Minggu, 21 September 2008

Hari Keduapuluh Dua: Sedekah

Hari Keduapuluh Dua: Sedekah


Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al Baqoroh (2): 261-262)

“Mengapa”, kata seorang kaya kepada pelayannya, “Orang-orang mengatakan bahwa aku ini pelit, kikir. Padahal semua orang kan tahu kalau aku wafat nanti, aku akan memberikan semua yang aku punya kepada yayasan sosial dan panti asuhan?”

“Tuan akan saya ceritakan fabel tentang ayam dan sapi,” jawab pelayannya. “Sapi begitu populer, sedangkan ayam sama sekali tidak populer. Hal ini sangat mengherankan ayam. Kata ayam kepada sapi : ‘Orang-orang berkata kepadamu bahwa engkau begitu lembut dan matamu begitu memancarkan penderitaan. Orang-orang mengira bahwa engkau begitu murah hati, karena setiap hari engkau memberi mereka krim dan susu. Tapi bagaimana denganku? Aku memberikan semua yang aku punya. Aku berikan daging dan buluku. Bahkan mereka memasak dan membuat sup dengan kakiku untuk kaldu. Tapi tak seorang pun berkata seperti itu. Mengapa bisa begitu?’ ”

“Nah, Tuan. Apakah Anda tahu jawaban sapi?” kata pelayan.

Sang sapi berkata, ‘Mungkin karena aku memberikannya sewaktu aku masih hidup.”

Saudaraku, kisah di atas sengaja saya petik untuk membuka wacana kita tentang harta dan pemberian kita kepada orang lain (sedekah). Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah bahwasanya harta benda yang dimiliki oleh manusia itu bukanlah harta benda yang ia pegang saat ini. Namun yang ia miliki kelak adalah harta benda yang ia sedekahkan, ia dermakan di jalan Allah SWT. Mengapa? Karena harta benda yang kita miliki sekarang tidak akan mengikuti kita sebagai amalan di alam kubur dan hari akhir, namun akan menjadi milik keluarga kita, dan orang lain. Yang akhirnya benar-benar menjadi harta kita adalah harta yang telah kita dermakan di jalan Allah SWT, dan itulah teman kita di dalam kubur.

Saudaraku, pernah suatu ketika datang seorang wanita yang tangannya lumpuh terbakar meghadap kepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw bertanya apa gerangan yang terjadi dengan kedua tangannya? Lalu wanita ini menjawab bahwa semalam ia bermimpi dirinya berada di telaga Kautsar dalam surga. Lalu ia mengambilkan semangkuk air bagi para penghuni surga. Di tengah ia mengambilkan air bagi para penduduk surga ia melihat ke neraka dan ibunya tengah disambar api yang menyala-nyala. Tidak ada perlindungan apa pun manakala api menyambar tubuh ibunya, kecuali sekerat daging lemak yang digunakan untuk menutup sedikit tubuh. Wanita ini kemudian bertanya kepada ibunya, apa yang terjadi, dan mengapa hanya sekerat daging yang bisa dipergunakan ibunya sebagai perisai dari api neraka? Ibunya pun menjawab, bahwa dirinya dulu tidak pernah melakukan kebaikan apapun di dunia sehingga balasannya adalah neraka. Adapun sekerat daging itu adalah satu-satunya sedekah yang pernah ia berikan di jalan Allah, sehingga ia sekarang memiliki sedikit perisai dari api neraka. Kemudian sang ibu meminta putrinya memberinya seteguk air dari telaga Kautsar. Lantaran iba terhadap ibunya, wanita ini mengambilkan semangkuk air yang akan diberikan kepada ibunya. Namun tiba-tiba api neraka menyambar kedua tangannya sehingga terbakar dan lumpuh. Seketika ia terbangun dan mendapati kedua tangannya benar-benar terbakar dan lumpuh. Rasulullah membenarkan mimpi tersebut, dan mendoakan supaya tangan wanita ini sembuh. Dan tak berapa lama kemudian tangan wanita ini pun sembuh.

Saudaraku, jika teringat kisah di atas di atas saya jadi teringat tentang hakikat sebuah pemberian. Ada seorang petani jagung yang selalu mendapat hadiah utama dalam Perlombaan Tani Nasional, mempunyai kebiasaan membagi-bagikan biji jagung yang paling baik kepada petani-petani di sekitarnya. Ketika ditanya mengapa ia berbuat demikian, ia menjawab, “Sebenarnya saya melakukan ini untuk kepentingan saya sendiri. Angin menerbangkan serbuk-serbuk dan membawanya dari ladang ke ladang. Maka kalau petani-petani di sekitar saya menanam jagung yang kualitasnya lebih rendah, penyerbukan silang akan menurunkan mutu jagung saya. Itulah sebabnya saya memikirkan supaya mereka hanya menanam jagung yang paling baik.” Memang benar bahwa semua yang kita berikan untuk orang lain, hakekatnya adalah pemberian untuk diri kita sendiri.

Alangkah besarnya arti sedekah yang diikhlaskan di jalan Allah. Di dunia maupun di akhirat Allah pasti akan mengganti sedekah kita dengan yang lebih banyak, sebagaimana yang telah Allah terangkan dalam ayat di atas. Bahwa satu benih akan menghasilkan 7 bulir, dan tiap-tiap bulir akan menghasilkan 100 biji. Sekarang mari kita tanya diri kita masing-masing, apakah sifat dermawan sudah kita tanam dalam diri kita?

Saudaraku, mari kita simak bagaimana kedermawanan keluarga Khalifah Umar bin Abdul ‘Azis. Suatu pagi Khalifah Umar bin Abdul ‘Azis berkata pada pembantunya, bahwa dirinya ingin mensedekahkan sebidang tanah milik keluarganya untuk kepentingan kaum Muslim. Umar berencana mensedekahkan sebidang tanah itu esok hari.

Siang harinya, putra Umar mendengar berita bahwa ayahnya akan mensedekahkan tanah milik keluarga untuk kepentingan umat. Putra Umar segera bergegas menuju rumah ayahnya. Tetapi ia langsung dihalang-halangi oleh pembantu Umar, sebab Khalifah tengah beristirahat. Namun putra Umar tetap bersikeras hendak menemui ayahnya. Pembantu Umar pun demikian tegas tidak mengizinkan siapa pun mengganggu istirahat Khalifah. Mendengar ribut-ribut di depan pintu, Umar keluar dari rumah dan menyuruh putranya masuk.

“Ada apa, sehingga engkau ingin menemuiku?” tanya Umar.

“Ku dengar ayah ingin mensedekahkan tanah keluarga kita besok.”

“Ya benar, apakah engkau keberatan?”

“Tidak ayah, aku tidak keberatan jika tanah itu disedekahkan. Yang menjadi ganjalanku mengapa tanah itu harus disedekahkan besok. Apakah ayah tahu nasib ayah besok hari? Apakah besok kita masih hidup dan bisa mensedekahkan tanah kita? Mengapa tidak hari ini saja ayah mensedekahkan tanah itu? Jangan menunda-nunda sedekah ayah,” kata putra Umar.

Sang khalifah merasa terharu mendengar penuturan putranya, dan dengan segera ia memerintahkan pembantunya mengurus segala sesuatu untuk sedekah tanah tersebut.

Subhanallah, begitu mulia akhlak keluarga Umar bin Abdul ‘Azis. Contoh demi contoh keluarga Muslim yang begitu dermawan begitu banyak dalam sejarah Islam. Namun dari yang sedikit ini, mudah-mudahan akan mengingatkan dan menggiatkan kita untuk selalu bersikap dermawan. Melalui sifat dermawan ini pula umat Islam dididik supaya selalu tanggap terhadap lingkungan. Sifat sosial terbentuk dan kepekaan terhadap sesama semakin terasah.

Apa kata shodaqoh kita?

Derma (sedekah) bila keluar dari tangan pemiliknya akan berkata:

1. Semula aku adalah kecil, maka engkau telah membesarkan aku.

2. Semula engkau adalah penjagaku, maka sekarang aku menjadi penjagamu

3. Semula aku adalah musuhmu, maka sekarang engkau mencintai aku

4. Aku adalah sesuatu yang punah (habis), maka engkau menjadikan aku sesuatu yang kekal

5. Aku adalah bilangan yang sedikit, maka engkau jadikan aku jumlah bilangan yang banyak

Terakhir mari kita hayati bersama hadits nabi: “Sekiranya anak Adam memiliki sebuah bukit dari emas, niscaya dia akan lebih senang jika memiliki dua buah bukit emas. Dan tidak akan ada yang dapat menghentikannya dari sifat serakahnya, kecuali tanah” (HR. Bukhori dan Muslim).

Wahai Allah saksikanlah bahwa ini telah hamba sampaikan.

Tidak ada komentar: