Hari Ketiga: Iri Dengan Kita
Sewaktu saya masih ko asisten di UNS, entah kenapa saya sering kali satu kelompok dengan mbak Elia. Seorang ‘gembala’ Kristus yang sangat teguh memegang keimanannya. Mbak Elia selain cerdas juga baik hati, tidak pernah membeda-bedakan antara kawannya yang Kristen maupun yang Muslim seperti saya. Karena seringnya 1 kelompok dengan mbak Elia, aku sering diajak berdialog tentang agama. Juga tentang nama masing-masing yang sama-sama aneh dan lain-lain. Mbak Elia bercerita bahwa namanya berasal dari kata Nabi Elia (Ilyas as). Dan yang lebih mengherankan lagi nama Elisa yang saya kira nama perempuan ternyata berarti Nabi Ilyasa as dalam agama Islam.
Suatu hari, kami duduk menunggu dosen. Tiba-tiba mbak Elia bertanya kepada saya. “Eh orang Islam itu sehari semalam berapa kali ketemu dengan Tuhan?”
“Ya minimal 5 kali mbak,” jawab saya. Dengan sholat 5 waktu saja, orang Islam pasti selalu ketemu dengan Tuhan. Apalagi jika ia menambah dengan sholat sunnah dan sholat malam.
“Wah, betapa bagusnya itu!” kata mbak Elia takjub. “Bagaimana bisa kalian begitu dekat dengan Tuhan hingga 1 hari saja kalian bisa ketemu Tuhan 5 kali. Sedangkan aku hanya ketemu Tuhan 1 minggu 2 kali. Pas di gereja pun ada yang main-main. Nggak semuanya khusyuk berdoa.”
Aku terdiam mendengar pernyataan mbak Elia. Lalu mbak Elia bertanya lagi, “Kalau Kitabmu sudah berapa kali selesai kau baca?”
“Maksud mbak, Kitab Al Quran? Kalau mengkhatamkan Al Quran sudah berkali-kali mbak. Malah kalau bulan Ramadhan, sering juga merampungkan baca Al Quran dalam 1 bulan itu.”
“Puji Tuhan!” seru mbak Elia. “Heran ya, kitab yang begitu tebal sudah berulang kali kamu baca? Padahal aku belum pernah satu kali pun aku menyelesaikan Bibel-ku baik yang Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.”
Lagi-lagi aku terdiam mendengar pernyataan mbak Elia. Dan mbak Elia berkata lagi, “Sungguh beruntung lho orang Islam, pagi-pagi ia sudah disuruh bangun untuk ketemu Tuhan. Di saat orang lain sedang tidur, kalian sudah beraktivitas. Di saat orang lain masih bermimpi kalian sudah terjaga. Luar biasa. Sebenarnya aku juga harus berterima kasih pada yang suka adzan itu. Berkat dirinya aku jadi bangun pagi lho.”
Saya merasa perkataan demi perkataan mbak Elia begitu menusuk perasaan. Memang benar orang Islam itu ketemu dengan Tuhan 5 kali sehari. Bahkan orang Kristen seperti mbak Elia sampai iri kepada kita. Namun ternyata kita juga yang paling sering lupa dengan keberadaan Tuhan. Buktinya, di negeri Indonesia yang mayoritasnya adalah Muslim, urusan suap adalah budaya. Korupsi sudah tradisi, mulai dari korupsi waktu sampai korupsi trilyunan rupiah –pelakunya ya orang Islam. Kitab Suci memang benar kita baca, bahkan sejak kecil kita diajarkan ba’da Maghrib harus tadarus Al Quran di Mushola. Namun sayang, jangankan mengamalkan, tahu artinya saja tidak. Malah sering kita memperlakukan Kitab Suci Al Quran dengan begitu khidmat, tetapi jarang sekali kita buka. Kita mungkin lebih suka baca novel daripada membaca Al Quran. Ya Allah, padahal orang Kristen saja bisa iri kepada kita orang Islam, tapi mengapa justru kita sendiri yang menjauh dari nilai-nilai agama. Seakan-akan agama itu hanya jika berada dalam Masjid atau Mushola, agama itu hanya jika sedang duduk menghadap ustadz. Namun setelah pulang dari Masjid dan pengajian kita seakan sudah tidak beragama lagi. Saya tahu bahwa ada tujuannya Allah mempertemukan saya dengan mbak Elia, supaya saya bisa melihat bahwa ternyata selama ini begitu jauh saya dengan Allah. Semua ritual yang saya kerjakan hanyalah sebatas rutinitas, yang hampir tidak membekas di hati. Ya Allah, sungguh saya sangat malu dengan keadaan ini, dan saya sungguh berterima kasih telah Engkau ingatkan walaupun itu melalui mbak Elia.
Dan Mbak Elia, apa kabarmu sekarang?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar