Minggu, 21 September 2008

Hari Keduapuluh Tujuh: Sederhana

Hari Keduapuluh Tujuh: Sederhana

Suatu hari salah seorang putra Khalifah Umar pulang dari madrasah sambil menangis. Lalu Umar bertanya, “Mengapa engkau menangis nak?”

Putranya menjawab bahwa teman-temannya di sekolah terus-menerus mengejeknya, “Lihatlah, putra Amirul Mukminin bajunya tambalan semua.”

Merasa kasihan terhadap putranya Umar segera menulis surat kepada bendaharawan Baitul Maal, isinya bahwa Umar hendak meminjam uang sebesar 4 dirham. Adapun pembayarannya dipotongkan dari gajinya bulan depan. Namun balasan surat dari sang bendaharawan bukan uang seperti yang dikehendaki Umar melainkan sepucuk surat. Isinya, “...Wahai Umar, apakah engkau yakin masih hidup hingga bulan depan sehingga berani memastikan untuk membayar dengan gajimu bulan depan?...”

Membaca surat itu Umar langsung tersungkur dan menangis, kemudian Umar menasehatkan putranya untuk bertahan dalam kesederhanaan. Akhirnya baju yang penuh tambalan itu pun tetap dikenakan putra Khalifah dalam bersekolah di madrasah.

Saudaraku, kisah di atas adalah kisah nyata yang terjadi di masa Khalifah Umar bin Khottob ra. Umar yang seharusnya bisa hidup dalam kecukupan ditambah dengan fasilitas yang ia dapatkan karena jabatannya sebagai khalifah, sebagai panglima perang tertinggi dalam negeri Islam, namun Umar memilih untuk hidup bersahaja. Bahkan untuk membeli baju yang pantas buat putranya saja ia tidak mampu. Itulah gambaran hidup penuh kesederhanaan mencontoh teladan terbaik yang pernah ada yaitu Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad begitu bersahaja, sehingga pernah dalam rumah tangga beliau tungku dapurnya tidak menyala selama 2 bulan lamanya. Lantaran memang tidak ada yang bisa dimasak. Pada saat perang Khandaq, di tengah pembuatan parit para sahabat yang bekerja dengan perut lapar, mengganjal perut mereka dengan sebuah batu. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah ternyata Rasulullah SAW sendiri telah mengganjal perutnya dengan dua buah batu. Pernah suatu ketika, selesai mengimami sholat Rasulullah segera pulang ke rumah. Para sahabat heran, ada apa gerangan sehingga Rasulullah begitu terburu-buru sampai melewatkan dzikir ba’da sholat. Tak berapa lama kemudian Rasulullah kembali ke masjid sambil membawa beberapa uang dirham. Kemudian beliau membagi-bagikannya kepada fakir miskin. Beliau menjelaskan bahwa sebelumnya beliau mendapat hadiah beberapa dirham, dan dan setelah sholat beliau ingat bahwa dirham itu masih tersimpan di rumah beliau. Maka beliau pun kembali ke rumah dan membagi-bagikan uang tersebut. Itulah Rasulullah SAW yang tidak pernah melewatkan uang dinar maupun dirham bermalam lebih dari 1 hari di rumah. Ketika beliau SAW wafat, bukanlah harta benda yang beliau tinggalkan untuk ahli waris beliau. Karena saat itu bahkan baju besi beliau tengah tergadai untuk sekantung gandum. Beliau SAW mewariskan Islam kepada seluruh umatnya.

Hidup sederhana. Kurang lebih itulah gambaran kehidupan Rasulullah SAW. Sekarang mari kita tengok kehidupan kita di masa sekarang. Bangsa Indonesia, dalam pandangan orang luar, adalah bangsa yang luar biasa konsumtif. Mengapa? Karena kita begitu mudah berbelanja untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Ada di antara kita yang begitu memperhatikan mode, sehngga ia harus selalu mengganti kendaraan, hand phone, rumah, perabotan dan lain-lain. Padahal barang-barang yang ia miliki masih baik dan tidak rusak. Ada juga di antara kita yang hobi mengkoleksi barang mewah, seperti mobil, perumahan, permata, perhiasan dan lainnya. Maka kita tidak heran jika kita bisa menyaksikan mobil-mobil mewah berkelas begitu banyak berlalu lalang di jalan raya. Padahal di negara Barat, mobil-mobil mewah yang berlalu lalang bisa dihitung dengan jari. Bangsa kita cenderung suka besar pasak daripada tiang. Banyak dari kita yang mmbeli barang karena ingin bukan karena kebutuhan. Tidak sedikit dari kita yang terpancang membeli merek suatu barang. Asal merek terkenal, berapa pun harganya berani kita beli. Sebaliknya produk yang sama, baik mutu dan kualitasnya namun dari merek tidak terkenal dengan harga yang lebih murah seringkali kita hindari. Sifat ini pula yang terkadang membuat perekonomian negeri kita sulit berkembang. Bangsa kita telah memproduksi berbagai produk dalam negeri yang bermutu dengan harga yang terjangkau, namun kita lebih tenang jika membeli produk yang sama merek luar negeri ternama dengan harga berkali-kali lipat.

Saudaraku, ada sebuah sekuel cerita menarik yang patut kita simak. Pada masa penjajahan Inggris di tanah Jawa, salah seorang bangsawan Inggris memerintahkan pembantunya untuk berbelanja keperluan sehari-hari di sebuah toko milik orang Inggris. Suatu hari, pembantunya mengembalikan sejumlah uang belanja hari itu kepada bangsawan tersebut. Bangsawan itu heran, mengapa ada kembalian sebab biasanya uang itu pas. Pembantunya menjelaskan, bahwa hari ini ia berbelanja di toko orang Arab, harga-harga di sana jauh lebih murah daripada di toko orang Inggris. Bangsawan Inggris itu bukannya senang dengan penuturan pembantunya, lalu ia berkata, “Besok lagi belanja, tetap di toko orang negeri kita, biarpun lebih mahal tidak apa-apa.” Subhanallah... bagaimana dengan orang-orang di negeri kita?

Saudaraku, bangsa kita di samping terkenal karena sifat konsumerisme-nya, juga terkenal dengan sifat pemborosannya (isrof). Lihatlah pemborosan dana negara melalui persidangan anggota parlemen yang menghabiskan dana milyaran rupiah, insentif dan mobil dinas mewah yang dipakai para petinggi negara, anggaran tak terbatas untuk studi banding dan lain-lain. Lalu lihatlah bagaimana orang-orang kaya di negera ini yang kerap menyelenggarakan pesta yang menghabiskan dana milyaran rupiah. Lalu lihatlah juga pribadi kita masing-masing, bukankah kita sering dimanjakan oleh kendaraan? Untuk pergi ke tempat yang tidak jauh saja kita menggunakan kendaraan bermotor, padahal jarak itu bisa ditempuh dengan sepeda atau jalan kaki. Itulah sekelumit bangsa kita. Padahal Allah SWT telah mengingatkan kita tentang pemborosan ini:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al Isra (17): 26-27)

Naudzubillahi min dzalik, jika kita tergolong dalam kaum pemboros yang merupakan saudaranya setan. Saudaraku, setelah melihat kenyataan di atas, sudah sepatutnya kita merubah hidup kita. Hiduplah sederhana, dimulai dari pribadi kita masing-masing -ifdak bi nafsih. Pepatah Cina mengatakan: Perjalanan seribu mil, hanya akan dimulai dari mil yang pertama.

Jadi kalau tidak sekarang, kapan lagi.

Hari Keduapuluh Enam: Itsar

Suatu ketika keluarga saya diundang oleh kolega untuk menghadiri pesta perkawinannya di sebuah hotel. Hidangan pesta yang berlimpah seakan tidak pernah terputus dan kemewahan pestanya sangat terasa. Ketika saya bertanya kepada salah seorang tamu, kira-kira berapa uang yang dikeluarkan kolega saya untuk sebuah pesta semacam ini. Tamu yang kebetulan masih famili itu menjawab, “250 juta rupiah.” Tidak heran jika sampai menghabiskan dana begitu besar, karena pesta itu benar-benar mewah dan megah. Untuk membuat kartu undangan menghabiskan 60 juta rupiah, sewa gedung hotel 50 juta rupiah untuk beberapa jam saja, belum lagi untuk konsumsi dan lain-lain. Dalam hati kecil saya muncul suara, “Ah ini pemborosan.” Terus terang saya tidak betah dalam suasana hingar bingar penuh kemewahan semacam itu. Setelah mengucapkan selamat kepada kolega saya, saya pamitan keluar dari hotel tempat resepsi. Dalam perjalanan pulang, –kebetulan rumah saya berbeda kota dengan lokasi resepsi kolega saya- saya menjumpai suatu hal yang sangat bertolak belakang dengan kemewahan yang baru saja saya lihat. Di pinggiran kota, ada sebuah lingkungan kumuh dengan anak-anak yang tidur hanya ditutupi selembar kardus bekas mie instan. Ada anak-anak yang sedang bermain sepak bola dari plastik. Kondisi rumah yag jauh dari kelayakan, sanitasi lingkungan yang sangat kurang, ancaman gizi buruk dan penyakit dan lain-lain. Benar-benar sangat kontras dengan kemewahan tadi. Saya tidak tahu sudah berapa kali anak-anak itu mengecap makanan enak. Jangankan mengecap makanan enak, sehari semalam belum tentu mereka bisa makan 3 kali. Sungguh suatu pemandangan yang memilukan hati. Dan yang lebih menyakitkan, pemandangan menyedihkan semacam ini bisa dijumpai di seluruh kota-kota tanah air.

Tanpa terasa, mata saya menjadi merah. Rasanya air mata hampir tak terbendung. Betapa tidak, di negeri ini ada yang bisa membuat pesta untuk sehari semalam dengan menghabiskan dana ratusan juta rupiah, malah ada kawan di Jakarta yang sampai menghabiskan dana ½ milyar rupiah. Tetapi di negeri ini pula, banyak sekali orang-orang yang hanya untuk makan sehari sekali saja tidak mampu. Lihatlah kasus malnutrisi di negeri ini, lalu kasus tentang 1 keluarga yang meninggal akibat kelaparan, para pengungsi bencana negeri ini juga terancam kelaparan, ketakutan dan penyakit dan lain-lain. Masya Allah sungguh ironis sekali. Padahal Allah telah mengingatkan kita:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'Ainul Yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS At Takatsur (102): 1-8)

Kita jadi ingat Umar bin Khattab ra dan Umar bin Abdul Azis semasa hidupnya menjadi khalifah. Begitu menjadi khalifah, seluruh hidupnya diabadikan sebesarnya untuk kepentingan umat. Padahal sebelum menjadi khalifah, keduanya terbiasa hidup serba berkecukupan. Inilah itsar, yaitu kebiasaan mendahulukan kepentingan orang lain. Kita ingat juga kisah Khuzaifah ra dalam perang Yarmuk. Kala itu banyak orang yang terluka dan kehausan memerlukan air. Khuzaifah membawa air untuk keponakannya yang terluka, tetapi di kejauhan ada orang yang meminta air. Keponakan Khuzaifah tidak jadi minum dan meminta pamannya memberikan air itu kapada sahabat lain yang memerlukan. Ketika tiba pada sahabat lain, dari kejauhan ada pula yang meminta air, sahabat kedua ini pun tidak jadi minum dan dia meminta Khuzaifah memberikan air itu kepada sahabat lain yang sangat membutuhkan. Tiba di sahabat ketiga, ketika Khuzaifah hendak memberikan air minum ternyata sudah meninggal. Khuzaifah segera lari ke sahabat kedua, tenyata juga sudah meninggal. Akhirnya Khuzaifah lari kembali kepada keponakannya, tetapi Allah SWT pun telah mengambil nyawa keponakannya. Inilah kisah tentang itsar, bagaimana para sahabat nabi mengamalkan ajaran Islam untuk mendahulukan kepentingan orang lain melebihi kepentingan dirinya sendiri. Alangkah indahnya jika tradisi itsar ini berkembang dalam pribadi-pribadi kaum Muslim. Orang tidak berlomba-lomba dalam kemewahan tetapi berlomba-lomba dalam kebaikan dan kebajikan sebagaimana termaktub dalam Al Quran:

.... Maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan ..... (QS Al Baqoroh (2): 148)

Orang tidak lagi bersifat egois berlebihan (‘annaniyah-nafsiyah) tetapi bersifat sosial. Menganggap manusia itu sama di mata Tuhan, bisa merasakan penderitaan orang lain. Sayangnya di pada masa sekarang ini orang diajarkan dan diciptakan dalam kondisi untuk bersifat egois dan mencintai dirinya melebihi apa pun. Semenjak dari bangku sekolah kita dididik untuk selalu bersaing, untuk lulus dengan predikat terbaik. Kalau nilai kita jelek, kita selalu dibayang-bayangi kegagalan di masa depan. Seakan-akan nilai akademik pasti menjamin kesuksesan di masa depan. Setelah lulus sekolah, kita pun masih harus berebut dalam dunia kerja yang serba keras. Meskipun gelar sarjana sudah di tangan, namun pekerjaan pun tak kunjung kita peroleh. Akibatnya cara-cara kotor pun digunakan, dengan suap, kolusi dan lain-lain. Kalau perlu kita sikut sana, sikut sini asalkan kita bisa mendapat pekerjaan atau jabatan. Tidak peduli dengan mereka yang berlaku jujur. Padahal cara-cara seperti ini jelas sangat ditentang dalam Islam. Itulah produk-produk kapitalisme dan egoisme yang jauh sekali dari tradisi itsar dalam Islam. Dan itulah yang tengah terjadi di negeri kita.

Terakhir, marilah sejenak kita muhasabbah diri kita. Sudahkah tradisi itsar ini kita warisi? Jika sudah, jangan biarkan tradisi itsar yang mulia ini padam dari diri kita. Perbanyaklah amal soleh, dan berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan, Insya Allah kita akan terus dituntun Allah dalam jalan-Nya yang lurus.

Fastabiqul khoirot...

Kalau burung pipit membuat sarang di hutan

Sarang itu hanya menempati sebuah ranting

Kalau rusa memuaskan dahaganya di sungai

Ia minum tidak lebih dari yang dapat ditampung lambungnya

Kita mengumpulkan barang dan harta

Karena hati kita kosong

Hari Keduapuluh Lima: Mencari Pencerahan



Aku …

Seperti kebanyakan orang mencari

Apa yang menyebabkan gundah di dalam hatiku ini

Sementara aku hanya bisa menjalani

Sisa umurku dan duniaku

Aku berharap menemukan separuh hatiku dengan berlari

Ku cari jawaban:

Pada harta dan ketenaran, akhirnya meninggalkan

Pada wanita dan anak-anak, akhirnya tua dan mati

Pada dunia dan pengetahuan, tidak ada putusnya

Dan aku tersesat karenanya

Diriku semakin gundah dan tersiksa

Aku mencoba mengadu pada teman

Mereka sama seperti aku

Mencoba mengusir rasa putus asa

Semakin kuat rasa gelisahku

Semakin kuat angan-angan kosongku

Seakan-akan dalam sekam, tak tahu tujuan hendak ke mana

Kemudian...

Aku merenung awal dan akhir

Batas kenyataan dan mimpi

Batas kesenangan dan kesedihan

Aku larut dalam kitab suci, menggali akar hadits nabi

Buku-buku menjadi candu dalam keseharianku

Dan terus mempelajari...

Aku berpacu dengan ambang malam

Belumlah terpuaskan, namun sedikit demi sedikit aku menemukan

Aku menyusun hatiku sekeping demi sekeping

Hingga aku menyadari apa yang menyebabkan kegundahan

ku tidak mengerti hakikat hidup ini

Sedangkan ku lalui ibadahku tanpa makna

Hanya ku kerjakan namun tidak membekas dalam hatiku

- karena orang lain melakukannya

Pada malam-malam pencarianku

Allah memberiku petunjuk

Bahwa ibadah yang aku kerjakan bukanlah untuk-Nya

Karena Allah tidak membutuhkan aku

Tetapi aku lah yang membutuhkan-Nya

Dan itulah akhir pencarianku...

(Ini adalah kisahku, bagaimana aku melalui sebuah ujian hidup. Sehingga nyaris melupakan siapa Tuhanku (man robbi), sehingga nyaris tenggelam dalam kedurhakaan dan pikiran kalut. Sebagaimana Ibrahim yang mencari Tuhan. Sebagaimana Nabi Muhammad bersunyi dalam Gua Hira. Aku juga mencari kebenaran. Aku mencari kebenaran, dan aku berhasil melaluinya. Allah tidak menya-nyiakan diriku, Allah menyayangiku dan Allah menyertaiku selama dalam pencarianku. Aku berhasil. Terimakasih wahai Tuhan)

Hari Keduapuluh Empat: Cahaya Allah

Hari Keduapuluh Empat: Cahaya Allah

Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(QS Al Baqoroh (2): 257)

Saudaraku, mungkin Anda pernah bepergian menggunakan mobil di malam hari dari suatu kota ke kota lainnya yang berjarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Gelapnya malam tak menghalangi laju kendaraan tersebut, toh sampai juga akhirnya di tempat tujuan. Pada saat mengendarai mobil tersebut, pernahkah terlintas dalam benak kita bagaimana lampu mobil yang berjarak pandang kurang lebih hanya 60 meter itu bisa mengantarkan ke tempat tujuan. Padahal malam hari sangat gelap, apalagi jika kita melewati hutan, jurang dan pegunungan. Ya, hal itu bisa terjadi lantaran cahaya lampu mobil kita menerangi terus menerus dalam perjalanan itu sehingga kita tidak tersesat walaupun jarak pandangnya sangat terbatas.

Begitulah hidup. Di hadapan kita sudah ada jalan, namun jika lampu kita padamkan, tentu saja kita akan berjalan dengan meraba-raba dalam kegelapan. Kadang yang terjadi justru kita tersesat masuk dalam gunung atau hutan, atau lebih parah lagi kita akan masuk jurang. Manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik sesuai dengan fitrahnya. Iba terhadap sesama, dan memiliki emosi. Semua itu ada dalam diri anak Adam, termasuk akal dan nafsu. Namun itu semua bisa menjadi minimal karena godaan syetan dan bujukan hawa nafsu sehingga manusia menjadi serakah, pemarah, biadab dan lain-lain. Karena itulah Allah SWT memberikan pedoman, petunjuk yang menjadi cahaya dalam hidup kita sehingga hidup kita akan terarah dan tidak tersesat. Itulah syariat Allah SWT yang dibawa oleh para anbiya. Seseorang yang telah berjalan dengan tuntunan cahaya Allah inilah yang bisa dikatakan orang-orang yang tercerahkan (mendapat pencerahan).

Saudaraku, ada seseorang yang datang menemui seorang Guru dan bertanya: “Wahai Guru, berapa lama waktu yang saya perlukan untuk mencapai Pencerahan?”

Sang Guru memandangnya dan tersenyum, jawabnya, “Sepuluh tahun.”

“Alangkah lamanya waktu yang saya perlukan untuk mencapai ke sana guru,” kata orang itu.

“Oh tidak, untukmu diperlukan waktu dua puluh tahun,” jawab Guru.

Orang itu keheranan dan bertanya, “Mengapa Guru melipatkannya dua kali lipat?”

“Bayangkan,” kata Guru, “Sekarang bahkan engkau memerlukan waktu tiga puluh tahun.”

Saudaraku, jadi pencerahan bukanlah suatu titik yang hendak kita tuju, melainkan cara berjalan yang sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan syariat-Nya. Sehingga kita akan merasakan ketentraman di dalam hati, dan orang-orang mendapat kemanfaatan dari keberadaan kita. Dialah Allah yang akan menuntun kita dalam cahaya-Nya. Ketika kita berjalan kepada-Nya, maka Allah akan menyambut kita dengan gembira. Jika kita berjalan menuju Allah, maka Allah akan akan menyambut kita dengan berlari.

Saudaraku, barangkali sekarang perlu kita tengok pribadi kita masing-masing. Apakah Cahaya Allah yang kita terima masih bersinar kuat menerangi hidup kita? Jika sekarang meredup, mengapa hal itu terjadi? Jangan-jangan cahaya itu mulai pudar lantaran banyaknya maksiat yang kita kerjakan. Jangan-jangan kita terlalu cinta dunia dan sibuk dengan dunia serta lupa akan akhirat nanti, jangan-jangan kita terlalu sibuk mengurusi kesalahan orang lain sehingga lupa menghisab diri sendiri. Jangan-jangan kita mulai malas mengerjakan sunnah-sunnah Rasulullah, seperti puasa Senin-Kamis, sholat Tahajud di 1/3 malam terakhir, malas bergaul dengan orang sholeh, malas datang ke pengajian, malas bersedekah dan yang paling parah malas bertemu Tuhan. Buktinya sholat saja sering kita nomor sekian-kan. Apakah hal itu bukan bukti bahwa kita enggan ketemu Tuhan? Kalau hal-hal itu tejadi pada diri kita, pantas lah jika cahaya kita redup. Kita sendiri malas mencash-nya.

Saudaraku, jika seorang Ahli Fisika ditanya, “Apa yang menciptakan alam semesta ini?” Maka ia akan menjawab: Energi. Energi itu tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan. Ia ada sebelum dan sesudah. Jika kita bertanya pada seorang Ahli Teologi, “Apa yang menciptakan alam semesta ini?” Maka ia akan menjawab: Tuhan. Tuhan ada sebelum dan sesudah. Tuhan-lah yang menciptakan segala sesuatu. Dua buah jawaban yang berbeda istilah namun mengacu pada substansi yang sama. Secara umum, bisa kita ambil kesimpulan bahwa secara kodrati, manusia mengakui adanya Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu. Hanya kepongahan manusia sajalah yang menolak kenyataan keberadaan Allah SWT.

Saudaraku, jika kita menyentuh tubuh kita, maka kita akan merasakan desiran nadi kita, darah kita yang merayap melalui arteri dan vena, degup jantung kita dan lain-lain. Percayakah Anda, bahwa untuk melakukan seluruh aktivitas tersebut diperlukan energi yang begitu besar. Jika kita sejajarkan dengan listrik di sebuah kota kecil, maka energi kita bisa untuk menyalakan listrik kota selama 7 hari. Subhanallah...

Saudaraku, manusia, binatang, dan lain-lain yang ada di alam ini adalah bagian dari alam semesta. Sedangkan alam semesta ini bergerak sesuai fitrah Ilahi. Sehingga disadari atau tidak sehingga Allah SWT sangat dekat dengan seluruh ciptaan-Nya. Seluruh alam semesta ini berada dalam naungan-Nya, termasuk kita umat manusia. Maka benarlah firman Allah:

Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (QS Qaaf (50): 16)

Saudaraku, jika kita telah menerima Cahaya Allah, dan kita menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi kita, setiap perbuatan kita, tingkah laku kita, bahkan niat kita pun tak luput dari pengawasan-Nya, apakah kita bisa bertindak semaunya? Tentu saja tidak, karena kita tahu bahwa Allah sangat dekat dengan kita, bisa saja Allah SWT menghentikan detak jantung kita sewaktu kita melakukan kedurhakaan kepada Allah, bisa saja Allah membuat koordinasi tubuh kita menjadi kacau, sehingga kita menjadi sakit dan tidak bisa pulih seperti sedia kala. Allah berkuasa penuh atas diri kita, maka beruntunglah orang-orang yang selalu berada dalam tuntunan Allah SWT.

Terakhir, saudaraku mari kita simak bagaimana sikap dan doa orang-orang beriman yang dilukiskan dalam Al Quran:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu," maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji." (QS Ali Imron (3): 190-194)

Wallahu a’lam bishowab

Hari Keduapuluh Tiga: The Positive Thinking

Hari Keduapuluh Tiga: The Positive Thinking

Suatu hari datang seorang teman kepada saya mengeluhkan tentang rumah tangganya yang kurang harmonis. Istrinya selalu saja marah-marah. Kadang karena hal sepele, urusannya menjadi besar. Tidak ada katentraman di rumah, katanya. Lain lagi dengan teman saya yang lain. Ia selalu mengeluhkan rekan kerjanya yang ia anggap selalu kurang terampil, ceroboh, pemalas dan lain-lain. Akibatnya ia kerap bertengkar dengan mereka, dan yang lebih buruk lagi terkadang ia tidak bisa naik jabatan karena persoalan-persoalan itu. Dua kawan saya di atas adalah orang-orang cerdas, buktinya mereka lulus dengan predikat memuaskan. Namun apa yang terjadi? Rumah tangga dan lingkungan kerja yang seharusnya menjadi surga, ternyata telah menjadi “neraka” bagi mereka.

Saudaraku, kasus-kasus seperti di atas sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita. Dan kadang tanpa kita sadari, ternyata kita sendiri juga sering terseret dalam konflik-konflik semacam itu. Gara-gara konflik-konflik itu, karier kita menjadi terhambat, rumah tangga dan persahabatan menjadi goyah, dan lain-lain.

Saudaraku, sebelum kita melihat lebih jauh kasus di atas, marilah kita simak sejenak kisah salah seorang sahabat Nabi yang telah dijamin masuk surga. Pada suatu hari, Rasulullah saw, seperti biasa setelah sholat Ashr memberikan taklim kepada sahabat-sahabatnya. Di tengah memberikan taklim, tiba-tiba Rasulullah berkata, “Dari arah sini akan datang seorang ahli surga.” Para sahabat serentak memandang ke arah yang ditunjukkan Nabi saw. Ternyata yang datang adalah seorang lelaki, setelah mengucapkan salam ia segera wudhu, sholat dan pulang. Di hari berikutnya, Rasulullah memberi taklim kepada sahabat, lagi-lagi Rasulullah berkata, “Dari arah sini akan datang seorang ahli surga.” Tak lama kemudian orang yang kemarin muncul dan mengerjakan sholat di masjid kemudian pulang. Abdullah bin Umar ra penasaran dengan orang ini. Apa keistimewaanya sehingga Rasulullah menyebutnya sebagai ahli surga. Lantas Abdullah bin Umar mencegat orang ini dan berkata ingin menginap di rumahnya barang 2-3 hari dengan alasan bahwa Abdullah bin Umar tengah bertengkar dengan ayahya. Sang ahli surga ini mengizinkan Abdullah menginap di tempatnya. Kemudian selama 3 hari itu Abdullah mengamati ibadah khusus apa yang dikerjakan sahabat ini, tapi ternyata tidak ada yang istimewa. Kadang ia bangun malam, kadang tidak. Lantas apa yang membuatnya istimewa? Pada hari ketiga, Abdullah berterus terang bahwa ia sebenarnya tidak sedang bertengkar dengan ayahnya, ia datang ke situ lantaran mendengar Rasulullah menyatakan bahwa ia adalah ahli surga. Amalan istimewa apa yang ia kerjakan sehingga ia menjadi ahli surga. Kemudian sahabat ahli surga ini berkata, “Seperti yang kau lihat, ibadahku mungkin biasa-biasa saja. Mungkin yang menjadi keistimewaan adalah karena aku sedikit pun tidak pernah berburuk sangka terhadap orang lain.”

Saudaraku, sebagian besar dari kita selalu mendahulukan jeleknya dulu, baru baiknya. Ada orang yang datang ke rumah, kita sudah buru-buru berpikir jangan-jangan dia mau pinjam uang. Ada SMS masuk, kita berpikir jangan-jangan ada persoalan gawat. Jarang sekali kita berpikir sebaliknya yaitu berpikir positif. Padahal berpikir positif akan menumbuhkan rasa syukur, menjauhkan kita dari prasangka, buruk sangka, cemas, takut, dan lain-lain yang negatif lainnya. Kita cenderung suka menyalahkan orang lain, bahwa orang lain keliru, ceroboh, salah, malas, dan lain-lain. Kita selalu suka menghitung kesalahan orang lain, kemudian kita berghibah dengannya. Dan itulah produk-produk dari selalu berpikir negatif.

Pernahkah suatu saat kita berpikir tentang kebaikan orang lain terhadap kita? Pernahkah kita bandingkan antara kebaikannya dan kesalahannya kepada kita. Bisa kita hitung, mungkin seseorang memang telah berbuat kesalahan kepada kita, namun berapa kali ia telah berbuat kebaikan untuk kita baik yang kita sadari atau tidak? Pernakah suatu saat kita membuat daftar kebaikan dan kesalahan istri kita? Mulai dari mencuci, memasak, mendidik anak-anak kita, menjaga harta kita, menjaga kehormatan keluarga dan lain-lain. Pejamkan mata sejenak, bacalah supaya hati menjadi teduh dan tulislah kebaikan-kabaikan orang lain kepada kita. Subhanallah ternyata kebaikan-kebaikan orang lain lebih banyak dari pada kesalahannya.

Saudaraku, Nabi pernah bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sabagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR Muslim). Kita umat Islam yang meneladani Rasulullah seharusnya selalu berpikir secara positif, sebagaimana junjungan kita Rasulullah juga senantiasa berpikir positif. Rasulullah dan seluruh keluarganya hidup dalam kekurangan, namun beliau saw tidak pernah risau dan resah karenanya. Tidak jarang beliau berpuasa sunnah lantaran memang tidak ada makanan di rumah. Beliau juga tidak marah ketika harus tidur di halaman rumah lantaran pulang kemalaman dan pintu rumah sudah dikunci oleh Aisyah ra. Nabi juga tidak mendoakan keburukan seorang lelaki yang nyata-nyata selalu melemparinya dengan kotoran unta. Bahkan ketika lelaki ini jatuh sakit, Rasulullah-lah yang pertama kali menjenguknya dan mendoakan kesembuhannya. Rasulullah juga tidak marah ketika ada seorang Arab Badui yang kencing dalam masjid, lantaran memang Arab Badui tadi memang belum tahu adab di dalam masjid. Sekiranya Rasulullah mendahulukan pikiran negatifnya tentu Rasulullah akan marah dan memerintahkan para sahabat menghukum Badui tadi. Ketika Rasulullah berdakwah di Thoif, bukan simpati penduduk Thoif yang Beliau terima melainkan lemparan batu, cemoohan, siksaan dan dari kejaran penduduk Thoif yang hendak mengusirnya. Jibril as berseru kepada nabi supaya nabi berdoa kepada Allah, dan Jibril diberi izin untuk melumatkan penduduk Thoif dengan membalikkan gunung ke negeri itu. Namun apa jawab Rasulullah? “Jangan, mereka berbuat seperti itu karena mereka belum tahu.” Bayangkan jika saat itu Rasulullah mendahulukan berpikir negatif, tentu saja beliau akan menerima tawaran Jibril dan melumat penduduk negeri Thoif ke dasar bumi. Namun beliau SAW mengajarkan kepada umatnya untuk mendahulukan berpikir positif.

Saudaraku, jika suatu saat kita bertengkar dengan istri, suami atau rekan kita, entah mengapa segala sesuatu setelahnya selalu tampak salah dan seolah-olah mempermainkan kita. Cuaca yang tiba-tiba mendung, jalanan yang macet dan ban mobil kempes, dan lain-lin. Seakan-akan kita dirundung kemalangan terus. Bandingkan jika kita bangun pagi, kemudian mengucapkan Alhamdulillah dan berterimakasih kepada Allah SWT atas nikmat-nikmat-Nya. Menyapa istri dan anak-anak dengan lembut, menghirup wanginya pagi hari. Ketika mendung datang, kita merasakan titik-titik hujan seakan membelai bumi, suatu nikmat dari Allah SWT. Dan di sela-sela hujan ini kita berdoa, karena kita ingat bahwa di kala hujan turun para malaikat yang membawa rahmat Allah juga turun. Ketika jalanan macet, kita berdzikir, lapar, haus, dan lelah kita pun seakan hilang. Subhanallah, begitulah kekuatan berpikir positif. Sepanjang kita terus berpikir positif, kita akan mendapati hal-hal baik sesudahnya, walaupun sebenarnya bagi orang lain hal tersebut merupakan cobaan.

Saudaraku, sebelum kita akhiri topik kali ini saya ingin menukilkan sebuah kisah tentang penumpang dalam bus. Ada serombongan penumpang di dalam sebuah bus. Bus ini melaju melewati ngarai yang indah, pematang-pematang sawah dengan padinya yang menguning, sungai yang jernih di sisi jalan, bunga-bunga liar yang mekar dengan cantiknya di sepanjang jalan dan gunung yang berkilauan diterpa cahaya matahari. Semua keindahan alam ini seakan turut mengiringi perjalanan bus ini dari awal hingga akhir perjalanan. Namun sayangnya, tirai bus dalam keadaan tertutup rapat. Sehingga keindahan yang disuguhkan seakan lenyap begitu saja. Di dalam bus itu, para penumpang berebut duduk di kursi yang paling depan, berebut duduk di kursi kehormatan.

Begitulah kehidupan manusia yang hidup tanpa ruh, tidak pernah berpikir positif. Orang yang berpikir negatif akan selalu berpikir bahwa ia-lah yang paling benar, paling pantas menduduki jabatan tertentu. Orang lain yang dicurigai, orang lain selalu salah. Orang seperti ini tidak bisa melihat ke samping kanan dan kiri. Padahal keindahan panorama alam demikian menakjubkan, padahal bersaudara lebih mulia daripada perpecahan. Saudaraku mari kita rubah paradigma pola pikir negatif -jika ada dalam diri kita- menjadi paradigma berpikir positif. Insya Allah kebaikan-kebaikan akan selalu menyertai kita. Wallahu a’lam bishowab.

Hari Keduapuluh Dua: Sedekah

Hari Keduapuluh Dua: Sedekah


Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al Baqoroh (2): 261-262)

“Mengapa”, kata seorang kaya kepada pelayannya, “Orang-orang mengatakan bahwa aku ini pelit, kikir. Padahal semua orang kan tahu kalau aku wafat nanti, aku akan memberikan semua yang aku punya kepada yayasan sosial dan panti asuhan?”

“Tuan akan saya ceritakan fabel tentang ayam dan sapi,” jawab pelayannya. “Sapi begitu populer, sedangkan ayam sama sekali tidak populer. Hal ini sangat mengherankan ayam. Kata ayam kepada sapi : ‘Orang-orang berkata kepadamu bahwa engkau begitu lembut dan matamu begitu memancarkan penderitaan. Orang-orang mengira bahwa engkau begitu murah hati, karena setiap hari engkau memberi mereka krim dan susu. Tapi bagaimana denganku? Aku memberikan semua yang aku punya. Aku berikan daging dan buluku. Bahkan mereka memasak dan membuat sup dengan kakiku untuk kaldu. Tapi tak seorang pun berkata seperti itu. Mengapa bisa begitu?’ ”

“Nah, Tuan. Apakah Anda tahu jawaban sapi?” kata pelayan.

Sang sapi berkata, ‘Mungkin karena aku memberikannya sewaktu aku masih hidup.”

Saudaraku, kisah di atas sengaja saya petik untuk membuka wacana kita tentang harta dan pemberian kita kepada orang lain (sedekah). Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah bahwasanya harta benda yang dimiliki oleh manusia itu bukanlah harta benda yang ia pegang saat ini. Namun yang ia miliki kelak adalah harta benda yang ia sedekahkan, ia dermakan di jalan Allah SWT. Mengapa? Karena harta benda yang kita miliki sekarang tidak akan mengikuti kita sebagai amalan di alam kubur dan hari akhir, namun akan menjadi milik keluarga kita, dan orang lain. Yang akhirnya benar-benar menjadi harta kita adalah harta yang telah kita dermakan di jalan Allah SWT, dan itulah teman kita di dalam kubur.

Saudaraku, pernah suatu ketika datang seorang wanita yang tangannya lumpuh terbakar meghadap kepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw bertanya apa gerangan yang terjadi dengan kedua tangannya? Lalu wanita ini menjawab bahwa semalam ia bermimpi dirinya berada di telaga Kautsar dalam surga. Lalu ia mengambilkan semangkuk air bagi para penghuni surga. Di tengah ia mengambilkan air bagi para penduduk surga ia melihat ke neraka dan ibunya tengah disambar api yang menyala-nyala. Tidak ada perlindungan apa pun manakala api menyambar tubuh ibunya, kecuali sekerat daging lemak yang digunakan untuk menutup sedikit tubuh. Wanita ini kemudian bertanya kepada ibunya, apa yang terjadi, dan mengapa hanya sekerat daging yang bisa dipergunakan ibunya sebagai perisai dari api neraka? Ibunya pun menjawab, bahwa dirinya dulu tidak pernah melakukan kebaikan apapun di dunia sehingga balasannya adalah neraka. Adapun sekerat daging itu adalah satu-satunya sedekah yang pernah ia berikan di jalan Allah, sehingga ia sekarang memiliki sedikit perisai dari api neraka. Kemudian sang ibu meminta putrinya memberinya seteguk air dari telaga Kautsar. Lantaran iba terhadap ibunya, wanita ini mengambilkan semangkuk air yang akan diberikan kepada ibunya. Namun tiba-tiba api neraka menyambar kedua tangannya sehingga terbakar dan lumpuh. Seketika ia terbangun dan mendapati kedua tangannya benar-benar terbakar dan lumpuh. Rasulullah membenarkan mimpi tersebut, dan mendoakan supaya tangan wanita ini sembuh. Dan tak berapa lama kemudian tangan wanita ini pun sembuh.

Saudaraku, jika teringat kisah di atas di atas saya jadi teringat tentang hakikat sebuah pemberian. Ada seorang petani jagung yang selalu mendapat hadiah utama dalam Perlombaan Tani Nasional, mempunyai kebiasaan membagi-bagikan biji jagung yang paling baik kepada petani-petani di sekitarnya. Ketika ditanya mengapa ia berbuat demikian, ia menjawab, “Sebenarnya saya melakukan ini untuk kepentingan saya sendiri. Angin menerbangkan serbuk-serbuk dan membawanya dari ladang ke ladang. Maka kalau petani-petani di sekitar saya menanam jagung yang kualitasnya lebih rendah, penyerbukan silang akan menurunkan mutu jagung saya. Itulah sebabnya saya memikirkan supaya mereka hanya menanam jagung yang paling baik.” Memang benar bahwa semua yang kita berikan untuk orang lain, hakekatnya adalah pemberian untuk diri kita sendiri.

Alangkah besarnya arti sedekah yang diikhlaskan di jalan Allah. Di dunia maupun di akhirat Allah pasti akan mengganti sedekah kita dengan yang lebih banyak, sebagaimana yang telah Allah terangkan dalam ayat di atas. Bahwa satu benih akan menghasilkan 7 bulir, dan tiap-tiap bulir akan menghasilkan 100 biji. Sekarang mari kita tanya diri kita masing-masing, apakah sifat dermawan sudah kita tanam dalam diri kita?

Saudaraku, mari kita simak bagaimana kedermawanan keluarga Khalifah Umar bin Abdul ‘Azis. Suatu pagi Khalifah Umar bin Abdul ‘Azis berkata pada pembantunya, bahwa dirinya ingin mensedekahkan sebidang tanah milik keluarganya untuk kepentingan kaum Muslim. Umar berencana mensedekahkan sebidang tanah itu esok hari.

Siang harinya, putra Umar mendengar berita bahwa ayahnya akan mensedekahkan tanah milik keluarga untuk kepentingan umat. Putra Umar segera bergegas menuju rumah ayahnya. Tetapi ia langsung dihalang-halangi oleh pembantu Umar, sebab Khalifah tengah beristirahat. Namun putra Umar tetap bersikeras hendak menemui ayahnya. Pembantu Umar pun demikian tegas tidak mengizinkan siapa pun mengganggu istirahat Khalifah. Mendengar ribut-ribut di depan pintu, Umar keluar dari rumah dan menyuruh putranya masuk.

“Ada apa, sehingga engkau ingin menemuiku?” tanya Umar.

“Ku dengar ayah ingin mensedekahkan tanah keluarga kita besok.”

“Ya benar, apakah engkau keberatan?”

“Tidak ayah, aku tidak keberatan jika tanah itu disedekahkan. Yang menjadi ganjalanku mengapa tanah itu harus disedekahkan besok. Apakah ayah tahu nasib ayah besok hari? Apakah besok kita masih hidup dan bisa mensedekahkan tanah kita? Mengapa tidak hari ini saja ayah mensedekahkan tanah itu? Jangan menunda-nunda sedekah ayah,” kata putra Umar.

Sang khalifah merasa terharu mendengar penuturan putranya, dan dengan segera ia memerintahkan pembantunya mengurus segala sesuatu untuk sedekah tanah tersebut.

Subhanallah, begitu mulia akhlak keluarga Umar bin Abdul ‘Azis. Contoh demi contoh keluarga Muslim yang begitu dermawan begitu banyak dalam sejarah Islam. Namun dari yang sedikit ini, mudah-mudahan akan mengingatkan dan menggiatkan kita untuk selalu bersikap dermawan. Melalui sifat dermawan ini pula umat Islam dididik supaya selalu tanggap terhadap lingkungan. Sifat sosial terbentuk dan kepekaan terhadap sesama semakin terasah.

Apa kata shodaqoh kita?

Derma (sedekah) bila keluar dari tangan pemiliknya akan berkata:

1. Semula aku adalah kecil, maka engkau telah membesarkan aku.

2. Semula engkau adalah penjagaku, maka sekarang aku menjadi penjagamu

3. Semula aku adalah musuhmu, maka sekarang engkau mencintai aku

4. Aku adalah sesuatu yang punah (habis), maka engkau menjadikan aku sesuatu yang kekal

5. Aku adalah bilangan yang sedikit, maka engkau jadikan aku jumlah bilangan yang banyak

Terakhir mari kita hayati bersama hadits nabi: “Sekiranya anak Adam memiliki sebuah bukit dari emas, niscaya dia akan lebih senang jika memiliki dua buah bukit emas. Dan tidak akan ada yang dapat menghentikannya dari sifat serakahnya, kecuali tanah” (HR. Bukhori dan Muslim).

Wahai Allah saksikanlah bahwa ini telah hamba sampaikan.

Rabu, 17 September 2008

Hari Kesembilanbelas: Rintangan

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS At Taghobun (64): 11)

Ada sekelompok musafir melewati sebuah hutan. Di tengah asyiknya perjalanan, tiba-tiba di hadapan mereka ada sebuah pohon tumbang melintang di jalan. Tampaknya badai petir semalam telah merubuhkan pohon itu. Kelompok musafir itu mengutuki rintangan itu sambil meneruskan perjalanan. “Alangkah menyebalkan, pohon itu membuat keledai-keledai ini kesulitan merangkak.” Yang lain mengiyakan, “Coba bayangkan, aku tadi harus turun dari keledaiku dan harus menuntunnya.” Begitulah mereka melanjutkan perjalanan sambil terus berkeluh kesah.

Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah sungai. Alangkah terkejutnya mereka karena jembatan penghubung itu telah hilang. Tampaknya lagi-lagi badai petir tadi malam telah menyebabkan sungai itu meluap sehingga menghanyutkan jembatan kokoh yang menghubungkan kedua tepian sungai. Sekali lagi mereka berkeluh kesah, dan mengutuki kejadian itu. Lalu salah seorang yang arif di antara mereka menenangkan rombongan itu sambil berkata, “Mari kita kembali ke pohon besar yang tumbang tadi.” Seseorang berkata, “Untuk apa kita kembali ke sana?” Jawab orang yang arif, “Mestinya dengan pohon itu kita bisa membentuk sebuah jembatan pengganti. Jika kita kerjakan sekarang secara marathon insya Allah besok pagi kita sudah bisa menyeberang berikut keledai dan dagangan kita.”

Maka beramai-ramai rombongan itu mengerjakan sebuah jembatan baru. Tidak lama berselang, jembatan itu rampung dan mereka dapat menyeberang dengan selamat.

Saudaraku, ada kalanya halangan, rintangan yang kita anggap sebagai penyebab kegagalan, penyebab kesulitan kalau dapat kita kelola dengan baik justru akan menjadi cambuk dan kita akan mendapatkan kesuksesan karenanya. Jangan pernah menyangka bahwa seorang pahlawan selalu meraih prestasi-prestasinya dengan mulus atau bahkan tidak mengenal kegagalan. Kesulitan-kesulitan adalah rintangan yang diciptakan oleh sejarah dalam menuju kepahlawanan. Membebaskan kota Konstantinopel bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pemuda berusia 23 tahun setangguh Muhammad al Fatih Murad. Pembebasan pusat kekuasaan Imperium Romawi itu, kata orientalis Hamilton Gibb adalah sebuah mimpi delapan abad dari kaum Muslimin. Semua serangan gagal meruntuhkan perlawanan kota itu sepanjang abad-abad itu. Dan serangan-serangan awal Muhammad al Fatih Murad juga mengalami kegagalan. Kegagalan itu sama dengan kegagalannya sebagai pemimpin negara ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan padanya. Tapi kemudian ternyata Muhammad al Fatih kemudian berhasil merebut kota itu.

Seorang pahlawan tidak pernah menganggap dirinya Superman atau Malaikat. Ia tetaplah manusia biasa. Dan kegagalan merupakan bagian dari tabiat hidup manusia, maka ia ‘memaafkan’ dirinya untuk kegagalan itu. Tapi ia tidak berhenti sampai di situ. Kegagalan adalah objek penghalang yang harus dipelajari untuk kemudian diubah menjadi pintu kemenangan. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya dan jangan memandang sesuatu hanya dari satu sisi kemudian melupakan sisi lainnya. Sebab boleh jadi apa yang tampak buruk bagi kita ternyata merupakan suatu kebaikan bagi kita

Hari Kedelapanbelas: Potret Muhammad saw

Hari Kedelapanbelas: Potret Muhammad saw

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab (33): 21)

Muhammad adalah kesahajaan yang menjelma dalam bentuk manusia, lalu dari lubuk hatinya yang paling dalam menghapus gemerlapnya pemimpin dan kerajaan; perhiasan dan kepongahan; serta ucapan dan perbuatan yang menipu manusia.

Perbuatannya terlahir dengan alamiah, masing-masing menunjukkan akan kepribadiannya, sebagaimana foto yang menunjukkan pemiliknya. Dengarkanlah penuturan Adi bin Hatim yang tadinya mengira bahwa ia akan bertemu dengan seorang Raja di Madinah.
“Aku mendatangi Muhammad yang sedang duduk di masjid, lalu aku mengucap salam kepadanya”.

Beliau bertanya, “Siapakah Anda?”.

“Adi bin Hatim”, jawabku singkat

Beliau berdiri dan membawaku ke rumahnya. Demi Allah, beliau benar-benar tetap menggandengku ketika ada seorang perempuan tua renta menghentikannya lalu beliau berdiri lama mendengarkan ia mengutarakan keperluannnya. Dalam hati aku berkata, “Demi Allah, ini bukan Raja”. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dan membawaku masuk ke rumahnya. Beliau mengambil bantal yang terbuat dari kulit dan diisi serat, lalu diberikan kepadaku seraya mengatakan, “Duduklah di atas bantal ini”. Aku menjawab, “Tidak, Anda saja”. Beliau mengatakan, “Tidak, Anda saja”. Akhirnya akupun duduk di atas bantal itu, sedangkan Rasulullah duduk di tanah. Dalam hati aku berkata, “Demi Allah, ini bukan kebiasaan Raja”.

Begitulah tabiat Rasulullah saw, tidak ada yang dibuat-buat. Adi bin Hatim yang sebagian keluarganya telah ditawan oleh kaum Muslimin itu datang sebagai pihak yang kalah, namun duduk di atas bantal sementara beliau sendiri duduk di tanah.

Kemudian perhatikanlah, Ibrahim putranya telah meninggal. Terjadi gerhana matahari; waktu itu orang-orang mengatakan, “Gerhana matahari ini terjadi karena kematian Ibrahim.” Mendengar itu beliau berdiri di masjid dan bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda kekuasaan Allah. Tidak terjadi gerhana pada keduanya karena seseorang mati ataupun hidup.”

Inilah dia jiwa merdeka yang cinta dan merindukan kebenaran. Rendah hati dan enggan memanfaatkan kecurangan apa pun bentuknya.

Perhatikan pula bagaimana beliau meminta izin kepada seorang sahabatnya dan bagaimana cara beliau meninggalkan tempat.

Qois bin Sa’ad berkata: Rasulullah saw mengunjungi kami, beliau mengucap: “Assalamualaikum warokhmatullah.” Ayahku menjawab dengan lirih sehingga aku bertanya, “Tidakkah ayah mengizinkan Rasulullah?” Ayahku menjawab, “Biarkan, agar salam itu semakin banyak kepada kita.” Lalu Rasulullah mengulang salamnya, kemudian beliau pulang sehingga ayahku mengejarnya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mendengar salam baginda dan aku telah menjawab salam baginda dengan lirih agar salam itu semakin bannyak buat kami.”

Lalu ia beranjak bersama Rasulullah saw, Sa’ad mempersilakan beliau untuk mandi. Setelah mandi ia memberikan handuk yang telah ditaburi za’faron. Beliau saw pun menggunakannya, kemudian mengangkat kedua tangannya semabri berdoa: “Ya Allah, jadikanlah sholawat dan rahmat-Mu kepada keluarga Sa’ad.”

Ketika hendak pulang, Sa’ad mendekatkan keledai kepada beliau, Sa’ad berkata: “Qois, temani Rasulullah!” Aku pun menemaninya. Beliau berkata, “Naiklah bersamaku!” Aku tidak mau sehingga beliau berkata, “Pilih salah satu, naik bersamaku atau pulang saja.”

Itu adalah kunjungan pemimpin Arab dan ‘Ajam kepada salah satu pendukungnya di kota Madinah. Suatu kejadian yang biasa saja, tanpa prosedur, tanpa jamuan, tanpa peristiwa monumental lainnya. Datang dengan berjalan kaki, pulang menunggang keledai dan mengizinkan agar pendampingnya memboncengnya.

Itulah yang menyebabkan perintah Muhammad ditaati dan ketaatan kepadanya menjadi ibadah.

Hari Ketujuhbelas: Kisah Sebuah Baju

Hari Ketujuhbelas: Kisah Sebuah Baju

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (QS Al Mukminuun (23): 57-61)

Ada seorang ibu yang menjahitkan baju pada seorang tukang jahit di kota. Sebuah baju untuk perkawinan putrinya. Ketika baju tersebut jadi, datanglah ibu itu untuk mengambilnya. ”Sebuah baju yang indah,” seru sang ibu, ”Tapi ada yang tidak sesuai dengan permintaan saya pak penjahit. Bukankah saya minta bahunya dikembangkan sedikit supaya badan saya terlihat lebih tegap? Ini kok sempit sekali? Masih ada waktu hingga pesta perkawinan putri saya, tolong diperbaiki ya pak?”

Di luar dugaan, tiba-tiba penjahit ini langsung menangis terisak-isak.

Ibu ini buru-buru berkata, ”Lho pak, baju ini pasti saya ambil dan saya bayar kok. Bapak kan tinggal memperbaiki sedikit.”

Penjahit itu mengusap air matanya, kemudian ia berkata, ”Nyonya, bukan karena baju itu saya menangis. Tiba-tiba saya teringat ibadah saya. Seperti baju yang saya kerjakan itu, saya sudah mengupayakan yang terbaik. Ternyata masih saja ada cacatnya. Saya khawatir demikian juga dengan ibadah saya yang saya kerjakan, saya sudah mengerjakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Kemudian bagaimana jika ternyata ibadah saya ada cacat dan celanya lalu Allah tidak mau menerima ibadah saya sebagaimana nyonya tadi menolak baju buatan saya. Bagaimana jika Allah berkata: ”Ibadahmu kurang sempurna jadi belum bisa diterima. Tolong disempurnakan dulu...”

Subhanallah, bagaimana dengan ibadah kita? Apakah ibadah kita sudah sedemikian sempurna sehingga kita sering kali lalai dan terlena oleh dunia? Apakah kita tahu bahwa amal kita bakal diterima Allah? Lihat saja sholat kita yang penuh warna dan pikiran kita, jarang khusyu dan jika imam membaca bacaan panjang kita mengeluh. ’Ah... kapan selesainya sholat ini.’ Jika tiba jam sholat kita selalu mengulur-ulurnya, sehingga kita sholat ketika waktu sholat hampir habis. Lalu lihat sedekah kita, benarkah sama sekali tidak ada unsur riya di sana? Lalu lihatlah kebaikan-kebaikan yang kita perbuat untuk orang lain, benarkah kita benar-benar ikhlas Lillahi Ta’ala? Subhanallah...ternyata masih banyak sekali yang patut kita benahi. Padahal waktu kita tidak akan bertambah, yang ada terus berkurang.

Saudaraku, mudah-mudahan kita senantiasa ingat peringatan dari Al Quran:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At Tahrim (66): 6)

Mudah-mudahan kita sekalian selalu ingat bahwa kehidupan hanyalah sementara, dan kehidupan akhirat sudah menjelang di depan kita, sehingga kita selalu ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Terimakasih ya Allah atas pelajaran Sebuah Baju.

Hari Kelimabelas: You Are Loved

Hari Kelimabelas: You Are Loved

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS Huud (11): 6)

Saudaraku, apakah Anda termasuk orang yang bergetar ketika membaca ayat suci ini? Mungkin kita hanya memandang ayat ini sekilas lalu atau malah mengabaikannya. Namun demikian ada kisah menarik yang dapat kita hubungkan dengan ayat ini.

Ada seorang kontraktor di Jepang. Kontraktor ini mendapat tugas untuk merenovasi sebuah rumah yang berusia 10 tahunan. Pada saat ia mulai merobohkan tembok kayu, ia terkejut karena ternyata ada seekor kadal yang terjepit paku tembok kayu itu. Kontraktor ini merasa kasihan sekaligus heran, karena paku itu sudah ada sejak rumah itu berdiri yaitu sejak 10 tahun yang lalu. Lalu bagaimana sang kadal itu bisa bertahan terjepit paku selama 10 tahun ini? Karena penasaran kontraktor ini terus mengamati kadal ini.

Lalu tiba-tiba entah dari mana muncul seekor kadal yang lain membawa serangga di mulutnya, dan kadal ini memberikan serangga ini kepada kadal yang terjepit. Subhanallah. Ternyata dengan cara inilah kadal yang terjepit ini bertahan selama 10 tahun. Ternyata Allah tidak melupakan rezki untuk seluruh hamba-Nya tanpa ada satu pun yang tertinggal. Walaupun itu hanya seekor kadal. Apakah manusia tidak memperhatikan hal ini? Masih ragukah kita dengan rezki dari Allah?

Kemudian ada kisah tentang Ibrahim bin Adham sebelum beliau menjadi ulama besar. Sebelum menjadi ulama, Ibrahim bin Adham hanyalah orang biasa yang banyak melakukan safar (perjalanan). Suatu hari di tengah perjalanannya, ia beristirahat di bawah sebatang pohon. Kemudian Ibrahim membuka bekal siangnya, yaitu roti yang diisi dengan daging. Pada saat ia hendak memakan bekal siangnya, tiba-tiba datang seekor burung gagak dan menyambar bekalnya. Ibrahim marah bukan kepalang, lalu ia mengejar ‘burung pencuri sialan’ yang mencuri bekalnya.

Tidak terasa Ibrahim telah berlari mengejar burung itu hingga di lereng sebuah bukit, dan tiba-tiba burung gagak itu berhenti terbang dan mendarat di sebuah tebing. Lalu Ibrahim memanjat tebing itu untuk mengejar burung gagak itu. Tiba di atas tebing itu terkejutlah Ibrahim, di sana tergeletak seorang lelaki yang terluka dan di sampingnya ada bekal makan siangnya yang dicuri burung gagak tadi.

Lelaki yang terluka ini memandang Ibrahim dengan penuh kelegaan, “Alhamdulillah ada seseorang yang ke sini. Allah mengabulkan permohonanku. Kawan, jangan terkejut. Aku sudah di sini selama beberapa hari. Beberapa hari yang lalu aku pulang dari berdagang, namun di tengah perjalanan aku diserang kawanan perampok. Semua harta bendaku dirampas mereka, dan aku nyaris dibunuh mereka. Aku berhasil melarikan diri dan memanjat tebing ini untuk menghindari mereka. Namun naas bagiku, begitu sampai di atas tebing aku terjatuh dan kakiku patah tidak bisa ku gerakkan. Daerah ini begitu sepi. Bagaimana mungkin ada orang yang menolongku, pikirku. Aku pasrah kepada Allah, dan berdoa mudah-mudahan ada yang bisa menolongku dan menemukanku. Kemudian entah darimana datangnya tiba-tiba ada seekor burung gagak datang padaku dengan membawa makanan. Selama beberapa hari ini burung itu terus mengirimiku makanan seperti hari ini ia membawa roti ini. Dan karena pertolongan burung itulah aku bertahan hidup.”

Ibrahim bin Adham terpana mendengar penuturan si lelaki yang terluka itu. Tiba-tiba ia merasa sangat kecil di hadapan Allah. Apa yang telah ia perbuat hingga sekarang. Seekor burung gagak saja bisa mengerti perintah Allah, dan melaksanakan ‘ibadah’nya. Dunia demikian hampa dan kosong tanpa menjalankan perintah Allah.

Setelah mengantar lelaki yang terluka ini ke kota, Ibrahim segera menanggalkan semua dunia yang ada padanya, dan ia menekuni mempelajari agama Allah. Hingga di akhir hayatnya Ibrahim bin Adham dikenal sebagai seorang ulama besar.

Saudaraku, masihkah kita ragu dengan besarnya cinta Allah kepada kita? Allah telah memberikan semua yang kita butuhkan sepanjang hidup kita. Hanya saja barangkali kita tidak sadar bahwa itu semua adalah rezeki yang teramat besar. Bayangkan berapa liter oksigen yang kita hirup tiap hari, dan semuanya gratis. Coba kita tengok saudara-saudara kita yang tengah terbaring di Rumah Sakit, berapa uang yang harus mereka keluarkan untuk membeli oksigen ini. Jika 1 liter per jam seharga 15 ribu, berapa uang yang ia keluarkan untuk pemakaian oksigen selama 24 jam. Berapa yang harus ia keluarkan untuk pemakaian selama 1 bulan? Dan seterusnya. Lihatlah betapa cinta Allah kepada kita. Ini baru satu rezeki saja yang kita lihat, belum rezeki-rezeki Allah yang lain.

Saudaraku, mudah-mudahan sedikit yang saya sampaikan bisa mengingatkan kembali kita untuk senantiasa mengingat Allah. Betapa besar cinta Allah kepada kita, maka apakah pantas jika kita membalas cinta Allah dengan kedurhakaan dan kemaksiatan?

Hari Keempatbelas: Air Mata Rasulullah

Hari Keempatbelas: Air Mata Rasulullah

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam."Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam", kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?", tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. "Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?", tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: "Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnyamenunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku"-peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu-Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Saudaraku, betapa cintanya Rasulullah kepada kita

Hari Ketigabelas: Prasangka

Hari Ketigabelas: Prasangka

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujurat (49): 12)

Ada seorang santri yang mendapat tugas dari gurunya untuk menimba ilmu pada Abid temannya di kota lain. Lama si santri berjalan dan menanyakan kepada orang-orang di sepanjang perjalanan tentang siapa dan bagimana Tuan Abid yang akan dia temui.

”Untuk apa engkau menanyakan si brengsek itu,” kata seseorang yang ia temui di jalan. ”Dia mudah di cari, sebab ia selalu duduk bersama para pemabuk dan penjudi.”

”Dia selalu menghabiskan waktunya dengan banyak pelacur”

”Dia dulunya orang yang alim, sekarang berubah menjadi hina.”

Begitulah kata orang-orang di sepanjang perjalanan. Si santri ini mulai bimbang, mengapa semua orang membicarakan keburukan Tuan Abid? Apakah gurunya tidak salah menyuruh dirinya menimba ilmu dari Tuan Abid? ”Ah, itu hanya tuduhan tanpa bukti, aku belum percaya jika belum membuktikannya.”

Sampailah ia di kota tempat Tuan Abid berada, lalu ia berjalan mendekat kerumunan penjudi dan pemabuk untuk membuktikan kebenaran berita itu. Si santri menanyakan pada salah seorang penjudi, apakah Tuan Abid ada di situ. Penjudi itu menunjuk ke tengah-tengah kerumunan para pemabuk. ”Ah, ternyata benar berita itu,” keluh si santri dalam hati.

Pupuslah keinginan si santri untuk bertemu dan berguru kepada Tuan Abid, lalu dengan langkah lesu dan tidak nyaman ia segera berlalu dari tempat itu. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Ternyata Tuan Abid yang menepuk pundaknya kemudian Tuan Abid berkata, ”Engkau orang yang dikirim temanku? Aku tahu engkau pasti berprasangka buruk terhadapku. Aku dikelilingi para pemabuk dan penjudi, kadang aku ke tempat pelacuran. Engkau pasti menduga bahwa aku melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan Allah. Engkau pasti menyangka, bahwa aku ini orang brengsek yang tidak tahu malu. Ketahuilah, dulu di sini ada sekitar 80-an penjudi dan pemabuk. Sekarang coba engkau hitung, yang tersisa sekarang hanya 40-an. Ke mana yang 40 lainnya? Alhamdulillah mereka sudah bertaubat, dan kembali kepada-Nya. Sekarang yang 40 orang yang masih berada di sini adalah tugasmu untuk mengajak mereka kembali ke jalan Allah SWT. Dan karena tugas inilah gurumu mengirimmu kepadaku.”

Saudaraku, kita sadari atau tidak, mungkin kita juga terlalu seing berprasangka buruk pada orang lain. Hanya karena penampilan yang tidak menarik, atau pakaian lusuh lantaran himpitan ekonomi seringkali kita curiga pada orang lain. Jangan-jangan dia datang ke rumah kita mau berhutang, mungkin mencuri dan lain-lain. Juga pada saat pemilihan kepala daerah, atau pemilihan umum. Kita begitu mudah curiga pada pendukung kelompok lain bahwa mereka akan melakukan kecurangan sehingga kita menjadi over action terhadap seluruh berita yang datang. Padahal berita itu belum tentu benar adanya. Dengan prasangka tersebut kita menjadi begitu mudah terhasut, begitu mudah diprovokasi, dan begitu mudah menjatuhkan sangsi, maupun hukuman. Al Quran telah mengingatkan kita:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS Al Hujurat (49): 6)

Saudaraku, apa jadinya jika kita terlanjur menghukum orang lain lantaran prasangka dan berita bohong yang kita terima tanpa disertai bukti-bukti yang nyata? Tentu saja kita akan menyesal seumur hidup kita, bahwa kita telah mendzalimi orang lain. Ya jika orang yang kita dzalimi masih hidup dan mau memaafkan kita. Apa jadinya jika orang yang kita dzalimi kemudian meninggal akibat sangsi atau hukuman kita? Pernah ada suatu kejadian di negara Amerika Serikat, seseorang divonis penjara selama 15 tahun pejara, dengan tuduhan penganiayaan dan pembunuhan terencana. Selama lebih dari 14 tahun ia mendekam di penjara, atas tuduhan itu. Padahal ia sendiri sama sekali tidak melakukan kejahatan yang dituduhkan meja hijau atas dirinya. Kebenaran akhirnya terkuak, beberapa bulan menjelang kebebasannya, polisi menemukan pembunuh sebenarnya. Sekiranya hal ini menimpa kita, apakah kita tidak akan menyesal seumur hidup kita telah menjatuhkan vonis yang salah kepada orang yang tidak bersalah? Mari kita simak hadits nabi berkenaan dengan hal ini:

Dari Abu Huroiroh ra, dari Rasulullah saw: “Siapa saja yang pernah menganiaya saudaranya, baik kehormatannya maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia minta maaf sebelum datang saat dinar dan dirham tidak lagi berguna. Jika tidak apabila ia memiliki amal soleh, maka amalnya akan diambil sesuai dengan kadar penganiayaan, namun apabila ia tidak memilik amal kebaikan maka kejahatan orang yang dianiaya itu akan diambil dan dibebankan padanya” (HR Bukhori)

Saudaraku, mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa kembali mengingatkan kita, supaya kita menjauhi prasangka. Karena sebagian dari prasangka adalah dosa.

Hari Keduabelas: Tsunami Nabi Nuh as

Hari Keduabelas: Tsunami Nabi Nuh as

Saudaraku, bencana tsunami yang terjadi di Aceh, Thailand, Yogyakarta, Pangandaran dan lain-lain telah kita saksikan kedahsyatanya. Hampir semua bangunan yang disapu gelombang itu luluh lantak sama dengan tanah. Di Aceh sendiri tercatat lebih dari 400.000 jiwa yang meninggal dan hilang akibat terjangan tsunami. Seluruh infrastruktur di bumi Nanggroe Aceh Darussalam hancur total. Itulah gambaran tsunami yang terjadi di abad ini.

Pernahkah kita membayangkan, bagaimana dengan tsunami yang terjadi di zaman Nabi Nuh as? Mari kita simak berita dari Al Quran tentang tsunami Nabi Nuh as sebagai balasan atas pendustaan Kaum Nabi Nuh terhadap Nabi Nuh dan ajarannya:


Dan sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang Ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti )ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, Maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu."

Nuh berdoa: "Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku."
Lalu Kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, Maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, Maka ucapkanlah: "Segala puji bagi Allah yang Telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim." Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah Aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat." Sesungguhnya pada (kejadian) itu benar-benar terdapat beberapa tanda (kebesaran Allah), dan Sesungguhnya kami menimpakan azab (kepada kaum Nuh itu). (QS Al Mu’minuun (23): 23-30)

Juga dalam QS Al Ankabut (29): 14-15

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. Maka kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.

Digambarkan waktu itu, air banjir telah menenggelamkan gunung, sehingga putra Nabi Nuh as (Kan’an) yang enggan mengikuti ayahnya terseret gelombang dan tenggelam dalam banjir tersebut. Tsunami Nabi Nuh tidak hanya menghantam satu daerah, namun menyapu seluruh negeri Nabi Nuh dan meluluh lantakkan seluruh peradaban yang telah dicapai saat itu.

Saudaraku, pernahkah kita membayangkan, berapa besar dan tangguh kapal yang ditumpangi Nabi Nuh as berikut para pengikutnya, dan sepasang tiap jenis binatang? Teknologi macam apa yang telah digunakan untuk membuat kapal itu. Teknologi tingkat tinggi yang ada sekarang bahkan belum mampu menciptakan kapal yang mampu menahan gelombang tsunami sedahsyat tsunami Aceh. Apalagi menahan tsunami yang terjadi di zaman nabi Nuh as. Kapal Titanic yang diklaim sebagai kapal pesiar terkuat, ternyata harus karam hanya karena benturan dengan karang gunung es pada pelayaran perdananya. Sedangkan kapal Nabi Nuh as, mampu mengarungi sapuan gelombang tsunami, mampu menahan seluruh benturan dahsyat di samping kanan-kiri, depan-belakang. Sungguh sebuah hasil teknologi yang luar biasa. Jangan pernah memikirkan bahwa kapal nabi Nuh as terbuat dari perahu sampan kecil. Sampan kecil tentunya tidak akan pernah mampu menahan sapuan ganas tsunami, dan segera hancur berkeping-keping.

Saudaraku, sekarang apakah kita akan menyombongkan diri mengklaim bahwa teknologi kita saat ini sangat mutakhir. Bahkan ada yang –naudzubillah- sampai menuhankan teknologi. Simaklah Al Quran menuturkan bahwa orang-orang sebelum kita jauh lebih unggul, dan Allah telah memusnahkan kaum tersebut:

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka Rasul-Rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS Ar Ruum (30): 9)

Fakta berbicara bahwa teknologi kita sangat jauh dari teknologi orang-orang sebelum kita. Membuat kapal sekelas kapal yang dibuat Nabi Nuh saja belum tentu kita sanggup. Apa yang pantas kita sombongkan?

Saudaraku, semoga pelajaran tsunami Nabi Nuh senantiasa mengingatkan kita, bahwa sesungguhnya kita ini sangat kecil. Dan kemajuan ilmu pengetahuan yang telah kita capai saat ini mungkin belum ada apa-apanya di bandingkan kemajuan teknologi zaman dahulu. Hanya saja peradaban zaman dulu telah Allah musnahkan seperti yang telah kita saksikan sendiri bagaimana Allah memusnahkan sedikit peradaban di Aceh dengan tsunami. Dan orang-orang sesudahnya harus meniti dari awal untuk memulai peradaban. Hanyalah Allah yang Maha Besar dan Maha Menciptakan, pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.