Hari Keduabelas: Tsunami Nabi Nuh as
Saudaraku, bencana tsunami yang terjadi di Aceh, Thailand, Yogyakarta, Pangandaran dan lain-lain telah kita saksikan kedahsyatanya. Hampir semua bangunan yang disapu gelombang itu luluh lantak sama dengan tanah. Di Aceh sendiri tercatat lebih dari 400.000 jiwa yang meninggal dan hilang akibat terjangan tsunami. Seluruh infrastruktur di bumi Nanggroe Aceh Darussalam hancur total. Itulah gambaran tsunami yang terjadi di abad ini.
Pernahkah kita membayangkan, bagaimana dengan tsunami yang terjadi di zaman Nabi Nuh as? Mari kita simak berita dari Al Quran tentang tsunami Nabi Nuh as sebagai balasan atas pendustaan Kaum Nabi Nuh terhadap Nabi Nuh dan ajarannya:
Dan sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang Ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti )ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, Maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu."
Nuh berdoa: "Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku."
Lalu Kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, Maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, Maka ucapkanlah: "Segala puji bagi Allah yang Telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim." Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah Aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat." Sesungguhnya pada (kejadian) itu benar-benar terdapat beberapa tanda (kebesaran Allah), dan Sesungguhnya kami menimpakan azab (kepada kaum Nuh itu). (QS Al Mu’minuun (23): 23-30)
Juga dalam QS Al Ankabut (29): 14-15
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. Maka kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.
Digambarkan waktu itu, air banjir telah menenggelamkan gunung, sehingga putra Nabi Nuh as (Kan’an) yang enggan mengikuti ayahnya terseret gelombang dan tenggelam dalam banjir tersebut. Tsunami Nabi Nuh tidak hanya menghantam satu daerah, namun menyapu seluruh negeri Nabi Nuh dan meluluh lantakkan seluruh peradaban yang telah dicapai saat itu.
Saudaraku, pernahkah kita membayangkan, berapa besar dan tangguh kapal yang ditumpangi Nabi Nuh as berikut para pengikutnya, dan sepasang tiap jenis binatang? Teknologi macam apa yang telah digunakan untuk membuat kapal itu. Teknologi tingkat tinggi yang ada sekarang bahkan belum mampu menciptakan kapal yang mampu menahan gelombang tsunami sedahsyat tsunami Aceh. Apalagi menahan tsunami yang terjadi di zaman nabi Nuh as. Kapal Titanic yang diklaim sebagai kapal pesiar terkuat, ternyata harus karam hanya karena benturan dengan karang gunung es pada pelayaran perdananya. Sedangkan kapal Nabi Nuh as, mampu mengarungi sapuan gelombang tsunami, mampu menahan seluruh benturan dahsyat di samping kanan-kiri, depan-belakang. Sungguh sebuah hasil teknologi yang luar biasa. Jangan pernah memikirkan bahwa kapal nabi Nuh as terbuat dari perahu sampan kecil. Sampan kecil tentunya tidak akan pernah mampu menahan sapuan ganas tsunami, dan segera hancur berkeping-keping.
Saudaraku, sekarang apakah kita akan menyombongkan diri mengklaim bahwa teknologi kita saat ini sangat mutakhir. Bahkan ada yang –naudzubillah- sampai menuhankan teknologi. Simaklah Al Quran menuturkan bahwa orang-orang sebelum kita jauh lebih unggul, dan Allah telah memusnahkan kaum tersebut:
Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka Rasul-Rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS Ar Ruum (30): 9)
Fakta berbicara bahwa teknologi kita sangat jauh dari teknologi orang-orang sebelum kita. Membuat kapal sekelas kapal yang dibuat Nabi Nuh saja belum tentu kita sanggup. Apa yang pantas kita sombongkan?
Saudaraku, semoga pelajaran tsunami Nabi Nuh senantiasa mengingatkan kita, bahwa sesungguhnya kita ini sangat kecil. Dan kemajuan ilmu pengetahuan yang telah kita capai saat ini mungkin belum ada apa-apanya di bandingkan kemajuan teknologi zaman dahulu. Hanya saja peradaban zaman dulu telah Allah musnahkan seperti yang telah kita saksikan sendiri bagaimana Allah memusnahkan sedikit peradaban di Aceh dengan tsunami. Dan orang-orang sesudahnya harus meniti dari awal untuk memulai peradaban. Hanyalah Allah yang Maha Besar dan Maha Menciptakan, pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar