Rabu, 17 September 2008

Hari Ketujuh: Bencana

Hari Ketujuh: Bencana

“Dari Allah telah membuat perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah memberikan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang telah mereka perbuat” (QS An Nahl (16):112)

Saudaraku, apa yang ada dalam benak kita manakala kita membaca ayat dari Al Quran tersebut. Rasanya kok pas sekali dengan kondisi negeri kita saat ini. Kita ditimpa bertubi-tubi kemalangan dan bencana padahal sebelumnya kita ternama di mata dunia, belum selesai bencana yang satu sudah datang bencana yang lain. Penduduk menjadi ketakutan dan selalu bereaksi secara berlebihan dalam menanggapi suatu issue. Perlu kita hayati, bencana yang datang merupakan ujian, cobaan ataukah adzab bagi kita. Selanjutnya mari kita simak Al Quran bercerita:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah (2):155-157).

Dengan ujian tersebut dapat dilihat siapakah di antara manusia yang lebih baik amalannya. Kita sebagai kaum Muslimin harus yakin bahwa semua bencana yang terjadi pada negeri ini adalah ujian dari Allah SWT.

Saya jadi teringat kisah sebuah kapal dalam sebuah pelayaran. Jika penumpang yang di bawah menginginkan air, kemudian mengambil jalan pintas dengan melubangi kapal untuk mengambil air. Dan penumpang yang tahu tapi tidak mau melarang atau mencegah penumpang yang mengambil jalan pintas itu. Kira-kira apa yang akan terjadi? Tentunya kapal menjadi bocor. Lantaran kebocoran itu lama-lama kapal menjadi oleng dan tenggelam. Siapakah yang mendapat dampak akibat ulah sekelompok penumpang yang melubangi kapal itu? Tentu saja seluruh penumpang akan terkena dampaknya. Seluruh penumpang akan turut tenggelam bersama kapal itu. Saudaraku, apakah kejadian serupa terjadi pada negeri ini? Kita tahu banyak kejahatan terjadi di sekitar kita, kita tahu banyak korupsi berlaku di negeri kita, dengan alasan sudah biasa atau sudah budaya dan kita membiarkan itu semua terjadi di depan kita. Tanpa kita mampu menahan atau melarang atau bahkan –Naudzubillah- jika ternyata justru kita ikut berbuat kejahatan. Jika kejahatan, kemaksiatan, perbuatan keji yang terjadi kemudian didiamkan saja. Yang terkena dampak adalah seluruh penduduk entah itu orang tua, anak-anak, wanita, orang muda dan lain-lain yang tinggal di situ. Dan mudah bagi Allah untuk membalikkan bumi yang sedang kita pijak ini, mudah bagi Allah untuk menciptakan tsunami kedua yang tak kalah dahsyatnya dengan tsunami Aceh. Dalam Al Ahzab 17 dilukiskan:
“Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki musibah atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.”

Saudaraku, ingatkah kisah kaum Tsamud, kaum ‘Ad dan lain-lain. Bencana yang saat ini selalu kita pikir akibat pergeseran lempeng tektonik atau perubahan cuaca ternyata selalu berhubungan dengan sifat umat manusia yang ada di bumi. Kaum Tsamud, kaum ‘Ad dimusnahkan Allah dengan perantaraan bencana lantaran sikap mereka yang enggan menerima kebenaran agama Allah SWT. Di samping itu, Allah sengaja memisahkan orang-orang yang benar-benar beriman dengan mereka yang di dalam hatinya ada penyakit. Mari kita simak Al Quran bercerita:

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. “ (QS Al Ankabut (29): 1-5)

Saudaraku, sebelum semua terlambat. Dan kita menyesal setelah nanti kita ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, mari segera kita koreksi diri jika ternyata kita masih berbuat kejahatan. Dan jika sudah tidak melakukan kejahatan marilah kita seru sekalian saudara kita yang lain dengan cara yang terbaik supaya mereka berhenti berbuat maksiat.

Tidak ada komentar: