Hari Keduapuluh Empat: Cahaya Allah
Saudaraku, mungkin Anda pernah bepergian menggunakan mobil di malam hari dari suatu kota ke kota lainnya yang berjarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Gelapnya malam tak menghalangi laju kendaraan tersebut, toh sampai juga akhirnya di tempat tujuan. Pada saat mengendarai mobil tersebut, pernahkah terlintas dalam benak kita bagaimana lampu mobil yang berjarak pandang kurang lebih hanya 60 meter itu bisa mengantarkan ke tempat tujuan. Padahal malam hari sangat gelap, apalagi jika kita melewati hutan, jurang dan pegunungan. Ya, hal itu bisa terjadi lantaran cahaya lampu mobil kita menerangi terus menerus dalam perjalanan itu sehingga kita tidak tersesat walaupun jarak pandangnya sangat terbatas.
Begitulah hidup. Di hadapan kita sudah ada jalan, namun jika lampu kita padamkan, tentu saja kita akan berjalan dengan meraba-raba dalam kegelapan. Kadang yang terjadi justru kita tersesat masuk dalam gunung atau hutan, atau lebih parah lagi kita akan masuk jurang. Manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik sesuai dengan fitrahnya. Iba terhadap sesama, dan memiliki emosi. Semua itu ada dalam diri anak Adam, termasuk akal dan nafsu. Namun itu semua bisa menjadi minimal karena godaan syetan dan bujukan hawa nafsu sehingga manusia menjadi serakah, pemarah, biadab dan lain-lain. Karena itulah Allah SWT memberikan pedoman, petunjuk yang menjadi cahaya dalam hidup kita sehingga hidup kita akan terarah dan tidak tersesat. Itulah syariat Allah SWT yang dibawa oleh para anbiya. Seseorang yang telah berjalan dengan tuntunan cahaya Allah inilah yang bisa dikatakan orang-orang yang tercerahkan (mendapat pencerahan).
Saudaraku, ada seseorang yang datang menemui seorang Guru dan bertanya: “Wahai Guru, berapa lama waktu yang saya perlukan untuk mencapai Pencerahan?”
Sang Guru memandangnya dan tersenyum, jawabnya, “Sepuluh tahun.”
“Alangkah lamanya waktu yang saya perlukan untuk mencapai ke sana guru,” kata orang itu.
“Oh tidak, untukmu diperlukan waktu dua puluh tahun,” jawab Guru.
Orang itu keheranan dan bertanya, “Mengapa Guru melipatkannya dua kali lipat?”
“Bayangkan,” kata Guru, “Sekarang bahkan engkau memerlukan waktu tiga puluh tahun.”
Saudaraku, jadi pencerahan bukanlah suatu titik yang hendak kita tuju, melainkan cara berjalan yang sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan syariat-Nya. Sehingga kita akan merasakan ketentraman di dalam hati, dan orang-orang mendapat kemanfaatan dari keberadaan kita. Dialah Allah yang akan menuntun kita dalam cahaya-Nya. Ketika kita berjalan kepada-Nya, maka Allah akan menyambut kita dengan gembira. Jika kita berjalan menuju Allah, maka Allah akan akan menyambut kita dengan berlari.
Saudaraku, barangkali sekarang perlu kita tengok pribadi kita masing-masing. Apakah Cahaya Allah yang kita terima masih bersinar kuat menerangi hidup kita? Jika sekarang meredup, mengapa hal itu terjadi? Jangan-jangan cahaya itu mulai pudar lantaran banyaknya maksiat yang kita kerjakan. Jangan-jangan kita terlalu cinta dunia dan sibuk dengan dunia serta lupa akan akhirat nanti, jangan-jangan kita terlalu sibuk mengurusi kesalahan orang lain sehingga lupa menghisab diri sendiri. Jangan-jangan kita mulai malas mengerjakan sunnah-sunnah Rasulullah, seperti puasa Senin-Kamis, sholat Tahajud di 1/3 malam terakhir, malas bergaul dengan orang sholeh, malas datang ke pengajian, malas bersedekah dan yang paling parah malas bertemu Tuhan. Buktinya sholat saja sering kita nomor sekian-kan. Apakah hal itu bukan bukti bahwa kita enggan ketemu Tuhan? Kalau hal-hal itu tejadi pada diri kita, pantas lah jika cahaya kita redup. Kita sendiri malas mencash-nya.
Saudaraku, jika seorang Ahli Fisika ditanya, “Apa yang menciptakan alam semesta ini?” Maka ia akan menjawab: Energi. Energi itu tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan. Ia ada sebelum dan sesudah. Jika kita bertanya pada seorang Ahli Teologi, “Apa yang menciptakan alam semesta ini?” Maka ia akan menjawab: Tuhan. Tuhan ada sebelum dan sesudah. Tuhan-lah yang menciptakan segala sesuatu. Dua buah jawaban yang berbeda istilah namun mengacu pada substansi yang sama. Secara umum, bisa kita ambil kesimpulan bahwa secara kodrati, manusia mengakui adanya Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu. Hanya kepongahan manusia sajalah yang menolak kenyataan keberadaan Allah SWT.
Saudaraku, jika kita menyentuh tubuh kita, maka kita akan merasakan desiran nadi kita, darah kita yang merayap melalui arteri dan vena, degup jantung kita dan lain-lain. Percayakah Anda, bahwa untuk melakukan seluruh aktivitas tersebut diperlukan energi yang begitu besar. Jika kita sejajarkan dengan listrik di sebuah kota kecil, maka energi kita bisa untuk menyalakan listrik kota selama 7 hari. Subhanallah...
Saudaraku, manusia, binatang, dan lain-lain yang ada di alam ini adalah bagian dari alam semesta. Sedangkan alam semesta ini bergerak sesuai fitrah Ilahi. Sehingga disadari atau tidak sehingga Allah SWT sangat dekat dengan seluruh ciptaan-Nya. Seluruh alam semesta ini berada dalam naungan-Nya, termasuk kita umat manusia. Maka benarlah firman Allah:
Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (QS Qaaf (50): 16)
Saudaraku, jika kita telah menerima Cahaya Allah, dan kita menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi kita, setiap perbuatan kita, tingkah laku kita, bahkan niat kita pun tak luput dari pengawasan-Nya, apakah kita bisa bertindak semaunya? Tentu saja tidak, karena kita tahu bahwa Allah sangat dekat dengan kita, bisa saja Allah SWT menghentikan detak jantung kita sewaktu kita melakukan kedurhakaan kepada Allah, bisa saja Allah membuat koordinasi tubuh kita menjadi kacau, sehingga kita menjadi sakit dan tidak bisa pulih seperti sedia kala. Allah berkuasa penuh atas diri kita, maka beruntunglah orang-orang yang selalu berada dalam tuntunan Allah SWT.
Terakhir, saudaraku mari kita simak bagaimana sikap dan doa orang-orang beriman yang dilukiskan dalam Al Quran:
Wallahu a’lam bishowab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar