Hari Kedelapan: Do’a
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al Baqoroh (2): 186)
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Nabi Musa as hendak bermunajat kepada Allah di bukit Tursina, salah seorang bani Israel meminta Nabi Musa untuk mendoakan dirinya. Nabi Musa bertanya tentang doa apa yang hendak ia ajukan, lalu orang itu menjawab bahwa Allah SWT telah mengetahui permohonannya.
Nabi Musa pun berangkat ke bukit Tursina untuk menerima Taurat. Tidak lupa, Nabi Musa memohonkan doa sesuai permintaan orang tersebut. Setelah selesai menerima wahyu Nabi Musa turun dari bukit. Dan alangkah terkejutnya Nabi Musa ketika beliau sampai di lereng bukit ia mendapati orang yang memohon doa tersebut telah mati mengenaskan dicabik-cabik serigala. Sebagian anggota tubuhnya sudah dimakan serigala.
Nabi Musa bertanya kepada Allah SWT, apa gerangan yang diminta oleh orang itu sehingga ia harus mati dalam keadaan mengenaskan. Maka Allah menjelaskan bahwa orang tersebut menginginkan kedudukan setara dengan Nabi Musa di sisi Allah. Dan jalan satu-satunya supaya ia bisa berkedudukan seperti itu hanyalah dengan cara mati dicabik-cabik serigala.
Luar biasa kekuatan doa seorang Nabi di hadapan Tuhan. Allah Ta’ala berkenan mengabulkan doa Nabi Musa as.
Saudaraku, apakah engkau pernah berdoa namun tidak kunjung dikabulkan oleh Allah SWT? Ketika kita memohon sesuatu kepada Allah, satu, dua, tiga kali berdoa dan belum ada tanda-tanda doa kita akan dikabulkan. Bagaimana ini? Kita masih bersabar, kemudian berdoa lagi dalam 1 minggu, 2 minggu, sampai 16 minggu lamanya dan kita belum mendapat apa yang kita pinta. Apakah Allah lupa atau mengingkari janji? Tidak mungkin, pikir kita. Lalu kita berdoa lagi, tidak terasa sudah 1 tahun telah berlalu dan kita tetap belum mendapat apa yang kita minta. Kita pun menjadi buruk sangka kepada Allah, kita jadi enggan berdoa, malas ketemu Tuhan. Dan seterusnya. Naudzubillah...
Apakah kejadian seperti itu pernah menimpamu sahabat?
Mari kita simak Al Quran bercerita tentang Nabi Zakariya as, yang senantiasa berdoa siang malam tak henti-hentinya selama bertahun-tahun memohon kepada Allah supaya diberi keturunan, namun tak jua Allah segera memberikan keturunan kepada Nabi Zakariya as.
“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh." Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?" Berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya". Berkata Zakariya: "Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)". Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari".(QS Ali Imron (3): 38-41)
Apakah Nabi Zakariya bukan orang yang soleh sehingga Allah tidak segera mengabulkan permintaannya? Tentu tidak, Allah ingin memberikan pengajaran kepada umat manusia sekalian. Setelah berdoa, bersabarlah dan jangan pernah lelah memohon kepada Allah SWT. Dalam QS Al Sajdah (32): 16 Allah melukiskan bagaimana orang-orang beriman berdoa “...sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap...” Bayangkan orang sesoleh Nabi Zakariya saja harus berdoa sampai tua terlebih dahulu, barulah Allah Ta’ala mengabulkan permohonannya. Bagaimana dengan kita? Baru satu-dua tahun berdoa sudah buruk sangka terhadap Allah SWT.
Saudaraku ada beberapa sebab, mengapa Allah tidak segera mengabulkan pinta kita. Padahal dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya Allah SWT malu jika seorang hamba berdoa sambil menengadahkan tangan ke langit, kemudian Allah tidak memberi hamba tersebut apa yang ia mau. Saudaraku, masihkah pakaian maksiat melekat dalam diri kita, pakaian kesombongan, riya, ghibah, mengadu domba, menghardik anak yatim, korupsi dan lain-lain? Jika pakaian itu masih kita kenakan, bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan doa kita? Logika saja jika salah seorang anak yang kita sayangi minta uang kepada kita, lalu waktu kita tanya hendak digunakan untuk apa uang itu? Dan putra kita menjawab buat berjudi, berzina, mabuk-mabukan, buat beli ganja, putaw dan lain-lain. Apa kiranya kita akan rela memberikan uang itu padanya? Padahal kita tahu semua itu merusak anak kita. Saudaraku, selama pakaian-pakaian kedurhakaan terus kita kenakan, wajar bila Allah tidak segera mengabulkan doa kita. Jangan-jangan inilah yang sering menghalang-halangi doa kita kepada Allah SWT.
Ada kalanya Allah sengaja tidak segera mengabulkan doa kita, justru karena Allah sangat sayang kepada kita. Kasih sayang Allah jauh di atas kemurkaan-Nya. Jika Allah mengabulkan doa kita, Allah tahu kita belum siap. Kita akan lalai dan justru menjauh dari Allah. Jika doa kita dikabulkan kita akan takabur dan seperti biasa kita mengklaim, “Semua ini hasil jerih payahku, aku sudah kerja keras peras keringat banting tulang...” Kita lupa bahwa itu semua adalah rahmat Allah, Allah-lah yang mengabulkan pinta kita. Jika anak kita meminta sepeda motor, padahal kita tahu bahwa anak kita belum bisa mengendarai motor. Mungkin kita akan menunda keinginan anak kita, karena kita tahu jika anak kita diberi motor besar kemungkinan akan jatuh atau menabrak. Kita juga tidak akan memberikan anak sebuah pisau sebelum anak tahu kegunaan pisau tersebut, yaitu untuk memotong sayur dan lain-lain. Jika kita nekad memberi anak kita sebilah pisau, boleh jadi pisau itu akan menyayat tubuhnya atau memotong telinganya. Kita sayang terhadap anak-anak kita, tentu kita menunda memberikan sesuatu hingga anak kita benar-benar tahu dan mengerti tentang bahayanya juga manfaatnya. Demikian pula dengan sifat Rahman Allah. Allah bisa memberikan harta, jabatan, pendamping hidup atau apa saja yang kita mau, hingga kita benar-benar siap maka Allah pasti mengabulkan pinta kita.
Mari bersama kita simak kisah Tsa’labah. Tsa’labah adalah salah seorang sahabat Nabi yang amat miskin datang pada Nabi sambil mengadukan tekanan ekonomi yang dialaminya. Tsa'labah memohon Nabi untuk berdo'a supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadanya. Semula Nabi menolak permintaan tersebut sambil menasehati Tsa'labah agar meniru kehidupan Nabi saja. Namun Tsa'labah terus mendesak. Kali ini dia mengemukakan argumen yang sampai kini masih sering kita dengar, "Ya Rasul, bukankah kalau Allah memberikan kekayaan kepadaku, maka aku dapat memberikan kepada setiap orang haknya.”
Nabi kemudian mendo'akan Tsa'labah. Tsa'labah mulai membeli ternak. Ternaknya berkembang pesat sehingga ia harus membangun peternakan agak jauh dari Madinah. Seperti bisa diduga, setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya. Ia tidak dapat lagi menghadiri shalat jama'ah bersama Rasul di siang hari.
Hari-hari selanjutnya, ternaknya semakin banyak; sehingga semakin sibuk pula Tsa'labah mengurusnya. Kini, ia tidak dapat lagi berjama'ah bersama Rasul. Bahkan menghadiri shalat jum'at dan shalat jenazah pun tak bisa dilakukan lagi.
Ketika turun perintah zakat, Nabi menugaskan dua orang sahabat untuk menarik zakat dari Tsa'labah. Sayang, Tsa'labah menolak mentah-mentah utusan Nabi itu. Ketika utusan Nabi datang hendak melaporkan kasus Tsa'labah ini, Nabi menyambut utusan itu dengan ucapan beliau, "Celakalah Tsa'labah!" Nabi murka dan Allah pun murka!
Saat itu turunlah QS At-Taubah (9): 75-78
"Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh." Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui yang ghaib?"
Tsa'labah mendengar ada ayat turun mengecam dirinya, ia mulai ketakutan. Segera ia temui Nabi sambil menyerahkan zakatnya. Akan tetapi Nabi menolaknya, "Allah melarang aku menerimanya." Tsa'labah menangis tersedu-sedu.
Setelah Nabi wafat, Tsa'labah menyerahkan zakatnya kepada Abu Bakar, kemudian Umar. tetapi kedua Khalifah itu menolaknya. Tsa'labah meninggal pada masa Utsman.
Saudaraku, kisah di atas semoga mengingatkan kita. Allah itu Maha Kaya, Dia akan memberi apa yang kita minta. Namun jangan tergesa-gesa dalam mendapatkannya. Boleh jadi kita juga bisa menjadi ‘Tsa’labah-Tsa’labah’ baru jika kita ternyata belum siap mendapatkan apa yang kita pinta.
Terakhir dari topik ini, sengaja saya kutipkan sebuah hadits yang indah. Semoga pesan-pesan Rasulullah bisa kita cermati dan bisa kita amalkan dalam hidup kita:
“Barang siapa yang mengharapkan akhirat, Allah menjadikan kekayaanya ada di dalam hatinya, menghimpunkan kekuatannya, dunia pun akan datang kepadanya dengan segan dan rendah. Tetapi barang siapa yang mengharapkan dunia, Allah menjadikan kemiskinannya ada di kedua matanya, memecah kekuatannya dan tidak ada dunia yang datang kepadanya kecuali hanya yang telah ditentukan untuknya.” (HR Tirmidzi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar