Hari Keempat: Kisah Pemuda Dengan Sebatang Pohon
Saudaraku, ada sebuah kisah tentang seorang pemuda dengan sebatang pohon. Ada seorang pemuda yang gemar sekali melakukan perbuatan maksiat. Hampir seluruh hari-harinya ia isi dengan perbuatan durhaka kepada Allah. Mulai dari menenggak minuman dan obat-obatan terlarang, hingga mendatangi kompleks pelacuran. Mencuri dan merampok bila perlu, meja perjudian pun telah mengenalnya dengan baik. Kritik dan nasihat telah banyak diberikan padanya namun tak ada satu pun yang mengena di hatinya.
Ayahnya sendiri pun kewalahan mengahadapi sikap durhaka anaknya. Ribuan kali ayahnya memberikan nasihat, ribuan kali sang pemuda selalu beralasan untuk menolak. Dengan alasan ayah sudah kuno-lah, ayah kampungan-lah, ketinggalan zaman-lah dan lain-lain. Tak jarang sang anak membalas nasihat ayahnya dengan perlakuan kasar. Sang ayah yang sudah tua itu pun hanya bisa menghela nafas.
Suatu hari ayahnya berkata, “Nak, bapak sudah ribuan kali menasihatimu. Mungkin engkau sudah bosan dengan omongan bapak. Baiklah mulai sekarang, lakukan apa saja yang engkau sukai. Bapak tidak akan mencampuri urusanmu lagi. Hanya saja sekarang bapak akan menancapkan 1 buah paku dalam pohon ini setiap kali ayah dengar engkau berbuat maksiat. Dan bapak akan mencabut paku itu jika engkau berbuat baik dan bertaubat.”
Si anak tetap tidak mengindahkan kata-kata ayahnya. Dan si ayah memaku pohon setiap kali anaknya berbuat dosa dan pelanggaran. Dengan berlalunya waktu, semakin banyak pula paku yang tertancap di pohon itu.
Di suatu sore, ketika si pemuda hendak berkumpul dengan rekan-rekannya di suatu klub malam, ia mengamati pohon yang selama ini dipaku ayahnya. Seketika ia menggigil, ia melihat hampir seluruh pohon itu telah tertanam paku. Ada yang sudah bertahun-tahun menancap di situ hingga berkarat, ada pula yang masih baru. Seperti disambar petir pemuda ini jatuh lunglai. Air mata mengalir tanpa terasa, dan bayangan dosa yang telah ia kerjakan begitu besar dan menumpuk. Kemudian seperti anak kecil pemuda ini menangis meraung-raung, menyesali seluruh perbuatannya yang lalu. Ayahnya yang memperhatikan kejadian itu segera membimbing putranya untuk kembali bertaubat.
Sejak saat itu si pemuda berubah 180 derajat. Ia tidak lagi membawa botol minuman, melainkan Kitab Suci Al Quran, ia tidak lagi mendatangi klub malam dan meja judi namun ia mendatangi majelis taklim dan agama. Ia tidak lagi dikenal sebagai ahli maksiat, melainkan ahli ibadah. Ia telah bertaubat. Ia ingin mengganti setiap waktu dan rupiah yang dulu ia gunakan untuk berbuat dosa dengan beribadah kuat sepanjang waktu.
Ayahnya merasa lega dan bahagia, dan ia pun senantiasa mencabut 1 buah paku dari pohon setiap kali putranya berbuat kebajikan atau beribadah. Hingga paku yang tersisa di pohon itu tinggal sedikit Namun hal ini tidak serta merta membuat si pemuda merasa bahagia. Ia masih saja tetap murung dan tampak tidak nyaman. Ada apa gerangan, pikir ayahnya. Kemudian sang ayah bertanya apa yang membuat dirinya selalu murung dan tidak nyaman.
Dan jawaban putranya, “Ayah, dulu aku seorang kriminal dan tak henti-hentinya berbuat dosa. Lalu ayah mengingatkanku dengan perumpamaan paku yang ayah tancapkan dalam pohon itu. Lalu hidayah Allah datang padaku, dan alhamdulillah aku telah kembali. Satu per satu paku itu ayah cabut, manakala aku bertaubat, berbuat kebajikan dan beribadah. Aku tahu ini adalah perumpamaan bahwa perbuatan baik akan menghapus perbuatan jahat sebagaimana diterngkan dalam hadits. Saat ini yang membuatku bersedih adalah bekas luka di pohon itu. Tidakkah ayah lihat bahwa pohon itu berlubang-lubang bekas paku itu, ada juga yang telah berkarat. Hingga bagaimanapun juga masih meninggalkan bekas yang menganga dan berkarat. Ayah, tidakkah pohon itu seperti hatiku? Perbuatan jahatku seperti halnya aku menanam paku dalam hatiku. Dan perbuatan buruk yang aku tumpuk-tumpuk bertahun-tahun lamanya telah menjadi karat dalam hatiku. Seandainya bisa aku hapus pun tetap masih meninggalkan bekas luka. Itulah yang membuatku selalu bersedih ayah. Masihkah Allah menerima taubatku ayah?”
Sang ayah terharu mendengar penuturan anaknya, “Anakku, ketahuilah sifat rahim Allah jauh di atas kemurkaan-Nya. Insya Allah, Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya berapa pun besar dosanya. Ingatlah firman Allah “...Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semunya...”
Saudaraku, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah di atas? Ya kita bisa melihat bahwa 1 pintu kejahatan akan membuka pintu kejahatan yang lain. Demikian juga dengan 1 pintu kebaikan akan membuka 1 pintu kebaikan yang lain. Oleh karenya jika kita lalai, segeralah tutup pintu durhaka dan kembali kepada Allah. Dengan demikian kita akan selalu mendapatkan hidayah. Lalu harus kita ingat pula, bahwa hati kita itu ibarat kaca atau pohon.Sebutir debu yang menempel di kaca jika tidak segera dibersihkan bisa menjadi karat dan akan sulit bagi kita untuk menghapusnya di kemudian hari. Apalagi jika debu-debu itu kita biarkan bertumpuk-tumpuk. Bagaiamana kita menghapusnya?
Saudaraku, Rasulullah saw yang dijamin masuk surga saja senantiasa membaca istighfar sehari semalam 70 -100 kali. Bagaimana dengan kita? Padahal dengan beristighfar dosa-dosa kecil yang kita telah kita perbuat baik kita sadari atau tidak akan luruh laksana air membersihkan cermin.
Ingatlah bahwa seseorang tersandung/terjungkal bukan karena ia terantuk gunung atau batu karang. Tapi ia terjungkal karena sandungan batu kecil dan tergelincir karena kerikil. Mungkin kita tidak pernah melakukan dosa besar seperti membunuh, berzina, dan keluar dari agama Islam. Namun kita sering tidak sadar, bahwa dosa-dosa kecil sering kita kerjakan. Melihat aurat lawan jenis baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya melalui layar tv, bergunjing –baik langsung mupun lewat sms-, korupsi waktu, melalaikan ibadah maghrib demi acara sinetron dan lain-lain. Dosa-dosa kecil inilah justru yang sering menggelincirkan manusia.
Tidak selamanya orang jahat akan berbuat jahat selamanya. Hati manusia bisa diibaratkan seperti pendulum yang bergerak, secara fitrah ia ingin kembali ke tengah lagi. Jangan pernah menghakimi seseorang dengan klaim bahwa Allah sudah tidak akan pernah mengampuni dosa-dosanya. Berapa banyak ulama salaf yang dulunya adalah bekas kriminal di masanya. Sebut saja Ibrahim bin Adham, Fudail bin Iyadh, Utbah Al Ghulam. Dan mereka justru menjadi ulama setelah melewati masa suram sebagai kriminal.
Jangan pernah berfikir bahwa pintu taubat telah tertutup. Terakhir, mari kita simak Al Quran menentramkan hati kita.
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az Zumar (39): 53)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar