Rabu, 17 September 2008

Hari Kesepuluh: Analogi Buah Apel

Hari Kesepuluh: Analogi Buah Apel

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku' (shalat berjama'ah) (QS Al Baqoroh (2): 43)

Saudaraku, jika kita hendak membeli satu buah apel. Tentunya kita akan memilih membeli buah apel yang masak, segar dan manis. Bukan buah apel yang busuk, mentah atau masam. Akan tetapi lain halnya jika kita hendak membeli sekeranjang buah apel. Dalam satu keranjang itu ada buah yang sudah masak, ada yang masih hijau, atau mungkin ada yang sudah mulai busuk. Namun yang mentah dan yang busuk pun tetap satu paket dalam keranjang sehingga ikut terbeli bersama yang sudah masak. Dan jika dilihat dari segi harga, tentunya 1 keranjang buah apel lebih mahal harganya daripada satu buah apel dari jenis yang sama.

Saudaraku, apa yang saya lukiskan di atas adalah analogi tentang sholat jamaah. Sebaik-baik sholat sendiri (munfarid) tentu masih kalah dibandingkan dengan sholat yang didirikan berjamaah. Namun sayangnya kita begitu sering meremehkan sholat berjamaah. Kadang kita lebih mengutamakan sinetron atau acara televisi lainnya daripada memperhatikan seruan mulia di masjid dan mendirikan sholat berjamaah di dalamnya. Padahal Rasulullah saw sendiri demikian menekankan sholat berjamaah bagi para sahabat. Ada seorang sahabat buta yang kerepotan datang ke masjid –lantaran tidak ada yang menuntun- minta keringanan untuk sholat di rumah. Mula-mula Rasulullah mengijinkannya, kemudian Rasulullah bertanya apakah suara adzan terdengar sampai rumahnya. Ternyata suara adzan itu sampai ke rumah sahabat tadi. Maka Rasulullah meralat ijinnya, dan menyuruhnya untuk menghadiri seruan adzan dan mendirikan sholat berjamaah.

Saudaraku, jika sholat yang kita dirikan kita ukur sendiri, kira-kira kita ini termasuk apel yang mana ya? Apakah apel masak, segar dan manis, ataukah apel yang masih muda dan masam atau justru apel yang layu? Jika Allah SWT adalah pembelinya, kira-kira kita ini laku tidak ya? MasyaAllah...

Allah Maha Tahu dan Maha Luas Rezekinya, Dia tahu bahwa manusia itu gampang lalai dan gampang lupa. Contohnya, kadang kita lupa sudah berapa roka’at kita sholat. Jika roka’at sholat saja lupa, apa mungkin kita bilang bahwa kita ini apel masak yang patut dibeli dengan harga tinggi? Kita berkata sudah menjalankan sholat fardhu 5 kali sehari, namun jika kita ditanya tentang arti bacaan sholat, kita diam seribu bahasa. Dulu kita hanya menghapal saja, tanpa tahu artinya. Apakah yang demikian tidak lalai namanya? Mari kita simak Al Quran mengingatkan kita:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.... (QS An Nisaa (4): 43)

Memang benar bahwa ayat di atas berkaitan dengan larangan mengerjakan sholat pada saat mabuk. Pada saat ayat itu turun, minum minuman keras memang belum diharamkan sehingga sebagian umat Islam saat itu masih ada yang gemar minum minuman keras. Namun selanjutnya Islam mengharamkan minuman keras dan sesuatu yang memabukkan. Orang yang mabuk tidak tahu apa yang dia dia lakukan. Akalnya lumpuh, sehingga dia dalam keadaan tidak sadar dan tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Nah saudaraku, apa bedanya kita dengan orang mabuk yang tidak mengerti apa yang ia ucapkan jika kita juga membaca bacaan sholat kita tanpa tahu apa arti bacaannya. Bukankah ini suatu kelalaian kita? Mengapa kita tidak berusaha mencari tahu arti bacaan sholat kita?

Saudaraku, Allah tahu semua kelemahan kita. Maka Dia lipatkan pahala orang yang berjamaah sebanyak 27 kali daripada orang yang sholat sendirian. Dia muliakan orang-orang yang senantiasa menjaga sholat jamaahnya. Dia melapangkan rezeki bagi mereka yang selalu berjamaah. Meskipun kita bukan apel yang masak, namun jika kita senantiasa sholat berjamaah, Allah mau kok membeli kita dengan nilai lebih. Saudaraku, ingatlah bahwa sesungguhnya Allah sangat mencintai kita. Dan sudah sepantasnya kita membalas cinta Allah, salah satunya dengan terus menjaga sholat berjamaah. Terakhir, mari kita simak pesan Al Quran berpesan:

Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yang lalai.(Al A’raaf (7): 179)

Ya Allah saksikanlah bahwa ini telah hamba sampaikan...

Tidak ada komentar: