Hari Kesembilan: Melalaikan Seruan
“Sore itu aku merasakan keletihan yang luar biasa setelah pulang dari bekerja. Badanku seolah-olah ditindih oleh batu yang sangat berat. Aku merebahkan badanku pada dipan di dalam kamar. Sayup-sayup aku mendengar seruan adzan Maghrib. Aku bisa merasakan berduyun-duyun orang memenuhi seruan suci itu. Namun aku sendiri tak kuasa menahan penat tubuh ini sehingga mataku pun terpejam.
Aku tersentak tiba-tiba, ya Allah ini sudah hampir waktu Isya’. Waktu Maghrib sudah hampir lewat. Aku segera mengambil wudhu dan sholat Maghrib setengah terburu-buru. Baru saja aku mengucap salam, aku mendengar suara orang di depan rumah. “Assalamu’alaikum, saudaraku, apakah engkau ada di rumah?”
Itu suara Amirul Mukminin Umar bin Khathob, aku segera berlari-lari menuju pintu sambil berkata, “Wa’alaikum salam, saya ada di rumah wahai Amirul Mukminin. Ada apakah Amirul Mukminin datang ...” Aku tidak kuasa meneruskan kalimatku. Ku lihat Amirul Mukminin membeku, wajahnya sekeras besi. Apakah beliau marah padaku?
Amirul mukminin menatapku tanpa ekspresi, kemudian berkata, “Engkau seharusnya malu wahai putra saudaraku! Hanya dengan panggilan Umar yang hamba Allah, engkau begitu tergopoh-gopoh menemuiku, sedangkan seruan Allah Zat Yang Maha Luas Kekuasaannya engkau acuhkan begitu saja. Di mana letak akalmu dan hatimu? Apakah engkau melebihkan aku daripada Robbmu!”
Aku tercekat dan tidak bisa berkata apa-apa. Dunia serasa berhenti berputar, tiba-tiba saja aku merasa kerdil. Maha Suci Allah. Tak lama kemudian Amirul Mukminin menyuruhku bersiap ke masjid, karena sebentar lagi sholat Isya’ akan didirikan Sesampainya di masjid, aku mengulang wudhu ku. Kali ini dengan sepenuh hati tidak terburu-buru seperti tadi. Mataku berkaca-kaca dan ya Allah ternyata air wudhu ini menjadi hangat. Ya menjadi hangat setelah bercampur dengan air mataku. Ada penyesalan di hatiku karena telah menyepelekan Allah, padahal Allah begitu menyayangi aku. Dan satu kebahagiaan lagi, karena aku telah kembali. Di samping itu aku memiliki pemimpin yang demikian perhatian terhadap rakyatnya. “Berkahilah Umar bin Khothob ya Allah...,” demikian pintaku setelah sholat.”
Saudaraku, kisah di atas adalah kisah nyata yang terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khothob ra. Memang susunan redaksinya saya susun sendiri akan tetapi kronologis dan inti dari kisah tersebut tidak saya rubah sama sekali.Terus terang saya lupa siapa tokoh “aku” dalam kisah nyata di atas. Tapi kisah itu mengingatkan pada diri ini sendiri yang demikian mudah mengabaikan sholat, demikian mudah melupakan Allah. Mari kita ingat-ingat kembali kisah hidup kita sedikit saja, bukankah biasanya kita hanya memberikan sisa waktu untuk sholat. Kadang kita merasa berat meninggalkan televisi namun begitu mudah melalaikan waktu maghrib. Bahkan tak jarang waktu sholat hampir habis, wudhu baru kita lakukan. Seakan-akan Allah hanyalah nomer sekian dari berbagai kesibukan duniawi kita. Seolah kita dibius untuk selalu tidak ada waktu untuk Tuhan, padahal waktu yang diperlukan sekitar 5-10 menit saja. Masya Allah...
Mudah-mudahan dengan kisah ini kita kembali tergugah untuk senantiasa menyambut seruan Ilahi dengan gembira dan lapang dada, mudah-mudahan kita sekalian termasuk dalam golongan hamba yang mukhlisin. Amien.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar