: “Hampir saja tidak boleh dibawa secupak makanan (mudyun) atau sebuah dinar kepada penduduk Syam.”Kami bertanya: “Siapa yang melakukan hal itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang-orang Romawi.” Kemudian ia (Jabir) diam sejenak dan berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: “Pada akhir masa umatku akan ada khalifah yang melimpahkan harta selimpah-limpahnya dan ia sama sekali tidak akan menghitung-hitungnya.”
Tanda-tanda besar kiamat yang dapat dilihat oleh kaum Muslimin

Munculnya Dajjal
Al Masihuddajal adalah salah satu fitnah terbesar di akhir jaman. Sebagai salah satu tanda-tanda kiamat besar. Dajjal adalah anak laki-laki dari seorang manusia kaum Yahudi yang buruk. Ia dikelilingi oleh setan dan diikuti oleh 70.000 orang Yahudi. Ciri-ciri Dajjal adalah:

  1. Rasulullah bersabda, “Ia adalah seorang laki-laki yang berbadan besar, merah, berambut keriting dan bermata sebelah” (HR Bukhori dari Ibnu Umar)
  2. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Al Masihuddajjal adalah seorang laki-laki pendek, ujung telapak kakinya berdekatan, sedangkan tumitnya berjauhan, berambut keriting, bermata sebelah dengan mata yang terhapus.” (Diriwayatkan dari Abu Dawud dari Ubadah bin Shamit)
  3. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kepala Dajjal itu dari belakang terlihat tebal dan berkelak-kelok.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dari Hisyam bin Amr)
  4. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Dajjal itu terhapus matanya sebelah kiri.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dari Anas)
  5. Rasulullah bersabda, “Pada matanya yang sebelah kanan seolah ia adalah satu biji anggur yang terapung.” (HR Bukhori)
  6. Rasulullah bersabda, “Bukankah ia sesungguhnya ia itu bermata sebelah, dan tertulis di antara kedua mata Dajjal itu kata kafir, yang dapat dibaca oleh setiap Muslim.” (Mutafaqun ‘alaih)

Al Masihuddajjal hidup sampai sekarang dan mendapat rizki untuk hidup, akan tetapi ia tertahan (terpenjara) hingga pada masa yang telah ditentukan. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits berikut:

Fatimah binti Qois berkata: “Aku mendengar seruan dari tukang seru Rasulullah untuk melaksanakan sholat berjamaah, maka aku berangkat ke masjid dan sholat bersama Rasulullah. Aku sholat di shof para wanita di belakang kaum laki-laki. Ketika sholat sudah selesai, Rasulullah duduk di atas mimbar, sambil tersenyum beliau berkata: Demi Alloh, sesungguhnya aku mengumpulkan kalian bukanlah untuk suatu kabar gembira atau kabar buruk, akan tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamin ad Dari yang dahulunya adalah seorang pemeluk agama Kristen, maka ia telah memeluk agama Islam dan membai’atku. Ia telah berkata kepadaku dengan suatu perkataan yang sudah aku katakan kepada kalian tentang Al Masihuddajjal. Ia mengisahkan perjalanannya kepadaku, bahwa ia berlayar dengan sebuah kapal laut bersama 30 orang laki-laki dari dari kabilah Lakham dan Judzam. Kemudian mereka terombang-ambing oleh ombak badai selama 1 bulan. Hingga tersebut terdampar di sebuah pulau di tengah laut di arah tempat matahari terbenam. Lalu mereka semua duduk (istirahat) di suatu tempat yang terletak sangat dekat dengan kapal. Setelah itu mereka masuk ke dalam pulau tersebut, lalu mereka bertemu dengan seekor binatang yang berbulu lebat, sehingga mereka tidak bisa memperkirakan di mana ekornya dan mana kepalanya, karena tertutup bulu yang sangat lebat. Mereka berkata: Celaka, dari jenis apakah kamu ini? Ia menjawab: Saya adalah Jassasah. Mereka bertanya: Apakah Al Jassasah itu? (Tanpa menjawab) ia berkata: Wahai orang-orang, pergilah kalian kepada kepada seorang lelaki yang berada di biara itu. Sesungguhnya ia sangat ingin mendengar berita-berita dari kalian! Tamin Ad Dari berkata: Ketika ia telah menjelaskan kepada kami tentang laki-laki itu, kami pun sangat terkejut karena kami mengira; bahwa ia adalah setan. Lalu kami segera berangkat sehingga kami memasuki biara tersebut, tiba-tiba di sana ada seorang manusia yang sangat besar (yang pernah kami lihat) dalam keadaan terikat yang sangat kuat. Kedua tangannya terikat ke pundaknya serta antara dua lutut dan mata kakinya terikat dengan besi. Kami berkata: Celaka, siapakah kamu ini? Lelaki itu menjawab: Takdir sudah menentukan bahwa kalian akan kabar-kabar kepada saya, maka kabarkanlah kepadaku siapakah kalian ini? Mereka menjawab: Kami adalah orang-orang Arab yang berlayar dengan sebuah kapal, tiba-tiba kami menghadapi laut yang sedang berguncang, lalu kami terombang-ambing i tengah laut selama 1 bulan, maka terdamparlah kami di pulau ini. Lalu kami duduk di tempat yang terdekat dengan kapal, kemudian kami masuk ke pulau ini. Maka kami bertemu dengan seekor binatang yang sangat lebat bulunya sehingga kami tidak dapat membedakan mana ekornya mana kepalanya. Maka kami berkata: Celaka, apakah kamu ini? Ia menjawab: Aku adalah Al Jassasah. (Tanpa menjawab) ia berkata: Pergilah kalian kepada lelaki di biara itu, karena ia sangat menginginkan berita-berita yang kalian bawa. Lalu kami segera menuju tempatmu ini, maka kami terkejut bercampur takut karena mengira bahwa kamu ini adalah setan. Ia (laki-laki yang terikat itu) berkata: Beritakanlah kepada saya tentang pohon-pohon korma yang ada di daerah Baisan. Kami berkata: Tentang apa yang ingin kamu tanya darinya? Ia berkata: Saya menanyakan apakah pohon-pohon korma itu tetap berbuah? Kami menjawab: Ya. Ia berkata: Adapun pohon-pohon korma itu, maka ia (sebentar lagi) hampir saja tidak akan berbuah lagi. Kemudian ia berkata lagi: Beritakanlah kepadaku tentang danau Tiberia. Mereka berkata: Tentang apakah yang ingin kamu tanyakan perihalnya? Ia bertanya: Apakah ia tetap berair? Kami menjawab: Ya. Ia berkata: Adapun airnya, maka ia (sebentar lagi) hampir saja akan habis. Kemudian ia berkata lagi: Beritakanlah kepadaku tentang mata air Zugar. Mereka berkata: tentang apakah yang ingin kamu tanyakan? Ia bertanya: Apakah di sana masih ada air, dan apakah penduduk di sana masih menggunakan air dari mata air Zugar itu untuk bertani? Kami katakan kepadanya: Benar, ia berair banyak dan penduduknya bertani dari mata air itu. Lalu ia bertanya lagi: Beritakanlah kepadaku tentang Nabi yang ummi, apa sajakah yang sudah ia perbuat? Mereka menjawab: Dia telah keluardari Makkah menuju Madinah. Lalu ia bertanya: Apakah ia diperangi oleh orang-orang Arab? Kami menjawab: Ya. Ia bertanya: Apakah yang ia kepada mereka? Maka kami memberitahukan kepadanya bahwa ia (Nabi itu) telah menundukkan orang-orang Arab yang bersama dengannya dan mereka menaatinya. Lalu ia berkata: Apakah itu semua telah terjadi? Kami menjawab: Ya. Ia berkata: Sesungguhnya adalah lebih baik bagi mereka untuk menaatinya dan sungguh aku akan mengatakan kepada kalian tentang diriku, aku adalah Al Masihuddajjal dan sesungguhnya aku hampir saja diizinkan keluar. Maka aku akan keluar dan berjalan di muka bumi, dan tidak ada satu kampung pun yang tidak akan kumasuki dalam waktu 40 malam selain Makkah dan Thibah. Maka kedua negeri itu terlarang untukku, di mana setiap kali aku ingin memasuki salah satu dari kedua negeri itu, aku selalu dihadang oleh malaikat yang di tangannya ada pedang berkilau dan sangat tajam untuk menghambatku dari kedua negeri tersebut. Dan di setiap celahnya terdapat malaikat yang menjagnya. Ia (Fatimah si perawi hadits ini) berkata: Rasulullah saw bersabda sambil menghentakkan tongkatnya di atas mimbar: Inilah Thibah, Inilah thibah, Inilah Thibah (maksudnya kota Madinah). Bukankah aku sudah menyampaikan kepada kalian tentang hal ini? Orang-orang (para sahabat) menjawab: Benar. Beliau saw berkata: Saya tertarik dengan apa yang dikatakan Tamin Ad Dari, karena ia bersesuaian dengan apa-apa yang pernah aku sampaikan kepada kalian tentang Makkah dan Madinah. Bukankah ia (tempat Dajjal) terletak di laut Syam atau laut Yaman? Di mana Rasulullah mengisyaratkan tangannya ke arah timur. Ia (Fatimah) berkata: Hal ini saya hafalkan dari Rasulullah saw.” (HR Abu Dawud)

Di manakah tempat biara Dajjal sekarang? Biara itu terletak di arah timur, tepatnya di daerah Khurasan pada sebuah desa Isfahan (antara perbatasan Rusia dengan Iran). Sabda Rasulullah saw: Dajjal akan keluar dari sebuah negeri di Timur yang bernama Khurasan. (HR Tirmizi dan Hakim dari Abu Bakar). Dajjal akan diikuti oleh 70.000 orang Yahudi Isfahan yang memakai jubah besar berwarna hijau. (HR Ahmad dan Muslim dari Anas)

Turunnya Isa putra Maryam as
Sesungguhnya Isa putra Maryam tidaklah dibunuh seperti persangkaan orang Yahudi dan Kristen, dan sesungguhnya orang yang disalibkan oleh orang Yahudi adalah orang yang diserupakan dengan Isa as (lihat QS An Nisa (4): 157). Isa asa akan turun setelah munculnya Imam Mahdi dan setelah keluarnya Dajjal. Tempat turunnya Isa as adalah di menara putih Damaskus negeri Syiria. Beliaulah yang akan membunuh Dajjal.

Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj

Terbitnya matahari dari tempat terbenamnya (terbit dari barat).

Rasulullah saw berasbda: “Tidak akan kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka mereka semua akan beriman dan itulah waktu tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelum itu.”

Keluarnya binatang bumi (Dabbatul ardhi)
Rasulullah saw bersabda: “Binatang bumi itu akan keluar dengan membawa Tongkat Musa dan Cincin Sulaiman, maka ia akan mencap hidung orang kafir dengan tongkat dan akan membuat terang wajah orang mukmin dengan cincin, sehingga dengan demikian apabila telah berkumpul orang-orang yang maka di meja hidangan, maka salah seorang dari mereka akan berkata: Makanlah ini wahai orang mukmin, dan makanlah ini wahai orang kafir.”

Keluarnya asap
Rasulullah saw berasbda: “Sesungguhnya Rabbmu telah memperingatkan kamu dengan tiga hal. Pertama asap yang akan menyebabkan orang Mukmin seperti demam dan kepada orang kafir sehingga ia melepuh (pecah) serta keluar asap dari setiap telinganya, yang kedua adalah binatang, yang ketiga adlaah Dajjal.”

Tanda-tanda besar kiamat yang tidak kan dilihat oleh orang Mukmin
a. Pembenaman bumi di Timur
b. Pembenaman bumi di Barat
c. Pembenaman bumi di Semenanjung Arabia
d. Keluarnya api dari dasar teluk Aden yang akan menggiring manusia ke Mahsyar.

Demikianlah sedikit berita dari hadits yang nyata-nyata sebagian besar dari tanda-tanda hari akhir tersebut telah nampak. Mudah-mudahan berita itu menjadikan kita sadar akan kehidupan yang tinggal sebentar ini.

Hari Ketigapuluh Empat: Ya’juj and Ma’juj (Gog and Magog) -The Satanic Troopers and Sign of The End of World

Hari Ketigapuluh Empat: Ya’juj and Ma’juj (Gog and Magog) -The Satanic Troopers and Sign of The End of World

Salah satu tanda kiamat yang pasti terjadi adalah munculnya kembali Kaum Ya’juj dan Ma’juj. Kaum ini adalah bangsa perusak dan telah ada bahkan sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. Ya’juj dan Ma’juj dikurung oleh Dzulqornain dalam sebuah tembok dan sampai saat ini belum sanggup membukanya. Mari kita simak penjelasan dalam Al Quran:

Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: "Hai Dzulkarnain, Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.. (QS Al Kahfi (18): 93-95).

Tentang kedatangan/kemunculan Ya’juj dan Ma’juj sebagai tanda hari akhir bisa kita simak dalam hadits berikut:

‘Nabi saw datang kepada kami ketika kami sedang mengkaji suatu hal, beliau berkata: “Apakah yang sedang kalian bahas?” Mereka menjawab: “Kami sedang mengingat tentang hari Kiamat” Beliau bersabda: “Seseungguhnya kiamat tidak akan terjadi sehingga menyaksikan sebelumnya 10 tanda:
þ Keluarnya asap tebal
þ Munculnya Dajjal
þ Munculnya binatang bumi
þ Terbitnya matahari dari tempat terbenamnya
þ Turunnya ‘Isa Ibnu Maryam
þ Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj
þ Pembenaman bumi timur
þ Pembenaman bumi barat
þ Pembenaman semenanjung Arab
þ Keluarnya api dari Yaman yang akan menggiring manusia ke Mahsyar mereka.
(HR. Muslim dan Ahmad)

Apa Kata Bibel Tentang Ya’juj dan Ma’juj?
Jika kita menyimak Bibel (Alkitab), kita juga akan mendapati keterangan tentang kedatangan Ya’juj dan Ma’juj (Gog dan Magog). Hal itu bisa dilihat dalam Kitab Yehezkiel 38:2 dan dalam Kitab Wahyu 20:7-10. Kitab Wahyu memuat Nubuwat yang diterima oleh Yohanes (Yahya as):

“Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, ia akan menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mereka mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka”. (Wahyu 20: 7-10)

Maka kita pun bertanya-tanya siapakah Ya’juj dan Ma’juj? Di manakah mereka sekarang berada? Siapakah yang akan menghancurkan mereka?

Siapakah Ya’juj dan Ma’juj?
Menurut Amin Muhammad Jamaluddin, bangsa Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Turki dan ras Asia (Mongol, Jepang, China dll). Masih dari sumber yang sama, Nabi Nuh memiliki 3 orang putra, yaitu Ham yang menurunkan bangsa Afrika, Sam yang menurunkan bangsa Arab, Persia dan Romawi, serta Yafit yang menurunkan bangsa Turki serta Asia. Ciri-ciri mereka seperti bangsa Turki Mongolia, seperti yang disebutkan dalam hadits:

‘Kalian mengatakan kalau kalian tidak mempunyai musuh, sesungguhnya kalian tetap akan melawan musuh kalian hingga kemunculan Ya’juj dan Ma’juj yang berwajah lebar, bermata sipit, berkulit kuning, dan mereka akan turun dari berbagai bukit. Seolah wajah mereka bagai lempengan yang dipukul-pukul.’ (HR Ahmad)

Adalah menarik jika kita menelusuri arti kata Ya’juj dan Ma’juj. Dalam bahasa Arab kita tidak akan mendapatkan arti kata Ya’juj dan Ma’juj. Namun apabila kita membuka kamus bahasa China, akan kita jumpai arti kata Ya’juj dan Ma’juj. Ya’juj berarti penduduk benua Asia dan Ma’juj berarti penduduk benua Kuda. Apakah dengan arti kata ini berarti bangsa Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Asia yang pandai berkuda sebagaimana bangsa Mongol yang identik dengan sebutan ‘Horse People’ karena kepandaiannya dalam mengendarai kuda? Apakah memang Ya’juj dan Ma’juj yang termaktub dalam Al Quran benar-benar bangsa Asia dan Mongol mengingat kekejaman dan kekejian bangsa Mongol saat melakukan invasi dunia? Wallahu a’lam bishowab.

Dimanakah Mereka Berada Sekarang?
Dalam QS Al Kahfi (18) 93-95, dijelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj terkurung dalam dinding yang dulunya dibangun oleh Dzulqornain. Syeikh Hamdi bin Hamzah Abu Said menjelaskan bahwa yang dimaksud tembok penghalang itu adalah Tembok Besar China yang dibangun pada masa dinasti Chou. Tembok ini dimaksudkan untuk menahan serangan dari kaum Tartar dan Mongol serta bangsa asing lainnya. Menarik diketahui komposisi bangunan Tembok Besar China tersebut bukan hanya berasal dari batu dan tanah liat sebagai semen. Akan tetapi bangsa China juga menambahkan unsur logam dalam bangunan tersebut, sehingga Tembok tersebut menjadi sangat kokoh dan sulit untuk dihancurkan. Bagaimana dengan proses pembuatan Tembok Dzulqornain? Allah menjelaskan dalam Al Kahfi 95-98:

Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi.” hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah Aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu." Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. Dzulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.”

Terlepas dari benar atau tidaknya ijtihad Syeikh Hamdi, adalah lebih baik bagi kita untuk mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan mereka, sebagaimana Allah juga merahasiakan tempat disekapnya Al Masihuddajjal.

Kapankah Mereka Akan Keluar?
Mereka akan keluar setelah ‘Isa Ibnu Maryam as membunuh Dajjal. Saat ini mereka masih dikurung, namun mereka tidak pernah putus asa untuk berusaha melubangi dinding raksasa tersebut, sehingga bila mereka sudah hampir melihat matahari, berkatalah pemimpin mereka: “Kembalilah kalian, kita akan membukanya esok hari.” Kemudian mereka pun pulang, setelah itu mereka menemukannya kembali tertutup seperti sediakala. Hingga datang ilham dari Allah kepada pemimpin tersebut untuk mengatakan “Insya Allah” dengan berkata: “Kembalikah kalian, Insya Allah, kita akan membukanya esok hari.” Kemudian mereka pun pulang dan ketika mereka kembali lagi maka pada hari esoknya mereka menjumpai dinding yang dilubangi tetap seperti yang mereka tinggalkan kemarin. Dan mereka pun berhasil membukanya dan keluar pada manusia.

Rasulullah saw, ketika terbangun pada suatu hari dalam keadaan terkejut berkata: “Laa ilaha Illallah, celakalah orang-orang Arab akibat bencana yang sudah mendekat, pada hari ini hampir saja pembukaan dinding Ya’juj dan Ma’juj selesai seperti ini. Beliau saw melingkarkan ibu jari dengan telunjuknya. Lalu bertanyalah Zainab binti Jahsy: “Wahai Rasulullah apakah kita akan hancur sedangkan di antara kita terdapat orang-orang sholeh?” Beliau menjawab: “Ya, apabila sudah banyak terjadi kemaksiatan.”

Seberapa Besarkah Fitnah Ya’juj dan Ma’juj?
Hal tersebut dijelaskan dalam hadits berikut:
‘Dinding Ya’juj dan Ma’juj akan terbuka, maka mereka akan menyerang semua manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala: ‘Dan mereka akan turun dengan cepat dari seluruh tempat-tempat yang tinggi.’ (QS Al Anbiyaa (21):96). Maka mereka akan menyerang manusia, sedangkan kaum Muslimin akan berlarian dari mereka ke kota-kota dan benteng-benteng mereka, kemudian mereka mengambil binatang-binatang ternak bersama mereka. Sedangkan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) meminum semua air di bumi, sehingga apabila sebagian mereka melewati sebuah sungai maka merekapun meminumnya sampai kering dan ketika sebagian yang lain dari mereka melewati sungai yang sudah kering tersebut maka meraka berkata: ‘Dulu di sini pernah ada air.’ Dan apabila tidak ada lagi manusia yang tersisa kecuali seorang saja di sebuah kota atau benteng, maka berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Mereka-mereka penduduk bumi sudah kita habisi, maka yang tertinggal adalah penduduk langit,’ kemudian salah seorang dari mereka melemparkan tombaknya ke langit dan tombak tersebut kembali dengan berlumuran darah yang menunjukkan suatu bala dan fitnah. Maka tatkala mereka sedang asyik berbuat demikian, Allah SWT mengutus ulat ke pundak mereka seperti ulat belalang yang keluar dari kuduknya, maka pada pagi harinya mereka pun mati dan tidak terdengar satu nafaspun. Setelah itu kaum Muslimin berkata: ‘Apakah ada seorang laki-laki yang mau menjual dirinya untuk kami (berani mati) untuk melihat apa yang sedang dikerjakan musuh kita ini?’ Maka majulah salah seorang dari mereka dengan perasaan (menganggap) bahwa ia telah mati, kemudian ia menemui bahwa mereka telah mati dalam keadaan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (berimpitan), maka laki-laki tadi menyeru: ‘Wahai kaum Muslimin, bergembiralah karena sesungguhnya Allah SWT sendiri telah membinasakan musuhmu.’ Maka mereka pun keluar dari kota-kota dan benteng-benteng dan melepaskan ternak-ternak mereka ke padang rumput kemudian padang rumput itu di[penuhi oleh daging-daging binatang ternak, maka semua susu ternak tersebut gemuk (penuh) seperti tunas pohon yang paling bagus yang tidak pernah dipotong.’ (HR Ahmad, Ibnu Majah, Hiban, dan Hakim)

‘Adapun jumlah mereka sangat besar yang tidak bisa dihitung seperti semut atau belalang sehingga kaum Muslim akan menyalakan api selama 7 tahun, untuk berlindung dari penyerangan Ya’juj dan Ma’juj, para pemanah dan perisai mereka.’ (HR Ibnu Majah)

Sedangkan penyelamatan kaum Muslim akan dipimpin oleh Nabi Isa as, yaitu dengan mengungsikan kaum Muslim ke bukit Thur (Thursina). Hingga tibanya pemusnahan kaum itu dari Allah SWT, selama kurang lebih 7 tahun lamanya kaum Muslimin akan menderita akibat fitnah dan kekejaman yang ditimbulkan oleh kaum perusak tersebut.

Kesimpulan
Kemunculan Ya’juj dan Ma’juj adalah salah satu tanda hari Kiamat di antara tanda-tanda besar hari kiamat yang lain yang masih dijumpai oleh Kaum Muslimin. Sesudah kedatangan Dajjal dengan balatentaranya yaitu Kaum Yahudi, kaum Muslim masih harus menghadapi fitnah yang lain yaitu Kaum Ya’juj dan Ma’juj yang bakal menjadi sekutu Iblis dalam rangka menghancurkan umat manusia. Wallahu a’lam bishowab.

Hari Ketigapuluh Tiga: Hikayat Pendoa

Hari Ketigapuluh Tiga: Hikayat Pendoa

Ada sebuah desa yang sedang terancam bencana alam, seluruh penduduk desa merasa cemas dan khawatir karena bencana tersebut dapat membinasakan seluruh pedesaan. Akhirnya mereka sepakat mengutus orang yang paling soleh di antara mereka untuk berdoa kepada Tuhan. Orang ini kemudian berdoa di tempat yang mustajab dan dengan doa yang telah disyariatkan oleh tuntunan agama. Dia berdoa dengan khusyu’, dan Tuhan mendengar doanya. Desa itu luput dari bencana alam.

Kisah itu menjadi legenda turun-temurun di desa itu. Suatu saat, desa tersebut kembali terancam bencana alam. Penduduk yang cemas kembali memutuskan untuk mengikuti kisah dalam legenda yaitu menyuruh salah seorang yang paling soleh di antara mereka untuk berdoa. Namun orang soleh ini hanya mengetahui tempat mustajab untuk berdoa, sedangkan doa penolak bala yang dibaca pendahulunya tidak ia ketahui Orang yang soleh ini mengawali doanya: “Wahai Tuhan, Engkaulah Pemelihara kami. Wahai Tuhan di tempat inilah dulu penduluku memohon kepada-Mu. Kini aku bersimpuh di tempat ini juga memohon kepada-Mu. Wahai Tuhan aku tahu bahwa diriku ini tidaklah sesoleh penduluku, ketika ia berdoa, Engkau mendengarkan doanya dan desa kami terluput dari bencana. Hamba tidak tahu apa yang telah pendulu hamba baca, namun hamba percaya bahwa Engkau akan mendengarkan doa orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada-Mu. Wahai Tuhan, hamba memohon kepada-Mu hindarkanlah desa kami ini dari bencana tersebut.” Dan Tuhan mendengar doanya, desa itu luput dari bencana.

Lama berselang kisah itu menjadi legenda di masyarakat. Ketika suatu saat desa itu mendapat ancaman bencana alam, para penduduknya kembali mengutus orang yang paling soleh di antara mereka. Orang soleh ini tahu doa yang dibaca oleh para pendulunya, namun ia tidak tahu tempat yang dipergunakan untuk berdoa. Akhirnya orang soleh ini pun berdoa di dalam mihrab di kampung itu. Doanya didengar Tuhan dan desa itu terluput dari bencana.

Kisah itu pun menjadi legenda di masyarakat. Kemudian untuk kesekian kalinya, desa itu terancam bencana alam. Para penduduk desa segera mengutus salah seorang yang paling soleh di antara mereka untuk berdoa. Namun orang soleh tersebut tidak tahu tempat berdoa dan tidak tahu doa yang telah dibaca pendulunya. Orang soleh ini berdoa: “Wahai Tuhanku, Engkau telah mendengarkan doa para leluhur kami, dan hamba percaya bahwa Engkau akan pula mendengarkan pinta hamba walaupun hamba berdoa bukan di tempat yang mustajab dan doa yang hamba baca bukanlah doa yang dibaca para pendulu hamba. Mohon wahai Tuhan, hindarkanlah desa kami dari bencana alam tersebut.” Doanya didengar Tuhan dan desa itu sekali lagi terhindar dari bencana alam.

Manusia seringkali lupa bahwa sebenarnya Allah itu sangat dekat dengannya. Allah tahu apa kesulitan manusia, Allah tahu bagaimana penderitaan mahluk-Nya, Allah tahu yang hamba-Nya maui. Allah selalu mendengar doa kita, dan Dia selalu membalasnya hanya terkadang kita sering tidak sadar bahwa Dia telah telah membalas pinta kita.

Hari Ketigapuluh Dua: Story of Dzulqornain Based on Holy Quran – Compared With Story of Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain), Is Alexander The Gr

Hari Ketigapuluh Dua: Story of Dzulqornain Based on Holy Quran – Compared With Story of Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain), Is Alexander The Great truly Dzulqornain?

Sejarah adalah hal lampau yang banyak mengandung banyak pelajaran. Seperti kisah Dzulqornain dalam Al Quran yang sarat dengan pelajaran. Kita juga mengenal Alexander the Great –yang oleh sebagian orang- sering disebut Iskandar Zulkarnain. Lantaran mereka berkeyakinan bahwa Dzulqornain adalah Iskandar. Benarkah Dzulqornain yang tersebut dalam Al Quran adalah Alexander the Great (Iskandar Zulkarnain) sebagaimana anggapan orang-orang? Mari kita simak kisah mereka baik yang termaktub dalam Al Quran dan sumber sejarah masa lalu.

Kisah Dzulqornain
Al Quran berkisah:

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya."

Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Berkata Dzulkarnain: "Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami."

Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.

Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: "Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?" Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi." Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)." Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku ku tuangkan ke atas besi panas itu." Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.

Dzulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar."
(QS Al Kahfi (18): 83-98)


Dalam Al Quran dinyatakan dengan tegas bahwa Dzulqarnain adalah umat Muslim, menyembah Allah dan beriman kepada-Nya. Tentang tahun berapa kisah kehidupannya memang belum ada kepastian sejarah yang berhasil mengungkapkannya. Dari Al Quran kita juga mendapatkan gambaran bahwa kisah kehidupan Dzulqornain yang berkelana hingga di wilayah tempat matahari terbenam (…dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam…), dan di tempat itu penduduknya belum beriman kepada Allah. Kemudian Dzulqornain melanjutkan perjalanan hingga di wilayah tempat matahari terbit (di sebelah timur), dan tidak ada pulau lain yang menghalangi (…dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu…).

Syekh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid berijtihad: Dzulqornain berjalan menuju tempat matahari terbenam yaitu di perairan wilayah Kepulauan Maladewa, ia melihat matahari terbenam di dalam laut berlumpur hitam. Fakta yang ada adalah matahari seolah tenggelam dalam lautan yang berwarna hitam. Hal ini bisa dilihat dari geografis kepulauan Maladewa yang terbentuk dari lelehan larva gunung berapi yang membeku dan membentuk karang (atol). Atol ini berbentuk cincin dan dari bawah kadang masih keluar gas dan semburan gunung berapi di bawah laut, kejadian ini masih terjadi hingga sekarang. Mungkin inilah yang dilihat oleh Dzulqornain lautan berlumpur hitam. Dan tempat terbenamnya matahari tepat di tengah cincin atol kepulauan tersebut. Sehingga seakan-akan matahari tenggelam dalam lautan berlumpur hitam. Kemudian Dzulqornain meneruskan perjalanan dengan kapal menuju wilayah terbenam matahari yaitu di perairan kepulauan Kirbiti (sebelah timur pulau Irian Indonesia). Di daerah tersebut memang tidak ada pulau-pulau selanjutnya. Sejauh mata memandang ke arah timur hanya akan dijumpai Lautan Teduh (Samudra Pasifik). Dan kepulauan Kirbiti merupakan padang rumput yang luas hampir-hampir tidak dijumpai pegunungan atau perbukitan.

Kemudian Dzulqornain melanjutkan perjalanan hingga di negara antara 2 gunung. Penduduk wilayah tersebut berbicara dengan bahasa yang nyaris tidak dimengerti oleh Dzulqornain. Dan mereka meminta kepada Dzulqornain untuk membuatkan tembok untuk mereka dari mencegah serangan Kaum Ya’juj dan Ma’juj. Dalam Al Quran kita dapati bahwa Kaum Ya’juj dan Ma’juj adalah kaum perusak. Namun Al Quran sendiri tidak merinci keberadaan kaum tersebut, arti nama suku tersebut dan lain-lain. Dari permintaan pembuatan tembok oleh para penduduk tersebut dapat kita simpulkan bahwa kaum yang ditolong oleh Dzulqornain adalah kaum yang masih ‘terbelakang’ teknologinya. Sehingga mereka belum bisa membuat tembok yang kokoh yang dapat melindungi mereka dari gempuran kaum Ya’juj dan Ma’juj. Dan Dzulqornain berhasil membangun tembok beton dengan komposisi tanah liat, besi, juga tembaga. Tembok ini tidak bisa dipanjat maupun dilubangi oleh kaum Ya’juj dan Ma’juj. (…Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi." Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)." Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku ku tuangkan ke atas besi panas itu." Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya…).

Ada hal menarik dari kata Ya’juj dan Ma’juj. Barangkali dari literatur bahasa Arab tidak akan kita jumpai arti kata Ya’juj dan Ma’juj. Namun begitu kita membuka kamus bahasa Cina Mandarin kita akan mendapati arti kata Ya’juj dan Ma’juj. Ya’juj berarti penduduk benua Asia, dan Ma’juj adalah penduduk benua berkuda. Apakah itu berarti Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu suku di Asia yang pandai berkuda? Wallahu a’lam.

Sekarang yang menjadi perhatian kita adalah, apakah sampai saat ini tembok itu masih nyata adanya? Sebagian ulama berpendapat bahwa tembok itu sekarang ghaib namun masih ada. Terbukti bahwa bangsa Ya’juj dan Ma’juj belum binasa dan masih ada hingga saat ini dan kelak mereka akan menjadi salah satu tanda hari kiamat. Mari kita simak hadits Nabi: “Dinding Ya’juj dan Ma’juj akan terbuka, maka mereka akan menyerang semua manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala: ‘Dan mereka akan turun dengan cepat dari seluruh tempat-tempat yang tinggi.’ (QS Al Anbiyaa (21):96). Maka mereka akan menyerang manusia, sedangkan kaum Muslimin akan berlarian dari mereka ke kota-kota dan benteng-benteng mereka, kemudian mereka mengambil binatang-binatang ternak bersama mereka. Sedangkan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) meminum semua air di bumi, sehingga apabila sebagian mereka melewati sebuah sungai maka merekapun meminumnya sampai kering dan ketika sebagian yang lain dari mereka melewati sungai yang sudah kering tersebut maka meraka berkata: ‘Dulu di sini pernah ada air.’ Dan apabila tidak ada lagi manusia yang tersisa kecuali seorang saja di sebuah kota atau benteng, maka berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Mereka-mereka penduduk bumi sudah kita habisi, maka yang tertinggal adalah penduduk langit, kemudian salah seorang dari mereka melemparkan tombaknya ke langit dan tombak tersebut kembali dengan berlumuran darah yang menunjukkan suatu bala dan fitnah. Maka tatkala mereka sedang asyik berbuat demikian, Allah SWT mengutus ulat ke pundak mereka seperti ulat belalang yang keluar dari kuduknya, maka pada pagi harinya mereka pun mati dan tidak terdengar satu nafaspun. Setelah itu kaum Muslimin berkata: ‘Apakah ada seorang laki-laki yang mau menjual dirinya untuk kami (berani mati) untuk melihat apa yang sedang dikerjakan musuh kita ini?’ Maka majulah salah seorang dari mereka dengan perasaan (menganggap) bahwa ia telah mati, kemudian ia menemui bahwa mereka telah mati dalam keadaan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (berimpitan), maka laki-laki tadi menyeru: ‘Wahai kaum Muslimin, bergembiralah karena sesungguhnya Allah SWT sendiri telah membinasakan musuhmu.’ Maka mereka pun keluar dari kota-kota dan benteng-benteng dan melepaskan ternak-ternak mereka ke padang rumput kemudian padang rumput itu di[penuhi oleh daging-daging binatang ternak, maka semua susu ternak tersebut gemuk (penuh) seperti tunas pohon yang paling bagus yang tidak pernah dipotong.

Namun saya cenderung meyakini bahwa tembok Dzulqornain masih berdiri utuh hingga sekarang dan tidak ghaib. Pertanyaan berikutnya di manakah tembok itu berdiri? Dan kaum Ya’juj Ma’juj sekarang berada di mana? Sekali lagi belum ada fakta yang berhasil mengungkap rahasia ini. Saya sepakat dengan ijtihad Syekh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid yang menyatakan bahwa satu-satunya tembok yang kokoh dan bertahan hingga ribuan tahun ini adalah Tembok Besar Cina, dan terbukti bahwa dengan tembok tersebut bangsa Cina telah berhasil menahan serangan dari luar. Dan melihat literatur bahasa Cina yang menyatakan bahwa Ya’juj Ma’juj berarti suku Asia yang pandai berkuda, boleh jadi wilayah yang mendapat pertolongan Dzulqornain adalah Cina Tengah khususnya wilayah Zheng Zhou. Wallahu a’lam.

Kisah Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great)
Setelah kita menyimak perjalanan Dzulqornain, marilah kita bandingkan dengan sejarah kehidupan Alexander. Mudah-mudahan dari sedikit perbandingan ini kita bisa mengambil kesimpulan: Apakah Dzulqornain yang termaktub dalam Al Quran adalah Alexander seperti yang diklaim oleh orang-orang pada umumnya.

Alexander adalah seorang pangeran dari kerajaan Macedonia. Dilahirkan di kota Pella, ibu kota Macedonia pada tahun 354 SM. Ayahnya bernama King Philip, di bawah kekuasaan ayahnya Alexander mendapat bimbingan kemiliteran secara ketat. Kemudian untuk pengajaran filsafat, kedokteran dan ilmu alam diserahkan sepenuhnya kepada Aristoteles.

Alexander memulai perangnya yang pertama dengan penyerbuan ke Thracia, pada saat itu ia berusia 16 tahun. Kemudian bersama-sama ayahnya, Alexander melebarkan kekuasaan kerajaan mereka hingga seluruh wilayah Yunani. Melalui pertempuran Cheronea mereka berhasil menaklukkan Athena dan Thebe. Rencana penyerbuan berikutnya adalah negeri Persia. Pada saat itu Persia adalah imperium terbesar dunia dengan jumlah tentara lebih dari 1 juta personil. Namun sebelum King Philip melaksanakan rencananya, ia dibunuh oleh Pausanias. Dengan demikian Alexander diangkat menjadi raja baru di Macedonia pada tahun 336 SM, usianya 18 tahun saat itu. Setahun setelah pengangkatannya menjadi raja, Alexander meluaskan kekuasaannya hingga wilayah Danube, yaitu wilayah utara negeri Macedonia.

Alexander Memasuki Persia
Persia, imperium terbesar dunia, diperintah oleh Raja Darius, dengan Jenderal utama Bessus. Persia menguasai kota-kota pelabuhan dan perdagangan penting di wilayah Asia. Saat itu hampir mustahil untuk mengalahkan Persia walaupun seluruh kekuatan Yunani bersatu.

Alexander memasuki wilayah Persia melalui Hellespont yaitu kota Pelabuhan sebelum memasuki wilayah Troya. Alexander membawahi 30.000 prajurit dari Macedonia. Ketika Alexander memasuki wilayah Granicus, ia harus berhadapan dengan pasukan Persia di bawah pimpinan Jenderal Memnon yang membawa 40.000 prajurit. Alexander mencatat prestasi gemilang dalam pertempuran ini, tercatat tidak kurang 20.000 prajurit Persia terbunuh. Kemudian melalui peperangan demi peperangan wilayah Persia yang luas dapat dikuasai oleh Alexander. Namun Persia belum sepenuhnya ditaklukkan Alexander.

Alexander meneruskan invasinya menuju Mesir dan melewati pertempuran Issus, Tyre dan Gaza. Penyebab pertempuran Tyre tidak lain karena penduduk Tyre menolak Alexander yang hendak mengunjungi kuil Apollo. Dalam penyerbuan itu Alexander membantai lebih dari 7000 penduduk dan menjual 30.000 lainnya sebagai budak. Dalam pertempuran Gaza, Alexander berhasil menawan gubernur Gaza. Kemudian Alexander menghukum mati gubernur Gaza dengan cara menyeret gubernur Gaza dengan kuda hingga menemui ajalnyua. Setelah kejadian ini, kota-kota lainnya menyerah dengan cepat. Memphis, ibu kota Mesir menyerah tanpa syarat, dan menjadikan Alexander sebagai salah satu dewa di Mesir.

Dari Mesir, Alexander menyeberangi Efrat dan Tigris dan menuju ibukota Persia, yaitu Babilonia. Tahun 331 SM, Alexander dengan 70.000 pasukannya berhadapan dengan Raja Darius yang membawa pasukan 1 juta personil infantri, 200 kereta kuda, 40.000 kavaleri, dan 200 pasukan gajah. Dengan pasukannya yang terlatih Alexander berhasil memukul mundur Darius. Darius kehilangan 4000 kavaleri, 300.000 infantri, dan 115 pasukan gajah. Sedangkan Alexander harus kehilangan 20.000 pasukannya.

Tahun 330 SM Alexander secara penuh menguasai Persia. Raja Darius meninggal dibunuh oleh jenderal utamanya yaitu Bessus. Kemudian Alexander menikahi putri Darius yang bernama Rokkane. Tahun 327 SM, Alexander memulai invasinya menuju India. Inilah peperangan paling sulit yang pernah dihadapi pasukan Alexander. Pasukan Alexander harus berhenti di Sungai Gangga, dan kembali ke barat. Dalam sejarah tercatat Alexander harus kehilangan ¾ pasukannya. Tahun 324 SM, sahabat terbaik Alexander yaitu Hephaiston meninggal. Dan setahun sesudahnya yaitu 323 SM, Alexander menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 33 tahun.

Komparasi Kisah Dzulqornain dangan Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain)

Agama
Dzulqornain: beragama Islam
Alexander: merupakan penyembah banyak Dewa (politeisme). Memuja dewa Apollo, dan menganggap dirinya adalah titisan Dewa Zeus.

Kisah hidup
Dzulqornaian: Menempuh perjalanan dari barat ke timur. Yaitu dari tempat terbenam matahari menuju tempat tenggelam matahari. Kemudian menuju daerah di antara 2 gunung.
Alexander: Menempuh jalan dari Macedonia, Yunani, Persia, Mesir, dan berhenti di India lantaran pasukan India sangat sulit dikalahkan.

Akhlaq (pribadi)
Dzulqornain: Sesuai akhlak seorang Muslim, yang beriman. Sekalipun dalam Al Quran tidak dijelaskan bahwa Dzulqornain melakukan peperangan, namun dari bantuannya kepada mereka yang lemah yang tertindas menunjukkan ketinggian akhlak mulia Dzulqornain.
Alexander: Hidupnya penuh ambisi untuk menguasai seluruh dunia ini dalam genggamannya. Alexander tidak mengenal ampun dalam membantai penduduk sipil, pasukan lawan, bahkan terhadap pasukannya sendiri yang berseberangan dengannya. Alexander tidak segan-segan membunuh siapa pun yang menentang keinginannya termasuk bawahannya jika menolak perintahnya. Seperti saat Alexander membunuh Parmenion dan Philotas, padahal kedua jenderal ini adalah orang kepercayaan ayahnya yaitu King Philip.

Kisah pembangunan tembok
Dzulqornain: membangun tembok untuk pertahanan dari serangan Ya’juj dan Ma’juj.
Alexander: Semenjak usia 16 tahun Alexander berada dalam medan perang. Hampir seumur hidupnya Alexander berperang. Dalam sejarah tercatat bahwa Alexander tidak pernah sedikit pun membangun negerinya juga negeri-negeri yang telah ia taklukkan.


Setelah kita melihat perbandingan di atas, bisa kita tarik sebuah kesimpulan. Dzulqornain yang termaktub dalam Al Quran, bukanlah Alexander the Great sebagaimana yang selama ini dikisahkan. Harapan saya, dengan mengetahui kisah ini kita bisa mengambil pelajaran dan tidak lagi menganggap Alexander The Great yang selama hidupnya diwarnai dengan pertumpahan darah dan kekejian bukanlah Dzulqornain sebagaimana yang diceritakan dalam Al Quran. Wallahu’alam.

Hari Ketigapuluh Satu: Refleksi Guru Yang Tuli

Hari Ketigapuluh Satu: Refleksi Guru Yang Tuli

Ada seorang Guru yang dijuluki Guru yang Tuli. Walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak tuli. Inilah kisahnya sehingga ia dijuluki Guru yang Tuli.

Suatu hari sang Guru kedatangan seorang tamu wanita yang hendak menanyakan permasalahannya dengan Guru. Mendadak perut wanita ini sedemikian mulas, dan wanita ini buang angin di depan sang Guru. Meskipun suara buang angin wanita ini lirih, namun cukup terdengar ke seluruh ruangan. Masing-masing orang yang berada di ruangan itu memendam perasaan masing-masing, ada yang merasa kasihan terhadap wanita ini, ada yang merasa wanita ini tidak sopan, ada yang marah, ada yang mentertawakan dan lain-lain.

Demi menjaga nama baik dan perasaan wanita ini, sang Guru pura-pura tidak tahu apa yang terjadi dan berkata, “Maaf, bisakah Anda mengulang pertanyaanmu tadi. Pendengaranku sudah kurang jelas sehingga aku sama sekali belum menangkap apa yang hendak kau tanyakan.”

Wanita penanya ini merasa sangat bersyukur, bahwa sang Guru ini tidak mendengar saat ia buang angin. Perasaan malunya terpupus dan ia mendapatkan kembali kepercayaan diri untuk menanyakan masalahnya kepada sang Guru. Demikianlah akhirnya oramg-orang memanggil guru itu dengan julukan Guru yang Tuli. Dan guru ini pun tidak keberatan dengan julukan itu.

Bayangkan apa jadinya jika sang Guru tidak berpura-pura menjadi tuli. Atau bahkan ikut mentertawakan saat wanita itu buang angin? Barangkali wanita ini tidak akan pernah lagi bertemu dengannya atau lebih parah lagi jika ia malu menghadapi dunia dan mengasingkan dirinya. Kita jadi ingat kisah Badui yang mengencingi masjid Rasulullah, pada saat itu sahabat yang marah berniat menghukum Badui yang mereka anggap keterlaluan itu. Ada yang bahkan siap untuk membunuh Badui itu. Namun dengan penuh kelembutan Rasulullah meredakan amarah para sahabat. Kemudian Rasulullah mendekati Badui itu dan menasihati bahwa masjid adalah tempat suci, dan kencing tidak diperkenankan dalam masjid. Badui ini bisa menerima penjelasan Rasulullah dengan senang hati. Coba bayangkan apabila jalan kekerasan yang ditempuh oleh Rasulullah, yaitu dengan membiarkan sahabat menghukum Badui tadi, barangkali suku Badui itu akan menuntut balas, atau yang lebih parah lagi mungkin Islam tidak akan bisa diterima oleh suku-suku Badui.

Saudaraku, saya merasa prihatin dengan keadaan umat Islam belakangan ini. Hanya lantaran berbeda persepsi tentang hal-hal yang bukan merupakan pokok agama, label kafir, murtad, bid’ah begitu santar digaungkan. Hanya lantaran kita tidak sepaham atau segolongan dengan saudara kita muslim yang lain, darah kita dinyatakan halal, kita boleh diperangi. Naudzubillah... Padahal bukan dengan cara seperti ini Rasulullah menyampaikan agama. Rasulullah menyampaikan kabar gembira ini dengan kelembutan, bukan dengan peperangan. Adapun peperangan dalam Islam diperlukan hanya jika ada yang menghalangi jalan dakwah kita. Demikian mudahnya kita mengambil perbedaan sebagai sebab permusuhan antar sesama kita, dan yang lebih herannya lagi ternyata kemudian kita mengambil orang kafir sebagai penolong kita untuk menghancurkan saudara kita yang sesama Muslim. Bisa kita lihat bagaimana ”menurutnya” negara-negara Islam Timur Tengah yang berdalih memberantas terorisme, menawarkan landasan udara, tentara nya untuk mengepung Irak dan membunuhi penduduk sipil yang tidak berdosa.

Kita juga prihatin dengan ketidakpedulian kita terhadap pembodohan dan pemiskinan negara-negara berkembang yang kebanyakan negara Islam –termasuk Indonesia di dalamnya- oleh negara-negara Barat dan Eropa. Tenaga dan sumber daya kita dieksploitasi habis-habisan, untuk memenuhi kantong-kantong kalangan konglomerat Barat. Dalam sebuah reportase di sebuah media televisi, dipaparkan bagaimana Barat mengeksploitasi habis-habisan tenaga kerja dan sumber daya kita untuk menghasilkan sebuah produk sepatu terkenal. Sepatu tersebut diproduksi oleh anak bangsa kita, dihargai dengan harga yang sangat murah, kemudian dikirim ke Eropa dengan harga berlipat-lipat dari harga beli. Dan yang lebih mengherankan lagi, setelah barang tersebut dikirim lagi ke Indonesia –dengan harga berkali-kali lipat tentunya- orang-orang ”kaya” negeri kita membelinya dengan sangat antusias. ”Wajar mahal, kan ini sepatu dengan Branded”, atau ”rego nggawo rupo”, pikir mereka. Padahal sepatu-sepatu itu dibuat di tanah air, boleh dikata produk lokal yang tidak branded pun sebetulnya tidak jauh beda kualitasnya dengan sepatu branded itu. Sekiranya orang-orang kaya di negeri kita tidak mudah termakan iklan dan terbujuk rayuan, mungkin mereka bisa membeli sepatu produksi lokal, yang toh tidak kalah kualitasnya dan menyisihkan sebagian kelebihan hartanya yang sedianya untuk membeli sepatu branded untuk sedekah atau infak, insya Allah persoalan peduli sosial dapat diatasi.

Saudaraku, ada sebuah keluarga yang tergolong dalam kelompok Keluarga Miskin, sehingga mereka mendapatkan kartu Jamkesmas. Anak-anak mereka tidak sekolah dan harus berkerja sejak usia dini. Kesehatan mereka tidak terurus apalagi pendidikan mereka. Yang mengherankan adalah bapak dan anak-anak lelakinya dalam keluarga itu demikian doyan merokok. Satu hari masing-masing orang yang merokok dalam keluarga itu menghabiskan kurang lebih 1 bungkus rokok. Karena anak lelakinya ada 2 orang, maka keluarga itu menghabiskan 3 bungkus rokok per hari. Di sini saya tidak akan membicarakan halal-haram nya, tetapi saya ingin mengajak kita semua menelaah masalah tersebut. Jika 1 bungkus rokok harganya Rp. 5000, berarti keluarga itu menghabiskan Rp.15.000 per hari. Dalam satu bulan berarti uang yang mereka bakar adalah Rp.450.000, dan jika setahun maka yang telah mereka bakar Rp.5.400.000. Sebuah jumlah yang tidak sedikit yang disia-siakan dengan dibakar begitu saja. Sejumlah uang itu tentunya bisa digunakan untuk biaya pendidikan anak-anak, sekurang-kurangnya pendidikan dasar bisa diraih. Dari sini saja bisa kita lihat, ternyata masyarakat kita masih perlu sekali ”disadarkan”, supaya tidak terjadi pemborosan dan mengutamakan skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan. Belum lagi kesadaran untuk memelihara kesehatan dan lain-lain.

Saudaraku, fenomena di atas adalah kejadian nyata di negeri kita, dan masih banyak lagi perut-perut kelaparan di negeri kita sementara orang-orang dengan mobil Jaguar dan perkumpulan motor Harley Davidson bisa berkeliling Indonesia dengan nyaman. Melalui pembelajaran dari guru yang tuli –yang begitu peka terhadap kesulitan orang lain- mudah-mudahan kita bisa bisa mengambil hikmah, bisa mengambil pelajaran supaya kita juga ikut peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Hari Ketigapuluh: Ketenangan

Hari Ketigapuluh: Ketenangan

Seorang Guru ditanya oleh muridnya, mengapa hidupnya selalu tenang dan berbahagia sekalipun dalam keadaan sulit.

Sang Guru berkata, “Aku beribadah di kala beribadah, aku makan di kala makan, aku tidur di kala tidur, dan aku membaca di kala membaca. Demikianlah Nak yang aku lakukan.

“Tetapi Guru pekerjaan itu juga dilakukan oleh orang-orang , “ sahut muridnya, ”Dan mereka tidak seperti Guru.”

“Nak di dalam melakukan segala sesuatu, maka lakukanlah ia sebagaimana ia harus dilakukan. Di kala engkau makan maka nikmatilah engkau sedang makan. Di kala engkau tidur pulas pikirkanlah bahwa engkau sedang tidur, demikianlah seterusnya. Kebanyakan orang-orang selalu memikirkan yang lain pada saat melakukan sesuatu. Di kala makan ia ingat tugasnya, di kala duduk ia memikirkan pekerjaannya, di kala istirahat ia membebani pikirannya dengan keluarganya, hartanya dan lain sebagainya. Begitulah Nak, ambisi yang kuat telah mempengaruhi dirinya. Nak, ambisi itu penting, tetapi ambisi yang berlebihan menyebabkan kehidupan ini menjadi tidak tenang dan tertekan.”

Saudaraku, pada saat saya sedang anamnesis dengan seorang pasien gagal ginjal, pasien itu bercerita kenapa ia bisa sampai mendapatkan penyakit tersebut. Ia seorang yang berhati-hati dalam makanan apalagi konsumsi obat-obatan, sehingga kecurigaan penyebab gagal ginjal akibat makanan dan obat-obatan bisa disingkirkan. Ia juga tidak pernah sedikit pun mengkonsumsi barang terlarang seperti minuman keras, narkoba atau semacamnya. Pasien itu mengatakan bahwa dirinya mulai terserang penyakit bermula dari obsesinya yang sangat tinggi dan keinginannya yang terlampau besar. Sehari-hari ia penuhi dengan memikirkan cara bagaimana supaya ia bisa meraih keuntungan, bisa menembus pasar dengan modal sedikit hasil berlimpah, begitu seterusnya. Ia tidak pernah membiarkan pikirannya berhenti untuk tidak berpikir. Belum selesai satu urusan, sudah datang urusan yang lain yang tidak kalah menjanjikan keuntungannya. Rupanya ambisi dan obsesinya yang terlalu besar ini telah menggerogoti tubuhnya dari dalam. Tiba-tiba saja ia mulai menderita darah tinggi, disusul dengan diabetes, kemudian sampailah ia pada kondisi gagal ginjal. Suatu keadaan yang sampai saat ini belum ada penyembuhannya. Dan hasil akhirnya bisa ditebak, bahwa seluruh keuntungan yang ia dapatkan selama ia bekerja keras dan berpikir membabi buta itu sudah habis untuk biaya pengobatan dan cuci darah.

Saudaraku, selama kita hidup kita tidak akan lepas dari tanggung jawab yang ada. Kita juga merupakan anggota keluarga, masyarakat, warga negara yang memiliki hak dan kewajiban. Sebagai orang tua kita wajib menafkahi keluarga, sebagai karyawan atau pekerja kita memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan kita, sebagai umat kita juga berkewajiban menyampaikan dakwah. Tentu saja hal ini bisa membuat kita tertekan, gelap mata dan lain-lain. Namun dengan arahan Al Quran, insya Allah kita akan bisa melalui semua dengan tenang. Mari kita simak ayat Al Quran mengajarkan:

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah (62): 10)

Maksudnya kita harus secara khusuk mengerjakan suatu pekerjaan, kemudian setelah selesai kita susul dengan pekerjaan yang lain. Hal yang paling penting di sini adalah MENGINGATI ALLAH, ingatlah bahwa bekerja mencari nafkah adalah ibadah, dengan demikian hati kita akan bersih karena kita yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi kita. Kita akan merasakan bahwa rejeki adalah urusan Allah, kita tidak akan melakukan kecurangan, memakan harta yang bukan hak dan tidak akan memikirkan cara kotor untuk mendapatkan rejeki. Ambisi kita yang menggebu-gebu, insya Allah akan terarah menuju kebaikan bukan penyakit seperti yang terjadi seperti yang dialami oleh pasien di atas.

Wallohu a’lam bishowab.

Perjalanan hidup ini memang sangat panjang. Ibarat orang berlari marathon, jangan sekali-kali melakukan sprint sejak garis awal. Siapa pun yang melakukan hal itu, pasti akan kehabisan nafas. Akhibatnya ia tidak sampai di garis finish.

Hari Keduapuluh Sembilan: Surat Yang Tak Dibaca

Hari Keduapuluh Sembilan: Surat Yang Tak Dibaca

Seorang Ustadz bersama murid-muridnya di sebuah pesantren. Pesantren itu selalu menjadi buah bibir baik oleh mereka yang suka maupun tidak suka. Ustadz tersebut selalu mengajarkan sunnah Rasulullah, dan hal itu sedikit berbeda dengan adat istiadat setempat.

Tidak heran, banyak celaan, hinaan, bahkan ancaman yang ditujukan pada pesantren itu. Para murid selalu terbakar oleh penghinaan tersebut, namun herannya ustadz mereka sama sekali tidak terpengaruh. Ia tetap bermasyarakat sebagaimana biasanya. Di masjid, di pondok, di warung, di pasar dan di mana saja ia selalu mendengarkan semua penghinaan itu. Dan Ustadz itu sama sekali tidak pernah membalas penghinaan-penghinaan itu.

Karena sudah tidak tahan, para murid menghadap Ustadz, “ Wahai Ustadz, biarkan kami membalas semua penghinaan ini.”

Ustadz itu tersenyum, “Wahai anak-anakku. Bagaimana pendapat kalian jika ada seseorang yang berkirim surat padamu, lalu engkau sama sekali tidak membacanya. Engkau tidak akan terpengaruh isinya bukan? Atau jika ada seseorang yang menyuguhkan makanan beracun padamu dan engkau tidak memakannya. Apakah kira-kira engkau akan keracunan?”

“Tenangkan hatimu, wahai anak-anakku. Sesungguhnya mereka juga saudaramu, hanya saja mereka belum mengerti. Yang harus kalian lakukan adalah memberi penjelasan kepada mereka. Insya Allah lama-lama mereka mengerti.”

Saudaraku, mudah-mudahan kisah di atas bisa menjadi penyegar diri kita pada saat kita mendapat tantangan dalam berdakwah. Jalan dakwah bukanlah jalan yang lurus dan menurun, akan tetapi jalan yang berat dan mendaki. Akan tetapi janganlah semua itu menjadikan kita urung dan mundur dari jalan dakwah. Siapakah yang lebih baik ucapannya di muka bumi ini selain para penyeru di jalan Allah?

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim?" (QS. Fushshilat (41): 33)

Wallohu a’lam bishowab

Hari Keduapuluh Delapan: Tentang Ibadah Kita

Hari Keduapuluh Delapan: Tentang Ibadah Kita

Kawan saya bercerita, pada saat ia sedang pelatihan selama 6 hari, ia mengamati ternyata banyak dari peserta pelatihan yang Muslim namun tidak melaksanakan kewajiban yaitu sholat fardhu 5 waktu. Bahkan sewaktu ia kembali dari masjid, salah seorang peserta yang tidak sholat ada yang menyindirnya, “Mas, baru dari masjid ya. Dapat apaan tuh di sana?” Tentu saja pertanyaan itu tidak ditanggapi oleh kawan saya. Kawan saya prihatin, mengapa orang-orang begitu mudah melalaikan ibadah fardhu nya, seakan-akan sholat itu hanyalah beban dan mendirikan sholat merupakan suatu pekerjaan yang sia-sia.

Saudaraku, fenomena yang dialami kawan saya bukanlah satu-satunya yang terjadi di lingkungan kita. Banyak umat Islam yang selalu menghindar jika diajak sholat, bahkan ada yang pernah berkomentar, “Lho sholat fungsinya buat apa? Itu yang rajin sholat saja tidak pernah kaya. Kariernya pun sampai di situ saja, tidak pernah naik jabatan, tidak punya rumah, apalagi mobil. Apa ada artinya permohonan dan sholat kita?”

Saudaraku, mendengar komentar seperti ini saya jadi ingat senior saya pernah bercerita tentang janin dalam kandungan. Janin dalam rahim ibu adalah mahluk yang benar-benar beruntung, katanya. Bagaimana tidak beruntung, tanpa harus bekerja keras ia telah mendapat suplai makanan dan energi dari ibunya melalui tali pusat dan plasenta. Seluruh kebutuhannya selalu terpenuhi. Karena janin tidak perlu bekerja dalam mendapatkan nutrisi, maka anggota tubuh janin yang lain selain tali pusat dan plasenta seperti tangan, kaki, mata, hidung, telinga dan mulut tidak memiliki arti apa pun dalam kandungan. Malahan anggota tubuh seperti kaki dan tangan seringkali mengganggu posisi janin dalam kandungan. Untuk mendapatkan posisi yang nyaman, terkadang janin harus menendang-nendang rahim sang ibu. Ya dalam ruang sekecil itu memang sulit baginya bergerak bebas, apalagi ditambah adanya tangan dan kaki. Jelas bahwa anggota tubuh janin selain tali pusat dan plasenta dalam rahim merupakan sesuatu hal yang tidak berguna. Bahkan terkesan sangat mengganggu. Namun sesuatu yang tidak berguna dalam rahim inilah yang justru berperan penting dalam kehidupan di dunia ini. Sedangkan sumber kehidupan janin dalam kandungan yaitu tali pusat, justru yang pertama kali dipotong bidan manakala bayi dilahirkan di dunia ini.

Bayangkan, seandainya janin dilahirkan tanpa anggota badan, tanpa mata, telinga, dan mulut. Sungguh suatu penderitaan baginya untuk menjalani kehidupan di dunia ini.

Begitulah kira-kira gambaran ibadah kita di masa sekarang ini. Memang ada yang sangat khusyuk sholat, sholat jamaah tidak pernah ia tinggalkan, tahajjud ia dirikan setiap malam, namun dalam kehidupan duniawi ia kurang sukses. Tidak pernah naik jabatan, banyak utang di sana-sini dan lain-lain. Tetapi sesungguhnya tiap-tiap segala sesuatu ada masanya. Apakah sholat menjadi takaran kesuksesan yang diukur dengan materi? Seperti halnya tangan dan kaki kita dalam kandungan yang seakan tidak memberi manfaat, demikian pula dengan sholat kita dan ibadah kita yang lain, saat ini mungkin belum nampak manfaatnya selain ketaqwaan, ketawadhu’an dan keikhlasan seorang hamba. Namun di akhirat nanti saat tangan dan kaki kita tidak berperanan, ibadah-ibadah kitalah yang saat itu berperan sebagai ‘tangan dan kaki’ kita. Bayangkan apa jadinya jika kita melepas sholat kita, bukankah nanti di akhirat kita tak ubahnya seperti bayi yang dilahirkan tanpa anggota badan, tanpa mata dan telinga. Dan jika sholat kita, ibadah kita buruk tanpa keikhlasan, bukankah itu sama artinya kita membuat cacat ‘tangan dan kaki’ kita di akhirat? Padahal ‘tangan dan kaki’ kita inilah yang nantinya akan bekerja menolong kita dari siksa api neraka.

Saudaraku, marilah kita kembali membenahi ibadah kita dan sholat kita. Peringatkan saudara-saudara kita yang lalai dalam sholat, kurang ikhlas dalam beribadah. Ingatlah peringatan Allah dalam firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At Tahrim (66): 6)

Wallohu a’lam bishowab

Minggu, 21 September 2008

Hari Keduapuluh Tujuh: Sederhana

Hari Keduapuluh Tujuh: Sederhana

Suatu hari salah seorang putra Khalifah Umar pulang dari madrasah sambil menangis. Lalu Umar bertanya, “Mengapa engkau menangis nak?”

Putranya menjawab bahwa teman-temannya di sekolah terus-menerus mengejeknya, “Lihatlah, putra Amirul Mukminin bajunya tambalan semua.”

Merasa kasihan terhadap putranya Umar segera menulis surat kepada bendaharawan Baitul Maal, isinya bahwa Umar hendak meminjam uang sebesar 4 dirham. Adapun pembayarannya dipotongkan dari gajinya bulan depan. Namun balasan surat dari sang bendaharawan bukan uang seperti yang dikehendaki Umar melainkan sepucuk surat. Isinya, “...Wahai Umar, apakah engkau yakin masih hidup hingga bulan depan sehingga berani memastikan untuk membayar dengan gajimu bulan depan?...”

Membaca surat itu Umar langsung tersungkur dan menangis, kemudian Umar menasehatkan putranya untuk bertahan dalam kesederhanaan. Akhirnya baju yang penuh tambalan itu pun tetap dikenakan putra Khalifah dalam bersekolah di madrasah.

Saudaraku, kisah di atas adalah kisah nyata yang terjadi di masa Khalifah Umar bin Khottob ra. Umar yang seharusnya bisa hidup dalam kecukupan ditambah dengan fasilitas yang ia dapatkan karena jabatannya sebagai khalifah, sebagai panglima perang tertinggi dalam negeri Islam, namun Umar memilih untuk hidup bersahaja. Bahkan untuk membeli baju yang pantas buat putranya saja ia tidak mampu. Itulah gambaran hidup penuh kesederhanaan mencontoh teladan terbaik yang pernah ada yaitu Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad begitu bersahaja, sehingga pernah dalam rumah tangga beliau tungku dapurnya tidak menyala selama 2 bulan lamanya. Lantaran memang tidak ada yang bisa dimasak. Pada saat perang Khandaq, di tengah pembuatan parit para sahabat yang bekerja dengan perut lapar, mengganjal perut mereka dengan sebuah batu. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah ternyata Rasulullah SAW sendiri telah mengganjal perutnya dengan dua buah batu. Pernah suatu ketika, selesai mengimami sholat Rasulullah segera pulang ke rumah. Para sahabat heran, ada apa gerangan sehingga Rasulullah begitu terburu-buru sampai melewatkan dzikir ba’da sholat. Tak berapa lama kemudian Rasulullah kembali ke masjid sambil membawa beberapa uang dirham. Kemudian beliau membagi-bagikannya kepada fakir miskin. Beliau menjelaskan bahwa sebelumnya beliau mendapat hadiah beberapa dirham, dan dan setelah sholat beliau ingat bahwa dirham itu masih tersimpan di rumah beliau. Maka beliau pun kembali ke rumah dan membagi-bagikan uang tersebut. Itulah Rasulullah SAW yang tidak pernah melewatkan uang dinar maupun dirham bermalam lebih dari 1 hari di rumah. Ketika beliau SAW wafat, bukanlah harta benda yang beliau tinggalkan untuk ahli waris beliau. Karena saat itu bahkan baju besi beliau tengah tergadai untuk sekantung gandum. Beliau SAW mewariskan Islam kepada seluruh umatnya.

Hidup sederhana. Kurang lebih itulah gambaran kehidupan Rasulullah SAW. Sekarang mari kita tengok kehidupan kita di masa sekarang. Bangsa Indonesia, dalam pandangan orang luar, adalah bangsa yang luar biasa konsumtif. Mengapa? Karena kita begitu mudah berbelanja untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Ada di antara kita yang begitu memperhatikan mode, sehngga ia harus selalu mengganti kendaraan, hand phone, rumah, perabotan dan lain-lain. Padahal barang-barang yang ia miliki masih baik dan tidak rusak. Ada juga di antara kita yang hobi mengkoleksi barang mewah, seperti mobil, perumahan, permata, perhiasan dan lainnya. Maka kita tidak heran jika kita bisa menyaksikan mobil-mobil mewah berkelas begitu banyak berlalu lalang di jalan raya. Padahal di negara Barat, mobil-mobil mewah yang berlalu lalang bisa dihitung dengan jari. Bangsa kita cenderung suka besar pasak daripada tiang. Banyak dari kita yang mmbeli barang karena ingin bukan karena kebutuhan. Tidak sedikit dari kita yang terpancang membeli merek suatu barang. Asal merek terkenal, berapa pun harganya berani kita beli. Sebaliknya produk yang sama, baik mutu dan kualitasnya namun dari merek tidak terkenal dengan harga yang lebih murah seringkali kita hindari. Sifat ini pula yang terkadang membuat perekonomian negeri kita sulit berkembang. Bangsa kita telah memproduksi berbagai produk dalam negeri yang bermutu dengan harga yang terjangkau, namun kita lebih tenang jika membeli produk yang sama merek luar negeri ternama dengan harga berkali-kali lipat.

Saudaraku, ada sebuah sekuel cerita menarik yang patut kita simak. Pada masa penjajahan Inggris di tanah Jawa, salah seorang bangsawan Inggris memerintahkan pembantunya untuk berbelanja keperluan sehari-hari di sebuah toko milik orang Inggris. Suatu hari, pembantunya mengembalikan sejumlah uang belanja hari itu kepada bangsawan tersebut. Bangsawan itu heran, mengapa ada kembalian sebab biasanya uang itu pas. Pembantunya menjelaskan, bahwa hari ini ia berbelanja di toko orang Arab, harga-harga di sana jauh lebih murah daripada di toko orang Inggris. Bangsawan Inggris itu bukannya senang dengan penuturan pembantunya, lalu ia berkata, “Besok lagi belanja, tetap di toko orang negeri kita, biarpun lebih mahal tidak apa-apa.” Subhanallah... bagaimana dengan orang-orang di negeri kita?

Saudaraku, bangsa kita di samping terkenal karena sifat konsumerisme-nya, juga terkenal dengan sifat pemborosannya (isrof). Lihatlah pemborosan dana negara melalui persidangan anggota parlemen yang menghabiskan dana milyaran rupiah, insentif dan mobil dinas mewah yang dipakai para petinggi negara, anggaran tak terbatas untuk studi banding dan lain-lain. Lalu lihatlah bagaimana orang-orang kaya di negera ini yang kerap menyelenggarakan pesta yang menghabiskan dana milyaran rupiah. Lalu lihatlah juga pribadi kita masing-masing, bukankah kita sering dimanjakan oleh kendaraan? Untuk pergi ke tempat yang tidak jauh saja kita menggunakan kendaraan bermotor, padahal jarak itu bisa ditempuh dengan sepeda atau jalan kaki. Itulah sekelumit bangsa kita. Padahal Allah SWT telah mengingatkan kita tentang pemborosan ini:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al Isra (17): 26-27)

Naudzubillahi min dzalik, jika kita tergolong dalam kaum pemboros yang merupakan saudaranya setan. Saudaraku, setelah melihat kenyataan di atas, sudah sepatutnya kita merubah hidup kita. Hiduplah sederhana, dimulai dari pribadi kita masing-masing -ifdak bi nafsih. Pepatah Cina mengatakan: Perjalanan seribu mil, hanya akan dimulai dari mil yang pertama.

Jadi kalau tidak sekarang, kapan lagi.

Hari Keduapuluh Enam: Itsar

Suatu ketika keluarga saya diundang oleh kolega untuk menghadiri pesta perkawinannya di sebuah hotel. Hidangan pesta yang berlimpah seakan tidak pernah terputus dan kemewahan pestanya sangat terasa. Ketika saya bertanya kepada salah seorang tamu, kira-kira berapa uang yang dikeluarkan kolega saya untuk sebuah pesta semacam ini. Tamu yang kebetulan masih famili itu menjawab, “250 juta rupiah.” Tidak heran jika sampai menghabiskan dana begitu besar, karena pesta itu benar-benar mewah dan megah. Untuk membuat kartu undangan menghabiskan 60 juta rupiah, sewa gedung hotel 50 juta rupiah untuk beberapa jam saja, belum lagi untuk konsumsi dan lain-lain. Dalam hati kecil saya muncul suara, “Ah ini pemborosan.” Terus terang saya tidak betah dalam suasana hingar bingar penuh kemewahan semacam itu. Setelah mengucapkan selamat kepada kolega saya, saya pamitan keluar dari hotel tempat resepsi. Dalam perjalanan pulang, –kebetulan rumah saya berbeda kota dengan lokasi resepsi kolega saya- saya menjumpai suatu hal yang sangat bertolak belakang dengan kemewahan yang baru saja saya lihat. Di pinggiran kota, ada sebuah lingkungan kumuh dengan anak-anak yang tidur hanya ditutupi selembar kardus bekas mie instan. Ada anak-anak yang sedang bermain sepak bola dari plastik. Kondisi rumah yag jauh dari kelayakan, sanitasi lingkungan yang sangat kurang, ancaman gizi buruk dan penyakit dan lain-lain. Benar-benar sangat kontras dengan kemewahan tadi. Saya tidak tahu sudah berapa kali anak-anak itu mengecap makanan enak. Jangankan mengecap makanan enak, sehari semalam belum tentu mereka bisa makan 3 kali. Sungguh suatu pemandangan yang memilukan hati. Dan yang lebih menyakitkan, pemandangan menyedihkan semacam ini bisa dijumpai di seluruh kota-kota tanah air.

Tanpa terasa, mata saya menjadi merah. Rasanya air mata hampir tak terbendung. Betapa tidak, di negeri ini ada yang bisa membuat pesta untuk sehari semalam dengan menghabiskan dana ratusan juta rupiah, malah ada kawan di Jakarta yang sampai menghabiskan dana ½ milyar rupiah. Tetapi di negeri ini pula, banyak sekali orang-orang yang hanya untuk makan sehari sekali saja tidak mampu. Lihatlah kasus malnutrisi di negeri ini, lalu kasus tentang 1 keluarga yang meninggal akibat kelaparan, para pengungsi bencana negeri ini juga terancam kelaparan, ketakutan dan penyakit dan lain-lain. Masya Allah sungguh ironis sekali. Padahal Allah telah mengingatkan kita:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'Ainul Yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS At Takatsur (102): 1-8)

Kita jadi ingat Umar bin Khattab ra dan Umar bin Abdul Azis semasa hidupnya menjadi khalifah. Begitu menjadi khalifah, seluruh hidupnya diabadikan sebesarnya untuk kepentingan umat. Padahal sebelum menjadi khalifah, keduanya terbiasa hidup serba berkecukupan. Inilah itsar, yaitu kebiasaan mendahulukan kepentingan orang lain. Kita ingat juga kisah Khuzaifah ra dalam perang Yarmuk. Kala itu banyak orang yang terluka dan kehausan memerlukan air. Khuzaifah membawa air untuk keponakannya yang terluka, tetapi di kejauhan ada orang yang meminta air. Keponakan Khuzaifah tidak jadi minum dan meminta pamannya memberikan air itu kapada sahabat lain yang memerlukan. Ketika tiba pada sahabat lain, dari kejauhan ada pula yang meminta air, sahabat kedua ini pun tidak jadi minum dan dia meminta Khuzaifah memberikan air itu kepada sahabat lain yang sangat membutuhkan. Tiba di sahabat ketiga, ketika Khuzaifah hendak memberikan air minum ternyata sudah meninggal. Khuzaifah segera lari ke sahabat kedua, tenyata juga sudah meninggal. Akhirnya Khuzaifah lari kembali kepada keponakannya, tetapi Allah SWT pun telah mengambil nyawa keponakannya. Inilah kisah tentang itsar, bagaimana para sahabat nabi mengamalkan ajaran Islam untuk mendahulukan kepentingan orang lain melebihi kepentingan dirinya sendiri. Alangkah indahnya jika tradisi itsar ini berkembang dalam pribadi-pribadi kaum Muslim. Orang tidak berlomba-lomba dalam kemewahan tetapi berlomba-lomba dalam kebaikan dan kebajikan sebagaimana termaktub dalam Al Quran:

.... Maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan ..... (QS Al Baqoroh (2): 148)

Orang tidak lagi bersifat egois berlebihan (‘annaniyah-nafsiyah) tetapi bersifat sosial. Menganggap manusia itu sama di mata Tuhan, bisa merasakan penderitaan orang lain. Sayangnya di pada masa sekarang ini orang diajarkan dan diciptakan dalam kondisi untuk bersifat egois dan mencintai dirinya melebihi apa pun. Semenjak dari bangku sekolah kita dididik untuk selalu bersaing, untuk lulus dengan predikat terbaik. Kalau nilai kita jelek, kita selalu dibayang-bayangi kegagalan di masa depan. Seakan-akan nilai akademik pasti menjamin kesuksesan di masa depan. Setelah lulus sekolah, kita pun masih harus berebut dalam dunia kerja yang serba keras. Meskipun gelar sarjana sudah di tangan, namun pekerjaan pun tak kunjung kita peroleh. Akibatnya cara-cara kotor pun digunakan, dengan suap, kolusi dan lain-lain. Kalau perlu kita sikut sana, sikut sini asalkan kita bisa mendapat pekerjaan atau jabatan. Tidak peduli dengan mereka yang berlaku jujur. Padahal cara-cara seperti ini jelas sangat ditentang dalam Islam. Itulah produk-produk kapitalisme dan egoisme yang jauh sekali dari tradisi itsar dalam Islam. Dan itulah yang tengah terjadi di negeri kita.

Terakhir, marilah sejenak kita muhasabbah diri kita. Sudahkah tradisi itsar ini kita warisi? Jika sudah, jangan biarkan tradisi itsar yang mulia ini padam dari diri kita. Perbanyaklah amal soleh, dan berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan, Insya Allah kita akan terus dituntun Allah dalam jalan-Nya yang lurus.

Fastabiqul khoirot...

Kalau burung pipit membuat sarang di hutan

Sarang itu hanya menempati sebuah ranting

Kalau rusa memuaskan dahaganya di sungai

Ia minum tidak lebih dari yang dapat ditampung lambungnya

Kita mengumpulkan barang dan harta

Karena hati kita kosong