Hari Ketigapuluh Satu: Refleksi Guru Yang Tuli
Ada seorang Guru yang dijuluki Guru yang Tuli. Walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak tuli. Inilah kisahnya sehingga ia dijuluki Guru yang Tuli.
Suatu hari sang Guru kedatangan seorang tamu wanita yang hendak menanyakan permasalahannya dengan Guru. Mendadak perut wanita ini sedemikian mulas, dan wanita ini buang angin di depan sang Guru. Meskipun suara buang angin wanita ini lirih, namun cukup terdengar ke seluruh ruangan. Masing-masing orang yang berada di ruangan itu memendam perasaan masing-masing, ada yang merasa kasihan terhadap wanita ini, ada yang merasa wanita ini tidak sopan, ada yang marah, ada yang mentertawakan dan lain-lain.
Demi menjaga nama baik dan perasaan wanita ini, sang Guru pura-pura tidak tahu apa yang terjadi dan berkata, “Maaf, bisakah Anda mengulang pertanyaanmu tadi. Pendengaranku sudah kurang jelas sehingga aku sama sekali belum menangkap apa yang hendak kau tanyakan.”
Wanita penanya ini merasa sangat bersyukur, bahwa sang Guru ini tidak mendengar saat ia buang angin. Perasaan malunya terpupus dan ia mendapatkan kembali kepercayaan diri untuk menanyakan masalahnya kepada sang Guru. Demikianlah akhirnya oramg-orang memanggil guru itu dengan julukan Guru yang Tuli. Dan guru ini pun tidak keberatan dengan julukan itu.
Bayangkan apa jadinya jika sang Guru tidak berpura-pura menjadi tuli. Atau bahkan ikut mentertawakan saat wanita itu buang angin? Barangkali wanita ini tidak akan pernah lagi bertemu dengannya atau lebih parah lagi jika ia malu menghadapi dunia dan mengasingkan dirinya. Kita jadi ingat kisah Badui yang mengencingi masjid Rasulullah, pada saat itu sahabat yang marah berniat menghukum Badui yang mereka anggap keterlaluan itu. Ada yang bahkan siap untuk membunuh Badui itu. Namun dengan penuh kelembutan Rasulullah meredakan amarah para sahabat. Kemudian Rasulullah mendekati Badui itu dan menasihati bahwa masjid adalah tempat suci, dan kencing tidak diperkenankan dalam masjid. Badui ini bisa menerima penjelasan Rasulullah dengan senang hati. Coba bayangkan apabila jalan kekerasan yang ditempuh oleh Rasulullah, yaitu dengan membiarkan sahabat menghukum Badui tadi, barangkali suku Badui itu akan menuntut balas, atau yang lebih parah lagi mungkin Islam tidak akan bisa diterima oleh suku-suku Badui.
Saudaraku, saya merasa prihatin dengan keadaan umat Islam belakangan ini. Hanya lantaran berbeda persepsi tentang hal-hal yang bukan merupakan pokok agama, label kafir, murtad, bid’ah begitu santar digaungkan. Hanya lantaran kita tidak sepaham atau segolongan dengan saudara kita muslim yang lain, darah kita dinyatakan halal, kita boleh diperangi. Naudzubillah... Padahal bukan dengan cara seperti ini Rasulullah menyampaikan agama. Rasulullah menyampaikan kabar gembira ini dengan kelembutan, bukan dengan peperangan. Adapun peperangan dalam Islam diperlukan hanya jika ada yang menghalangi jalan dakwah kita. Demikian mudahnya kita mengambil perbedaan sebagai sebab permusuhan antar sesama kita, dan yang lebih herannya lagi ternyata kemudian kita mengambil orang kafir sebagai penolong kita untuk menghancurkan saudara kita yang sesama Muslim. Bisa kita lihat bagaimana ”menurutnya” negara-negara Islam Timur Tengah yang berdalih memberantas terorisme, menawarkan landasan udara, tentara nya untuk mengepung Irak dan membunuhi penduduk sipil yang tidak berdosa.
Kita juga prihatin dengan ketidakpedulian kita terhadap pembodohan dan pemiskinan negara-negara berkembang yang kebanyakan negara Islam –termasuk Indonesia di dalamnya- oleh negara-negara Barat dan Eropa. Tenaga dan sumber daya kita dieksploitasi habis-habisan, untuk memenuhi kantong-kantong kalangan konglomerat Barat. Dalam sebuah reportase di sebuah media televisi, dipaparkan bagaimana Barat mengeksploitasi habis-habisan tenaga kerja dan sumber daya kita untuk menghasilkan sebuah produk sepatu terkenal. Sepatu tersebut diproduksi oleh anak bangsa kita, dihargai dengan harga yang sangat murah, kemudian dikirim ke Eropa dengan harga berlipat-lipat dari harga beli. Dan yang lebih mengherankan lagi, setelah barang tersebut dikirim lagi ke Indonesia –dengan harga berkali-kali lipat tentunya- orang-orang ”kaya” negeri kita membelinya dengan sangat antusias. ”Wajar mahal, kan ini sepatu dengan Branded”, atau ”rego nggawo rupo”, pikir mereka. Padahal sepatu-sepatu itu dibuat di tanah air, boleh dikata produk lokal yang tidak branded pun sebetulnya tidak jauh beda kualitasnya dengan sepatu branded itu. Sekiranya orang-orang kaya di negeri kita tidak mudah termakan iklan dan terbujuk rayuan, mungkin mereka bisa membeli sepatu produksi lokal, yang toh tidak kalah kualitasnya dan menyisihkan sebagian kelebihan hartanya yang sedianya untuk membeli sepatu branded untuk sedekah atau infak, insya Allah persoalan peduli sosial dapat diatasi.
Saudaraku, ada sebuah keluarga yang tergolong dalam kelompok Keluarga Miskin, sehingga mereka mendapatkan kartu Jamkesmas. Anak-anak mereka tidak sekolah dan harus berkerja sejak usia dini. Kesehatan mereka tidak terurus apalagi pendidikan mereka. Yang mengherankan adalah bapak dan anak-anak lelakinya dalam keluarga itu demikian doyan merokok. Satu hari masing-masing orang yang merokok dalam keluarga itu menghabiskan kurang lebih 1 bungkus rokok. Karena anak lelakinya ada 2 orang, maka keluarga itu menghabiskan 3 bungkus rokok per hari. Di sini saya tidak akan membicarakan halal-haram nya, tetapi saya ingin mengajak kita semua menelaah masalah tersebut. Jika 1 bungkus rokok harganya Rp. 5000, berarti keluarga itu menghabiskan Rp.15.000 per hari. Dalam satu bulan berarti uang yang mereka bakar adalah Rp.450.000, dan jika setahun maka yang telah mereka bakar Rp.5.400.000. Sebuah jumlah yang tidak sedikit yang disia-siakan dengan dibakar begitu saja. Sejumlah uang itu tentunya bisa digunakan untuk biaya pendidikan anak-anak, sekurang-kurangnya pendidikan dasar bisa diraih. Dari sini saja bisa kita lihat, ternyata masyarakat kita masih perlu sekali ”disadarkan”, supaya tidak terjadi pemborosan dan mengutamakan skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan. Belum lagi kesadaran untuk memelihara kesehatan dan lain-lain.
Saudaraku, fenomena di atas adalah kejadian nyata di negeri kita, dan masih banyak lagi perut-perut kelaparan di negeri kita sementara orang-orang dengan mobil Jaguar dan perkumpulan motor Harley Davidson bisa berkeliling Indonesia dengan nyaman. Melalui pembelajaran dari guru yang tuli –yang begitu peka terhadap kesulitan orang lain- mudah-mudahan kita bisa bisa mengambil hikmah, bisa mengambil pelajaran supaya kita juga ikut peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar