Hari Kesembilanbelas: Rintangan
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS At Taghobun (64): 11)
Ada sekelompok musafir melewati sebuah hutan. Di tengah asyiknya perjalanan, tiba-tiba di hadapan mereka ada sebuah pohon tumbang melintang di jalan. Tampaknya badai petir semalam telah merubuhkan pohon itu. Kelompok musafir itu mengutuki rintangan itu sambil meneruskan perjalanan. “Alangkah menyebalkan, pohon itu membuat keledai-keledai ini kesulitan merangkak.” Yang lain mengiyakan, “Coba bayangkan, aku tadi harus turun dari keledaiku dan harus menuntunnya.” Begitulah mereka melanjutkan perjalanan sambil terus berkeluh kesah.
Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah sungai. Alangkah terkejutnya mereka karena jembatan penghubung itu telah hilang. Tampaknya lagi-lagi badai petir tadi malam telah menyebabkan sungai itu meluap sehingga menghanyutkan jembatan kokoh yang menghubungkan kedua tepian sungai. Sekali lagi mereka berkeluh kesah, dan mengutuki kejadian itu. Lalu salah seorang yang arif di antara mereka menenangkan rombongan itu sambil berkata, “Mari kita kembali ke pohon besar yang tumbang tadi.” Seseorang berkata, “Untuk apa kita kembali ke sana?” Jawab orang yang arif, “Mestinya dengan pohon itu kita bisa membentuk sebuah jembatan pengganti. Jika kita kerjakan sekarang secara marathon insya Allah besok pagi kita sudah bisa menyeberang berikut keledai dan dagangan kita.”
Maka beramai-ramai rombongan itu mengerjakan sebuah jembatan baru. Tidak lama berselang, jembatan itu rampung dan mereka dapat menyeberang dengan selamat.
Saudaraku, ada kalanya halangan, rintangan yang kita anggap sebagai penyebab kegagalan, penyebab kesulitan kalau dapat kita kelola dengan baik justru akan menjadi cambuk dan kita akan mendapatkan kesuksesan karenanya. Jangan pernah menyangka bahwa seorang pahlawan selalu meraih prestasi-prestasinya dengan mulus atau bahkan tidak mengenal kegagalan. Kesulitan-kesulitan adalah rintangan yang diciptakan oleh sejarah dalam menuju kepahlawanan. Membebaskan kota Konstantinopel bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pemuda berusia 23 tahun setangguh Muhammad al Fatih Murad. Pembebasan pusat kekuasaan Imperium Romawi itu, kata orientalis Hamilton Gibb adalah sebuah mimpi delapan abad dari kaum Muslimin. Semua serangan gagal meruntuhkan perlawanan kota itu sepanjang abad-abad itu. Dan serangan-serangan awal Muhammad al Fatih Murad juga mengalami kegagalan. Kegagalan itu sama dengan kegagalannya sebagai pemimpin negara ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan padanya. Tapi kemudian ternyata Muhammad al Fatih kemudian berhasil merebut kota itu.
Seorang pahlawan tidak pernah menganggap dirinya Superman atau Malaikat. Ia tetaplah manusia biasa. Dan kegagalan merupakan bagian dari tabiat hidup manusia, maka ia ‘memaafkan’ dirinya untuk kegagalan itu. Tapi ia tidak berhenti sampai di situ. Kegagalan adalah objek penghalang yang harus dipelajari untuk kemudian diubah menjadi pintu kemenangan. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya dan jangan memandang sesuatu hanya dari satu sisi kemudian melupakan sisi lainnya. Sebab boleh jadi apa yang tampak buruk bagi kita ternyata merupakan suatu kebaikan bagi kita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar