Hari Keduapuluh Tiga: The Positive Thinking
Suatu hari datang seorang teman kepada saya mengeluhkan tentang rumah tangganya yang kurang harmonis. Istrinya selalu saja marah-marah. Kadang karena hal sepele, urusannya menjadi besar. Tidak ada katentraman di rumah, katanya. Lain lagi dengan teman saya yang lain. Ia selalu mengeluhkan rekan kerjanya yang ia anggap selalu kurang terampil, ceroboh, pemalas dan lain-lain. Akibatnya ia kerap bertengkar dengan mereka, dan yang lebih buruk lagi terkadang ia tidak bisa naik jabatan karena persoalan-persoalan itu. Dua kawan saya di atas adalah orang-orang cerdas, buktinya mereka lulus dengan predikat memuaskan. Namun apa yang terjadi? Rumah tangga dan lingkungan kerja yang seharusnya menjadi surga, ternyata telah menjadi “neraka” bagi mereka.
Saudaraku, kasus-kasus seperti di atas sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita. Dan kadang tanpa kita sadari, ternyata kita sendiri juga sering terseret dalam konflik-konflik semacam itu. Gara-gara konflik-konflik itu, karier kita menjadi terhambat, rumah tangga dan persahabatan menjadi goyah, dan lain-lain.
Saudaraku, sebelum kita melihat lebih jauh kasus di atas, marilah kita simak sejenak kisah salah seorang sahabat Nabi yang telah dijamin masuk surga. Pada suatu hari, Rasulullah saw, seperti biasa setelah sholat Ashr memberikan taklim kepada sahabat-sahabatnya. Di tengah memberikan taklim, tiba-tiba Rasulullah berkata, “Dari arah sini akan datang seorang ahli surga.” Para sahabat serentak memandang ke arah yang ditunjukkan Nabi saw. Ternyata yang datang adalah seorang lelaki, setelah mengucapkan salam ia segera wudhu, sholat dan pulang. Di hari berikutnya, Rasulullah memberi taklim kepada sahabat, lagi-lagi Rasulullah berkata, “Dari arah sini akan datang seorang ahli surga.” Tak lama kemudian orang yang kemarin muncul dan mengerjakan sholat di masjid kemudian pulang. Abdullah bin Umar ra penasaran dengan orang ini. Apa keistimewaanya sehingga Rasulullah menyebutnya sebagai ahli surga. Lantas Abdullah bin Umar mencegat orang ini dan berkata ingin menginap di rumahnya barang 2-3 hari dengan alasan bahwa Abdullah bin Umar tengah bertengkar dengan ayahya. Sang ahli surga ini mengizinkan Abdullah menginap di tempatnya. Kemudian selama 3 hari itu Abdullah mengamati ibadah khusus apa yang dikerjakan sahabat ini, tapi ternyata tidak ada yang istimewa. Kadang ia bangun malam, kadang tidak. Lantas apa yang membuatnya istimewa? Pada hari ketiga, Abdullah berterus terang bahwa ia sebenarnya tidak sedang bertengkar dengan ayahnya, ia datang ke situ lantaran mendengar Rasulullah menyatakan bahwa ia adalah ahli surga. Amalan istimewa apa yang ia kerjakan sehingga ia menjadi ahli surga. Kemudian sahabat ahli surga ini berkata, “Seperti yang kau lihat, ibadahku mungkin biasa-biasa saja. Mungkin yang menjadi keistimewaan adalah karena aku sedikit pun tidak pernah berburuk sangka terhadap orang lain.”
Saudaraku, sebagian besar dari kita selalu mendahulukan jeleknya dulu, baru baiknya. Ada orang yang datang ke rumah, kita sudah buru-buru berpikir jangan-jangan dia mau pinjam uang. Ada SMS masuk, kita berpikir jangan-jangan ada persoalan gawat. Jarang sekali kita berpikir sebaliknya yaitu berpikir positif. Padahal berpikir positif akan menumbuhkan rasa syukur, menjauhkan kita dari prasangka, buruk sangka, cemas, takut, dan lain-lain yang negatif lainnya. Kita cenderung suka menyalahkan orang lain, bahwa orang lain keliru, ceroboh, salah, malas, dan lain-lain. Kita selalu suka menghitung kesalahan orang lain, kemudian kita berghibah dengannya. Dan itulah produk-produk dari selalu berpikir negatif.
Pernahkah suatu saat kita berpikir tentang kebaikan orang lain terhadap kita? Pernahkah kita bandingkan antara kebaikannya dan kesalahannya kepada kita. Bisa kita hitung, mungkin seseorang memang telah berbuat kesalahan kepada kita, namun berapa kali ia telah berbuat kebaikan untuk kita baik yang kita sadari atau tidak? Pernakah suatu saat kita membuat daftar kebaikan dan kesalahan istri kita? Mulai dari mencuci, memasak, mendidik anak-anak kita, menjaga harta kita, menjaga kehormatan keluarga dan lain-lain. Pejamkan mata sejenak, bacalah supaya hati menjadi teduh dan tulislah kebaikan-kabaikan orang lain kepada kita. Subhanallah ternyata kebaikan-kebaikan orang lain lebih banyak dari pada kesalahannya.
Saudaraku, Nabi pernah bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sabagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR Muslim). Kita umat Islam yang meneladani Rasulullah seharusnya selalu berpikir secara positif, sebagaimana junjungan kita Rasulullah juga senantiasa berpikir positif. Rasulullah dan seluruh keluarganya hidup dalam kekurangan, namun beliau saw tidak pernah risau dan resah karenanya. Tidak jarang beliau berpuasa sunnah lantaran memang tidak ada makanan di rumah. Beliau juga tidak marah ketika harus tidur di halaman rumah lantaran pulang kemalaman dan pintu rumah sudah dikunci oleh Aisyah ra. Nabi juga tidak mendoakan keburukan seorang lelaki yang nyata-nyata selalu melemparinya dengan kotoran unta. Bahkan ketika lelaki ini jatuh sakit, Rasulullah-lah yang pertama kali menjenguknya dan mendoakan kesembuhannya. Rasulullah juga tidak marah ketika ada seorang Arab Badui yang kencing dalam masjid, lantaran memang Arab Badui tadi memang belum tahu adab di dalam masjid. Sekiranya Rasulullah mendahulukan pikiran negatifnya tentu Rasulullah akan marah dan memerintahkan para sahabat menghukum Badui tadi. Ketika Rasulullah berdakwah di Thoif, bukan simpati penduduk Thoif yang Beliau terima melainkan lemparan batu, cemoohan, siksaan dan dari kejaran penduduk Thoif yang hendak mengusirnya. Jibril as berseru kepada nabi supaya nabi berdoa kepada Allah, dan Jibril diberi izin untuk melumatkan penduduk Thoif dengan membalikkan gunung ke negeri itu. Namun apa jawab Rasulullah? “Jangan, mereka berbuat seperti itu karena mereka belum tahu.” Bayangkan jika saat itu Rasulullah mendahulukan berpikir negatif, tentu saja beliau akan menerima tawaran Jibril dan melumat penduduk negeri Thoif ke dasar bumi. Namun beliau SAW mengajarkan kepada umatnya untuk mendahulukan berpikir positif.
Saudaraku, jika suatu saat kita bertengkar dengan istri, suami atau rekan kita, entah mengapa segala sesuatu setelahnya selalu tampak salah dan seolah-olah mempermainkan kita. Cuaca yang tiba-tiba mendung, jalanan yang macet dan ban mobil kempes, dan lain-lin. Seakan-akan kita dirundung kemalangan terus. Bandingkan jika kita bangun pagi, kemudian mengucapkan Alhamdulillah dan berterimakasih kepada Allah SWT atas nikmat-nikmat-Nya. Menyapa istri dan anak-anak dengan lembut, menghirup wanginya pagi hari. Ketika mendung datang, kita merasakan titik-titik hujan seakan membelai bumi, suatu nikmat dari Allah SWT. Dan di sela-sela hujan ini kita berdoa, karena kita ingat bahwa di kala hujan turun para malaikat yang membawa rahmat Allah juga turun. Ketika jalanan macet, kita berdzikir, lapar, haus, dan lelah kita pun seakan hilang. Subhanallah, begitulah kekuatan berpikir positif. Sepanjang kita terus berpikir positif, kita akan mendapati hal-hal baik sesudahnya, walaupun sebenarnya bagi orang lain hal tersebut merupakan cobaan.
Saudaraku, sebelum kita akhiri topik kali ini saya ingin menukilkan sebuah kisah tentang penumpang dalam bus. Ada serombongan penumpang di dalam sebuah bus. Bus ini melaju melewati ngarai yang indah, pematang-pematang sawah dengan padinya yang menguning, sungai yang jernih di sisi jalan, bunga-bunga liar yang mekar dengan cantiknya di sepanjang jalan dan gunung yang berkilauan diterpa cahaya matahari. Semua keindahan alam ini seakan turut mengiringi perjalanan bus ini dari awal hingga akhir perjalanan. Namun sayangnya, tirai bus dalam keadaan tertutup rapat. Sehingga keindahan yang disuguhkan seakan lenyap begitu saja. Di dalam bus itu, para penumpang berebut duduk di kursi yang paling depan, berebut duduk di kursi kehormatan.
Begitulah kehidupan manusia yang hidup tanpa ruh, tidak pernah berpikir positif. Orang yang berpikir negatif akan selalu berpikir bahwa ia-lah yang paling benar, paling pantas menduduki jabatan tertentu. Orang lain yang dicurigai, orang lain selalu salah. Orang seperti ini tidak bisa melihat ke samping kanan dan kiri. Padahal keindahan panorama alam demikian menakjubkan, padahal bersaudara lebih mulia daripada perpecahan. Saudaraku mari kita rubah paradigma pola pikir negatif -jika ada dalam diri kita- menjadi paradigma berpikir positif. Insya Allah kebaikan-kebaikan akan selalu menyertai kita. Wallahu a’lam bishowab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar