Hari Kelima: Sebuah Seruan Bagi Saudaraku Seaqidah
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al Hadiid (57): 16)
Segala puji bagi Allah, Dialah yang telah menyempurnakan semua ciptaan dan mengadakan semua wujud tanpa ada misal sebelumnya, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam segala hal.
Wahai Saudaraku, apabila seorang hamba bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, lalu ia memperbaiki taubatnya dan beribadah di waktu malam untuk bermunajat kepada Tuhan maka para malaikat menyalakan lampu yang memancarkan cahaya yang diletakkan antara langit dan bumi, hingga malaikat lain bertanya, “Apa yang terjadi?” , lalu dikatakan bahwa sesungguhnya Fulan bin Fulan telah memperbaiki hubungannya malam ini dengan Tuhannya.
Berbahagialah yang di waktu malam mata tak terpejam
Melalui malam dengan risau karena cinta kepada Penguasa Alam
Dalam kerinduan ia berdiri menerawang bintang
Sedang mata Tuhan tak pernah lengah memandang
Saudaraku sampai kapankah kita menunda-nunda amalan? Sampai kapankah kita menambah impian? Sampai kapankah kita terpedaya oleh kesempatan yang diberikan? Dan sampai kapankah kita tidak mengingat datangnya kematian? Memang benar kata seorang ulama, “Selain Allah, sesuatu yang paling sering dilupakan manusia adalah kematian.” Semua hasil usaha kita hanyalah untuk tanah, apa yang dibangun semua akan hancur, segala yang kita kumpulkan akan pergi dan seluruh amalan-amalan kita masing-masing tertulis dalam kitab untuk hari perhitungan.
Saudaraku, berapa harikah yang telah kita habiskan untuk mengulang kata “NANTI”, betapa banyak waktu yang kita sia-siakan dengan melalaikan kewajiban.
Saudaraku, waspadalah terhadap kelalaian, karena tidurnya orang yang lalai sangat lelap, singsingkanlah lengan bajumu demi akherat karena dunia hanyalah persinggahan dan dalam melaluinya kita dibebani dengan kewajiban.
Sungguh celaka orang-orang yang matanya tidak dapat menangis, karena sesungguhnya tanda-tanda seseorang yang diabaikan oleh-Nya adalah kerasnya hati. Hati telah pergi dan mencintai hal-hal yang fana. Ingatlah bahwa yang kita kumpulkan akan dihisab, setelah mati akan kita tinggalkan semuanya untuk orang lain. Wallahu a’lam bishowab.
“Seperti untaian manik-manik,
hidup ini menyusuri alur-alur jari yang bergerak
Seperti angin, hidup ini bertiup menerbangkan debu
Seperti air yang mengalir, hidup ini mengetahui tempatnya meresap
Adakah hal tersisa untuk dibanggakan darimu wahai jiwa?
Adakah hal-hal yang agung untuk diperjuangkan?
Saya berkata kepadamu, bukannya bulan tidak terlihat karena awan
Tapi ia sekarang malu melihat orang berlumur dosa
Dan bukannya matahari tidak terlihat karena malam
Tetapi ia sedang bersedih banyak orang meninggalkan agama”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar