Hari Keduapuluh Enam: Itsar
Suatu ketika keluarga saya diundang oleh kolega untuk menghadiri pesta perkawinannya di sebuah hotel. Hidangan pesta yang berlimpah seakan tidak pernah terputus dan kemewahan pestanya sangat terasa. Ketika saya bertanya kepada salah seorang tamu, kira-kira berapa uang yang dikeluarkan kolega saya untuk sebuah pesta semacam ini. Tamu yang kebetulan masih famili itu menjawab, “250 juta rupiah.” Tidak heran jika sampai menghabiskan dana begitu besar, karena pesta itu benar-benar mewah dan megah. Untuk membuat kartu undangan menghabiskan 60 juta rupiah, sewa gedung hotel 50 juta rupiah untuk beberapa jam saja, belum lagi untuk konsumsi dan lain-lain. Dalam hati kecil saya muncul suara, “Ah ini pemborosan.” Terus terang saya tidak betah dalam suasana hingar bingar penuh kemewahan semacam itu. Setelah mengucapkan selamat kepada kolega saya, saya pamitan keluar dari hotel tempat resepsi. Dalam perjalanan pulang, –kebetulan rumah saya berbeda kota dengan lokasi resepsi kolega saya- saya menjumpai suatu hal yang sangat bertolak belakang dengan kemewahan yang baru saja saya lihat. Di pinggiran kota, ada sebuah lingkungan kumuh dengan anak-anak yang tidur hanya ditutupi selembar kardus bekas mie instan. Ada anak-anak yang sedang bermain sepak bola dari plastik. Kondisi rumah yag jauh dari kelayakan, sanitasi lingkungan yang sangat kurang, ancaman gizi buruk dan penyakit dan lain-lain. Benar-benar sangat kontras dengan kemewahan tadi. Saya tidak tahu sudah berapa kali anak-anak itu mengecap makanan enak. Jangankan mengecap makanan enak, sehari semalam belum tentu mereka bisa makan 3 kali. Sungguh suatu pemandangan yang memilukan hati. Dan yang lebih menyakitkan, pemandangan menyedihkan semacam ini bisa dijumpai di seluruh kota-kota tanah air.
Tanpa terasa, mata saya menjadi merah. Rasanya air mata hampir tak terbendung. Betapa tidak, di negeri ini ada yang bisa membuat pesta untuk sehari semalam dengan menghabiskan dana ratusan juta rupiah, malah ada kawan di Jakarta yang sampai menghabiskan dana ½ milyar rupiah. Tetapi di negeri ini pula, banyak sekali orang-orang yang hanya untuk makan sehari sekali saja tidak mampu. Lihatlah kasus malnutrisi di negeri ini, lalu kasus tentang 1 keluarga yang meninggal akibat kelaparan, para pengungsi bencana negeri ini juga terancam kelaparan, ketakutan dan penyakit dan lain-lain. Masya Allah sungguh ironis sekali. Padahal Allah telah mengingatkan kita:
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'Ainul Yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS At Takatsur (102): 1-8)
Kita jadi ingat Umar bin Khattab ra dan Umar bin Abdul Azis semasa hidupnya menjadi khalifah. Begitu menjadi khalifah, seluruh hidupnya diabadikan sebesarnya untuk kepentingan umat. Padahal sebelum menjadi khalifah, keduanya terbiasa hidup serba berkecukupan. Inilah itsar, yaitu kebiasaan mendahulukan kepentingan orang lain. Kita ingat juga kisah Khuzaifah ra dalam perang Yarmuk. Kala itu banyak orang yang terluka dan kehausan memerlukan air. Khuzaifah membawa air untuk keponakannya yang terluka, tetapi di kejauhan ada orang yang meminta air. Keponakan Khuzaifah tidak jadi minum dan meminta pamannya memberikan air itu kapada sahabat lain yang memerlukan. Ketika tiba pada sahabat lain, dari kejauhan ada pula yang meminta air, sahabat kedua ini pun tidak jadi minum dan dia meminta Khuzaifah memberikan air itu kepada sahabat lain yang sangat membutuhkan. Tiba di sahabat ketiga, ketika Khuzaifah hendak memberikan air minum ternyata sudah meninggal. Khuzaifah segera lari ke sahabat kedua, tenyata juga sudah meninggal. Akhirnya Khuzaifah lari kembali kepada keponakannya, tetapi Allah SWT pun telah mengambil nyawa keponakannya. Inilah kisah tentang itsar, bagaimana para sahabat nabi mengamalkan ajaran Islam untuk mendahulukan kepentingan orang lain melebihi kepentingan dirinya sendiri. Alangkah indahnya jika tradisi itsar ini berkembang dalam pribadi-pribadi kaum Muslim. Orang tidak berlomba-lomba dalam kemewahan tetapi berlomba-lomba dalam kebaikan dan kebajikan sebagaimana termaktub dalam Al Quran:
.... Maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan ..... (QS Al Baqoroh (2): 148)
Orang tidak lagi bersifat egois berlebihan (‘annaniyah-nafsiyah) tetapi bersifat sosial. Menganggap manusia itu sama di mata Tuhan, bisa merasakan penderitaan orang lain. Sayangnya di pada masa sekarang ini orang diajarkan dan diciptakan dalam kondisi untuk bersifat egois dan mencintai dirinya melebihi apa pun. Semenjak dari bangku sekolah kita dididik untuk selalu bersaing, untuk lulus dengan predikat terbaik. Kalau nilai kita jelek, kita selalu dibayang-bayangi kegagalan di masa depan. Seakan-akan nilai akademik pasti menjamin kesuksesan di masa depan. Setelah lulus sekolah, kita pun masih harus berebut dalam dunia kerja yang serba keras. Meskipun gelar sarjana sudah di tangan, namun pekerjaan pun tak kunjung kita peroleh. Akibatnya cara-cara kotor pun digunakan, dengan suap, kolusi dan lain-lain. Kalau perlu kita sikut sana, sikut sini asalkan kita bisa mendapat pekerjaan atau jabatan. Tidak peduli dengan mereka yang berlaku jujur. Padahal cara-cara seperti ini jelas sangat ditentang dalam Islam. Itulah produk-produk kapitalisme dan egoisme yang jauh sekali dari tradisi itsar dalam Islam. Dan itulah yang tengah terjadi di negeri kita.
Terakhir, marilah sejenak kita muhasabbah diri kita. Sudahkah tradisi itsar ini kita warisi? Jika sudah, jangan biarkan tradisi itsar yang mulia ini padam dari diri kita. Perbanyaklah amal soleh, dan berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan, Insya Allah kita akan terus dituntun Allah dalam jalan-Nya yang lurus.
Fastabiqul khoirot...
Kalau burung pipit membuat sarang di hutan
Sarang itu hanya menempati sebuah ranting
Kalau rusa memuaskan dahaganya di sungai
Ia minum tidak lebih dari yang dapat ditampung lambungnya
Kita mengumpulkan barang dan harta
Karena hati kita kosong

Tidak ada komentar:
Posting Komentar