Hari Keduapuluh Tujuh: Sederhana
Suatu hari salah seorang putra Khalifah Umar pulang dari madrasah sambil menangis. Lalu Umar bertanya, “Mengapa engkau menangis nak?”
Putranya menjawab bahwa teman-temannya di sekolah terus-menerus mengejeknya, “Lihatlah, putra Amirul Mukminin bajunya tambalan semua.”
Merasa kasihan terhadap putranya Umar segera menulis surat kepada bendaharawan Baitul Maal, isinya bahwa Umar hendak meminjam uang sebesar 4 dirham. Adapun pembayarannya dipotongkan dari gajinya bulan depan. Namun balasan surat dari sang bendaharawan bukan uang seperti yang dikehendaki Umar melainkan sepucuk surat. Isinya, “...Wahai Umar, apakah engkau yakin masih hidup hingga bulan depan sehingga berani memastikan untuk membayar dengan gajimu bulan depan?...”
Membaca surat itu Umar langsung tersungkur dan menangis, kemudian Umar menasehatkan putranya untuk bertahan dalam kesederhanaan. Akhirnya baju yang penuh tambalan itu pun tetap dikenakan putra Khalifah dalam bersekolah di madrasah.
Saudaraku, kisah di atas adalah kisah nyata yang terjadi di masa Khalifah Umar bin Khottob ra. Umar yang seharusnya bisa hidup dalam kecukupan ditambah dengan fasilitas yang ia dapatkan karena jabatannya sebagai khalifah, sebagai panglima perang tertinggi dalam negeri Islam, namun Umar memilih untuk hidup bersahaja. Bahkan untuk membeli baju yang pantas buat putranya saja ia tidak mampu. Itulah gambaran hidup penuh kesederhanaan mencontoh teladan terbaik yang pernah ada yaitu Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad begitu bersahaja, sehingga pernah dalam rumah tangga beliau tungku dapurnya tidak menyala selama 2 bulan lamanya. Lantaran memang tidak ada yang bisa dimasak. Pada saat perang Khandaq, di tengah pembuatan parit para sahabat yang bekerja dengan perut lapar, mengganjal perut mereka dengan sebuah batu. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah ternyata Rasulullah SAW sendiri telah mengganjal perutnya dengan dua buah batu. Pernah suatu ketika, selesai mengimami sholat Rasulullah segera pulang ke rumah. Para sahabat heran, ada apa gerangan sehingga Rasulullah begitu terburu-buru sampai melewatkan dzikir ba’da sholat. Tak berapa lama kemudian Rasulullah kembali ke masjid sambil membawa beberapa uang dirham. Kemudian beliau membagi-bagikannya kepada fakir miskin. Beliau menjelaskan bahwa sebelumnya beliau mendapat hadiah beberapa dirham, dan dan setelah sholat beliau ingat bahwa dirham itu masih tersimpan di rumah beliau. Maka beliau pun kembali ke rumah dan membagi-bagikan uang tersebut. Itulah Rasulullah SAW yang tidak pernah melewatkan uang dinar maupun dirham bermalam lebih dari 1 hari di rumah. Ketika beliau SAW wafat, bukanlah harta benda yang beliau tinggalkan untuk ahli waris beliau. Karena saat itu bahkan baju besi beliau tengah tergadai untuk sekantung gandum. Beliau SAW mewariskan Islam kepada seluruh umatnya.
Hidup sederhana. Kurang lebih itulah gambaran kehidupan Rasulullah SAW. Sekarang mari kita tengok kehidupan kita di masa sekarang. Bangsa Indonesia, dalam pandangan orang luar, adalah bangsa yang luar biasa konsumtif. Mengapa? Karena kita begitu mudah berbelanja untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Ada di antara kita yang begitu memperhatikan mode, sehngga ia harus selalu mengganti kendaraan, hand phone, rumah, perabotan dan lain-lain. Padahal barang-barang yang ia miliki masih baik dan tidak rusak. Ada juga di antara kita yang hobi mengkoleksi barang mewah, seperti mobil, perumahan, permata, perhiasan dan lainnya. Maka kita tidak heran jika kita bisa menyaksikan mobil-mobil mewah berkelas begitu banyak berlalu lalang di jalan raya. Padahal di negara Barat, mobil-mobil mewah yang berlalu lalang bisa dihitung dengan jari. Bangsa kita cenderung suka besar pasak daripada tiang. Banyak dari kita yang mmbeli barang karena ingin bukan karena kebutuhan. Tidak sedikit dari kita yang terpancang membeli merek suatu barang. Asal merek terkenal, berapa pun harganya berani kita beli. Sebaliknya produk yang sama, baik mutu dan kualitasnya namun dari merek tidak terkenal dengan harga yang lebih murah seringkali kita hindari. Sifat ini pula yang terkadang membuat perekonomian negeri kita sulit berkembang. Bangsa kita telah memproduksi berbagai produk dalam negeri yang bermutu dengan harga yang terjangkau, namun kita lebih tenang jika membeli produk yang sama merek luar negeri ternama dengan harga berkali-kali lipat.
Saudaraku, ada sebuah sekuel cerita menarik yang patut kita simak. Pada masa penjajahan Inggris di tanah Jawa, salah seorang bangsawan Inggris memerintahkan pembantunya untuk berbelanja keperluan sehari-hari di sebuah toko milik orang Inggris. Suatu hari, pembantunya mengembalikan sejumlah uang belanja hari itu kepada bangsawan tersebut. Bangsawan itu heran, mengapa ada kembalian sebab biasanya uang itu pas. Pembantunya menjelaskan, bahwa hari ini ia berbelanja di toko orang Arab, harga-harga di sana jauh lebih murah daripada di toko orang Inggris. Bangsawan Inggris itu bukannya senang dengan penuturan pembantunya, lalu ia berkata, “Besok lagi belanja, tetap di toko orang negeri kita, biarpun lebih mahal tidak apa-apa.” Subhanallah... bagaimana dengan orang-orang di negeri kita?
Saudaraku, bangsa kita di samping terkenal karena sifat konsumerisme-nya, juga terkenal dengan sifat pemborosannya (isrof). Lihatlah pemborosan dana negara melalui persidangan anggota parlemen yang menghabiskan dana milyaran rupiah, insentif dan mobil dinas mewah yang dipakai para petinggi negara, anggaran tak terbatas untuk studi banding dan lain-lain. Lalu lihatlah bagaimana orang-orang kaya di negera ini yang kerap menyelenggarakan pesta yang menghabiskan dana milyaran rupiah. Lalu lihatlah juga pribadi kita masing-masing, bukankah kita sering dimanjakan oleh kendaraan? Untuk pergi ke tempat yang tidak jauh saja kita menggunakan kendaraan bermotor, padahal jarak itu bisa ditempuh dengan sepeda atau jalan kaki. Itulah sekelumit bangsa kita. Padahal Allah SWT telah mengingatkan kita tentang pemborosan ini:
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al Isra (17): 26-27)
Naudzubillahi min dzalik, jika kita tergolong dalam kaum pemboros yang merupakan saudaranya setan. Saudaraku, setelah melihat kenyataan di atas, sudah sepatutnya kita merubah hidup kita. Hiduplah sederhana, dimulai dari pribadi kita masing-masing -ifdak bi nafsih. Pepatah Cina mengatakan: Perjalanan seribu mil, hanya akan dimulai dari mil yang pertama.
Jadi kalau tidak sekarang, kapan lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar