Hari Keduapuluh Delapan: Tentang Ibadah Kita
Kawan saya bercerita, pada saat ia sedang pelatihan selama 6 hari, ia mengamati ternyata banyak dari peserta pelatihan yang Muslim namun tidak melaksanakan kewajiban yaitu sholat fardhu 5 waktu. Bahkan sewaktu ia kembali dari masjid, salah seorang peserta yang tidak sholat ada yang menyindirnya, “Mas, baru dari masjid ya. Dapat apaan tuh di sana?” Tentu saja pertanyaan itu tidak ditanggapi oleh kawan saya. Kawan saya prihatin, mengapa orang-orang begitu mudah melalaikan ibadah fardhu nya, seakan-akan sholat itu hanyalah beban dan mendirikan sholat merupakan suatu pekerjaan yang sia-sia.
Saudaraku, fenomena yang dialami kawan saya bukanlah satu-satunya yang terjadi di lingkungan kita. Banyak umat Islam yang selalu menghindar jika diajak sholat, bahkan ada yang pernah berkomentar, “Lho sholat fungsinya buat apa? Itu yang rajin sholat saja tidak pernah kaya. Kariernya pun sampai di situ saja, tidak pernah naik jabatan, tidak punya rumah, apalagi mobil. Apa ada artinya permohonan dan sholat kita?”
Saudaraku, mendengar komentar seperti ini saya jadi ingat senior saya pernah bercerita tentang janin dalam kandungan. Janin dalam rahim ibu adalah mahluk yang benar-benar beruntung, katanya. Bagaimana tidak beruntung, tanpa harus bekerja keras ia telah mendapat suplai makanan dan energi dari ibunya melalui tali pusat dan plasenta. Seluruh kebutuhannya selalu terpenuhi. Karena janin tidak perlu bekerja dalam mendapatkan nutrisi, maka anggota tubuh janin yang lain selain tali pusat dan plasenta seperti tangan, kaki, mata, hidung, telinga dan mulut tidak memiliki arti apa pun dalam kandungan. Malahan anggota tubuh seperti kaki dan tangan seringkali mengganggu posisi janin dalam kandungan. Untuk mendapatkan posisi yang nyaman, terkadang janin harus menendang-nendang rahim sang ibu. Ya dalam ruang sekecil itu memang sulit baginya bergerak bebas, apalagi ditambah adanya tangan dan kaki. Jelas bahwa anggota tubuh janin selain tali pusat dan plasenta dalam rahim merupakan sesuatu hal yang tidak berguna. Bahkan terkesan sangat mengganggu. Namun sesuatu yang tidak berguna dalam rahim inilah yang justru berperan penting dalam kehidupan di dunia ini. Sedangkan sumber kehidupan janin dalam kandungan yaitu tali pusat, justru yang pertama kali dipotong bidan manakala bayi dilahirkan di dunia ini.
Bayangkan, seandainya janin dilahirkan tanpa anggota badan, tanpa mata, telinga, dan mulut. Sungguh suatu penderitaan baginya untuk menjalani kehidupan di dunia ini.
Begitulah kira-kira gambaran ibadah kita di masa sekarang ini. Memang ada yang sangat khusyuk sholat, sholat jamaah tidak pernah ia tinggalkan, tahajjud ia dirikan setiap malam, namun dalam kehidupan duniawi ia kurang sukses. Tidak pernah naik jabatan, banyak utang di sana-sini dan lain-lain. Tetapi sesungguhnya tiap-tiap segala sesuatu ada masanya. Apakah sholat menjadi takaran kesuksesan yang diukur dengan materi? Seperti halnya tangan dan kaki kita dalam kandungan yang seakan tidak memberi manfaat, demikian pula dengan sholat kita dan ibadah kita yang lain, saat ini mungkin belum nampak manfaatnya selain ketaqwaan, ketawadhu’an dan keikhlasan seorang hamba. Namun di akhirat nanti saat tangan dan kaki kita tidak berperanan, ibadah-ibadah kitalah yang saat itu berperan sebagai ‘tangan dan kaki’ kita. Bayangkan apa jadinya jika kita melepas sholat kita, bukankah nanti di akhirat kita tak ubahnya seperti bayi yang dilahirkan tanpa anggota badan, tanpa mata dan telinga. Dan jika sholat kita, ibadah kita buruk tanpa keikhlasan, bukankah itu sama artinya kita membuat cacat ‘tangan dan kaki’ kita di akhirat? Padahal ‘tangan dan kaki’ kita inilah yang nantinya akan bekerja menolong kita dari siksa api neraka.
Saudaraku, marilah kita kembali membenahi ibadah kita dan sholat kita. Peringatkan saudara-saudara kita yang lalai dalam sholat, kurang ikhlas dalam beribadah. Ingatlah peringatan Allah dalam firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At Tahrim (66): 6)
Wallohu a’lam bishowab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar