Hari Ketigabelas: Prasangka
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujurat (49): 12)
Ada seorang santri yang mendapat tugas dari gurunya untuk menimba ilmu pada Abid temannya di kota lain. Lama si santri berjalan dan menanyakan kepada orang-orang di sepanjang perjalanan tentang siapa dan bagimana Tuan Abid yang akan dia temui.
”Untuk apa engkau menanyakan si brengsek itu,” kata seseorang yang ia temui di jalan. ”Dia mudah di cari, sebab ia selalu duduk bersama para pemabuk dan penjudi.”
”Dia selalu menghabiskan waktunya dengan banyak pelacur”
”Dia dulunya orang yang alim, sekarang berubah menjadi hina.”
Begitulah kata orang-orang di sepanjang perjalanan. Si santri ini mulai bimbang, mengapa semua orang membicarakan keburukan Tuan Abid? Apakah gurunya tidak salah menyuruh dirinya menimba ilmu dari Tuan Abid? ”Ah, itu hanya tuduhan tanpa bukti, aku belum percaya jika belum membuktikannya.”
Sampailah ia di kota tempat Tuan Abid berada, lalu ia berjalan mendekat kerumunan penjudi dan pemabuk untuk membuktikan kebenaran berita itu. Si santri menanyakan pada salah seorang penjudi, apakah Tuan Abid ada di situ. Penjudi itu menunjuk ke tengah-tengah kerumunan para pemabuk. ”Ah, ternyata benar berita itu,” keluh si santri dalam hati.
Pupuslah keinginan si santri untuk bertemu dan berguru kepada Tuan Abid, lalu dengan langkah lesu dan tidak nyaman ia segera berlalu dari tempat itu. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Ternyata Tuan Abid yang menepuk pundaknya kemudian Tuan Abid berkata, ”Engkau orang yang dikirim temanku? Aku tahu engkau pasti berprasangka buruk terhadapku. Aku dikelilingi para pemabuk dan penjudi, kadang aku ke tempat pelacuran. Engkau pasti menduga bahwa aku melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan Allah. Engkau pasti menyangka, bahwa aku ini orang brengsek yang tidak tahu malu. Ketahuilah, dulu di sini ada sekitar 80-an penjudi dan pemabuk. Sekarang coba engkau hitung, yang tersisa sekarang hanya 40-an. Ke mana yang 40 lainnya? Alhamdulillah mereka sudah bertaubat, dan kembali kepada-Nya. Sekarang yang 40 orang yang masih berada di sini adalah tugasmu untuk mengajak mereka kembali ke jalan Allah SWT. Dan karena tugas inilah gurumu mengirimmu kepadaku.”
Saudaraku, kita sadari atau tidak, mungkin kita juga terlalu seing berprasangka buruk pada orang lain. Hanya karena penampilan yang tidak menarik, atau pakaian lusuh lantaran himpitan ekonomi seringkali kita curiga pada orang lain. Jangan-jangan dia datang ke rumah kita mau berhutang, mungkin mencuri dan lain-lain. Juga pada saat pemilihan kepala daerah, atau pemilihan umum. Kita begitu mudah curiga pada pendukung kelompok lain bahwa mereka akan melakukan kecurangan sehingga kita menjadi over action terhadap seluruh berita yang datang. Padahal berita itu belum tentu benar adanya. Dengan prasangka tersebut kita menjadi begitu mudah terhasut, begitu mudah diprovokasi, dan begitu mudah menjatuhkan sangsi, maupun hukuman. Al Quran telah mengingatkan kita:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS Al Hujurat (49): 6)
Saudaraku, apa jadinya jika kita terlanjur menghukum orang lain lantaran prasangka dan berita bohong yang kita terima tanpa disertai bukti-bukti yang nyata? Tentu saja kita akan menyesal seumur hidup kita, bahwa kita telah mendzalimi orang lain. Ya jika orang yang kita dzalimi masih hidup dan mau memaafkan kita. Apa jadinya jika orang yang kita dzalimi kemudian meninggal akibat sangsi atau hukuman kita? Pernah ada suatu kejadian di negara Amerika Serikat, seseorang divonis penjara selama 15 tahun pejara, dengan tuduhan penganiayaan dan pembunuhan terencana. Selama lebih dari 14 tahun ia mendekam di penjara, atas tuduhan itu. Padahal ia sendiri sama sekali tidak melakukan kejahatan yang dituduhkan meja hijau atas dirinya. Kebenaran akhirnya terkuak, beberapa bulan menjelang kebebasannya, polisi menemukan pembunuh sebenarnya. Sekiranya hal ini menimpa kita, apakah kita tidak akan menyesal seumur hidup kita telah menjatuhkan vonis yang salah kepada orang yang tidak bersalah? Mari kita simak hadits nabi berkenaan dengan hal ini:
Dari Abu Huroiroh ra, dari Rasulullah saw: “Siapa saja yang pernah menganiaya saudaranya, baik kehormatannya maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia minta maaf sebelum datang saat dinar dan dirham tidak lagi berguna. Jika tidak apabila ia memiliki amal soleh, maka amalnya akan diambil sesuai dengan kadar penganiayaan, namun apabila ia tidak memilik amal kebaikan maka kejahatan orang yang dianiaya itu akan diambil dan dibebankan padanya” (HR Bukhori)
Saudaraku, mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa kembali mengingatkan kita, supaya kita menjauhi prasangka. Karena sebagian dari prasangka adalah dosa.
Ada seorang santri yang mendapat tugas dari gurunya untuk menimba ilmu pada Abid temannya di kota lain. Lama si santri berjalan dan menanyakan kepada orang-orang di sepanjang perjalanan tentang siapa dan bagimana Tuan Abid yang akan dia temui.
”Untuk apa engkau menanyakan si brengsek itu,” kata seseorang yang ia temui di jalan. ”Dia mudah di cari, sebab ia selalu duduk bersama para pemabuk dan penjudi.”
”Dia selalu menghabiskan waktunya dengan banyak pelacur”
”Dia dulunya orang yang alim, sekarang berubah menjadi hina.”
Begitulah kata orang-orang di sepanjang perjalanan. Si santri ini mulai bimbang, mengapa semua orang membicarakan keburukan Tuan Abid? Apakah gurunya tidak salah menyuruh dirinya menimba ilmu dari Tuan Abid? ”Ah, itu hanya tuduhan tanpa bukti, aku belum percaya jika belum membuktikannya.”
Sampailah ia di kota tempat Tuan Abid berada, lalu ia berjalan mendekat kerumunan penjudi dan pemabuk untuk membuktikan kebenaran berita itu. Si santri menanyakan pada salah seorang penjudi, apakah Tuan Abid ada di situ. Penjudi itu menunjuk ke tengah-tengah kerumunan para pemabuk. ”Ah, ternyata benar berita itu,” keluh si santri dalam hati.
Pupuslah keinginan si santri untuk bertemu dan berguru kepada Tuan Abid, lalu dengan langkah lesu dan tidak nyaman ia segera berlalu dari tempat itu. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Ternyata Tuan Abid yang menepuk pundaknya kemudian Tuan Abid berkata, ”Engkau orang yang dikirim temanku? Aku tahu engkau pasti berprasangka buruk terhadapku. Aku dikelilingi para pemabuk dan penjudi, kadang aku ke tempat pelacuran. Engkau pasti menduga bahwa aku melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan Allah. Engkau pasti menyangka, bahwa aku ini orang brengsek yang tidak tahu malu. Ketahuilah, dulu di sini ada sekitar 80-an penjudi dan pemabuk. Sekarang coba engkau hitung, yang tersisa sekarang hanya 40-an. Ke mana yang 40 lainnya? Alhamdulillah mereka sudah bertaubat, dan kembali kepada-Nya. Sekarang yang 40 orang yang masih berada di sini adalah tugasmu untuk mengajak mereka kembali ke jalan Allah SWT. Dan karena tugas inilah gurumu mengirimmu kepadaku.”
Saudaraku, kita sadari atau tidak, mungkin kita juga terlalu seing berprasangka buruk pada orang lain. Hanya karena penampilan yang tidak menarik, atau pakaian lusuh lantaran himpitan ekonomi seringkali kita curiga pada orang lain. Jangan-jangan dia datang ke rumah kita mau berhutang, mungkin mencuri dan lain-lain. Juga pada saat pemilihan kepala daerah, atau pemilihan umum. Kita begitu mudah curiga pada pendukung kelompok lain bahwa mereka akan melakukan kecurangan sehingga kita menjadi over action terhadap seluruh berita yang datang. Padahal berita itu belum tentu benar adanya. Dengan prasangka tersebut kita menjadi begitu mudah terhasut, begitu mudah diprovokasi, dan begitu mudah menjatuhkan sangsi, maupun hukuman. Al Quran telah mengingatkan kita:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS Al Hujurat (49): 6)
Saudaraku, apa jadinya jika kita terlanjur menghukum orang lain lantaran prasangka dan berita bohong yang kita terima tanpa disertai bukti-bukti yang nyata? Tentu saja kita akan menyesal seumur hidup kita, bahwa kita telah mendzalimi orang lain. Ya jika orang yang kita dzalimi masih hidup dan mau memaafkan kita. Apa jadinya jika orang yang kita dzalimi kemudian meninggal akibat sangsi atau hukuman kita? Pernah ada suatu kejadian di negara Amerika Serikat, seseorang divonis penjara selama 15 tahun pejara, dengan tuduhan penganiayaan dan pembunuhan terencana. Selama lebih dari 14 tahun ia mendekam di penjara, atas tuduhan itu. Padahal ia sendiri sama sekali tidak melakukan kejahatan yang dituduhkan meja hijau atas dirinya. Kebenaran akhirnya terkuak, beberapa bulan menjelang kebebasannya, polisi menemukan pembunuh sebenarnya. Sekiranya hal ini menimpa kita, apakah kita tidak akan menyesal seumur hidup kita telah menjatuhkan vonis yang salah kepada orang yang tidak bersalah? Mari kita simak hadits nabi berkenaan dengan hal ini:
Dari Abu Huroiroh ra, dari Rasulullah saw: “Siapa saja yang pernah menganiaya saudaranya, baik kehormatannya maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia minta maaf sebelum datang saat dinar dan dirham tidak lagi berguna. Jika tidak apabila ia memiliki amal soleh, maka amalnya akan diambil sesuai dengan kadar penganiayaan, namun apabila ia tidak memilik amal kebaikan maka kejahatan orang yang dianiaya itu akan diambil dan dibebankan padanya” (HR Bukhori)
Saudaraku, mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa kembali mengingatkan kita, supaya kita menjauhi prasangka. Karena sebagian dari prasangka adalah dosa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar