Rabu, 17 September 2008

Hari Ketujuhbelas: Kisah Sebuah Baju

Hari Ketujuhbelas: Kisah Sebuah Baju

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (QS Al Mukminuun (23): 57-61)

Ada seorang ibu yang menjahitkan baju pada seorang tukang jahit di kota. Sebuah baju untuk perkawinan putrinya. Ketika baju tersebut jadi, datanglah ibu itu untuk mengambilnya. ”Sebuah baju yang indah,” seru sang ibu, ”Tapi ada yang tidak sesuai dengan permintaan saya pak penjahit. Bukankah saya minta bahunya dikembangkan sedikit supaya badan saya terlihat lebih tegap? Ini kok sempit sekali? Masih ada waktu hingga pesta perkawinan putri saya, tolong diperbaiki ya pak?”

Di luar dugaan, tiba-tiba penjahit ini langsung menangis terisak-isak.

Ibu ini buru-buru berkata, ”Lho pak, baju ini pasti saya ambil dan saya bayar kok. Bapak kan tinggal memperbaiki sedikit.”

Penjahit itu mengusap air matanya, kemudian ia berkata, ”Nyonya, bukan karena baju itu saya menangis. Tiba-tiba saya teringat ibadah saya. Seperti baju yang saya kerjakan itu, saya sudah mengupayakan yang terbaik. Ternyata masih saja ada cacatnya. Saya khawatir demikian juga dengan ibadah saya yang saya kerjakan, saya sudah mengerjakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Kemudian bagaimana jika ternyata ibadah saya ada cacat dan celanya lalu Allah tidak mau menerima ibadah saya sebagaimana nyonya tadi menolak baju buatan saya. Bagaimana jika Allah berkata: ”Ibadahmu kurang sempurna jadi belum bisa diterima. Tolong disempurnakan dulu...”

Subhanallah, bagaimana dengan ibadah kita? Apakah ibadah kita sudah sedemikian sempurna sehingga kita sering kali lalai dan terlena oleh dunia? Apakah kita tahu bahwa amal kita bakal diterima Allah? Lihat saja sholat kita yang penuh warna dan pikiran kita, jarang khusyu dan jika imam membaca bacaan panjang kita mengeluh. ’Ah... kapan selesainya sholat ini.’ Jika tiba jam sholat kita selalu mengulur-ulurnya, sehingga kita sholat ketika waktu sholat hampir habis. Lalu lihat sedekah kita, benarkah sama sekali tidak ada unsur riya di sana? Lalu lihatlah kebaikan-kebaikan yang kita perbuat untuk orang lain, benarkah kita benar-benar ikhlas Lillahi Ta’ala? Subhanallah...ternyata masih banyak sekali yang patut kita benahi. Padahal waktu kita tidak akan bertambah, yang ada terus berkurang.

Saudaraku, mudah-mudahan kita senantiasa ingat peringatan dari Al Quran:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At Tahrim (66): 6)

Mudah-mudahan kita sekalian selalu ingat bahwa kehidupan hanyalah sementara, dan kehidupan akhirat sudah menjelang di depan kita, sehingga kita selalu ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Terimakasih ya Allah atas pelajaran Sebuah Baju.

Tidak ada komentar: