Kamis, 02 Oktober 2008

Hari Ketigapuluh: Ketenangan

Hari Ketigapuluh: Ketenangan

Seorang Guru ditanya oleh muridnya, mengapa hidupnya selalu tenang dan berbahagia sekalipun dalam keadaan sulit.

Sang Guru berkata, “Aku beribadah di kala beribadah, aku makan di kala makan, aku tidur di kala tidur, dan aku membaca di kala membaca. Demikianlah Nak yang aku lakukan.

“Tetapi Guru pekerjaan itu juga dilakukan oleh orang-orang , “ sahut muridnya, ”Dan mereka tidak seperti Guru.”

“Nak di dalam melakukan segala sesuatu, maka lakukanlah ia sebagaimana ia harus dilakukan. Di kala engkau makan maka nikmatilah engkau sedang makan. Di kala engkau tidur pulas pikirkanlah bahwa engkau sedang tidur, demikianlah seterusnya. Kebanyakan orang-orang selalu memikirkan yang lain pada saat melakukan sesuatu. Di kala makan ia ingat tugasnya, di kala duduk ia memikirkan pekerjaannya, di kala istirahat ia membebani pikirannya dengan keluarganya, hartanya dan lain sebagainya. Begitulah Nak, ambisi yang kuat telah mempengaruhi dirinya. Nak, ambisi itu penting, tetapi ambisi yang berlebihan menyebabkan kehidupan ini menjadi tidak tenang dan tertekan.”

Saudaraku, pada saat saya sedang anamnesis dengan seorang pasien gagal ginjal, pasien itu bercerita kenapa ia bisa sampai mendapatkan penyakit tersebut. Ia seorang yang berhati-hati dalam makanan apalagi konsumsi obat-obatan, sehingga kecurigaan penyebab gagal ginjal akibat makanan dan obat-obatan bisa disingkirkan. Ia juga tidak pernah sedikit pun mengkonsumsi barang terlarang seperti minuman keras, narkoba atau semacamnya. Pasien itu mengatakan bahwa dirinya mulai terserang penyakit bermula dari obsesinya yang sangat tinggi dan keinginannya yang terlampau besar. Sehari-hari ia penuhi dengan memikirkan cara bagaimana supaya ia bisa meraih keuntungan, bisa menembus pasar dengan modal sedikit hasil berlimpah, begitu seterusnya. Ia tidak pernah membiarkan pikirannya berhenti untuk tidak berpikir. Belum selesai satu urusan, sudah datang urusan yang lain yang tidak kalah menjanjikan keuntungannya. Rupanya ambisi dan obsesinya yang terlalu besar ini telah menggerogoti tubuhnya dari dalam. Tiba-tiba saja ia mulai menderita darah tinggi, disusul dengan diabetes, kemudian sampailah ia pada kondisi gagal ginjal. Suatu keadaan yang sampai saat ini belum ada penyembuhannya. Dan hasil akhirnya bisa ditebak, bahwa seluruh keuntungan yang ia dapatkan selama ia bekerja keras dan berpikir membabi buta itu sudah habis untuk biaya pengobatan dan cuci darah.

Saudaraku, selama kita hidup kita tidak akan lepas dari tanggung jawab yang ada. Kita juga merupakan anggota keluarga, masyarakat, warga negara yang memiliki hak dan kewajiban. Sebagai orang tua kita wajib menafkahi keluarga, sebagai karyawan atau pekerja kita memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan kita, sebagai umat kita juga berkewajiban menyampaikan dakwah. Tentu saja hal ini bisa membuat kita tertekan, gelap mata dan lain-lain. Namun dengan arahan Al Quran, insya Allah kita akan bisa melalui semua dengan tenang. Mari kita simak ayat Al Quran mengajarkan:

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah (62): 10)

Maksudnya kita harus secara khusuk mengerjakan suatu pekerjaan, kemudian setelah selesai kita susul dengan pekerjaan yang lain. Hal yang paling penting di sini adalah MENGINGATI ALLAH, ingatlah bahwa bekerja mencari nafkah adalah ibadah, dengan demikian hati kita akan bersih karena kita yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi kita. Kita akan merasakan bahwa rejeki adalah urusan Allah, kita tidak akan melakukan kecurangan, memakan harta yang bukan hak dan tidak akan memikirkan cara kotor untuk mendapatkan rejeki. Ambisi kita yang menggebu-gebu, insya Allah akan terarah menuju kebaikan bukan penyakit seperti yang terjadi seperti yang dialami oleh pasien di atas.

Wallohu a’lam bishowab.

Perjalanan hidup ini memang sangat panjang. Ibarat orang berlari marathon, jangan sekali-kali melakukan sprint sejak garis awal. Siapa pun yang melakukan hal itu, pasti akan kehabisan nafas. Akhibatnya ia tidak sampai di garis finish.

Tidak ada komentar: